Rabu, 01 Sep 2021 21:00 WIB

Dear Pasutri, Ini Deretan Fakta Gagal Orgasme Termasuk Penyebabnya

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Young female holding hands sensually on red silk bed. Foto: iStock
Jakarta -

Orgasme merupakan aktivitas seksual yang dilakukan seseorang untuk memuaskan hasrat seksualnya. Namun, bagaimana jika seseorang gagal mencapai orgasme? Apakah hal tersebut mungkin terjadi?

Dikutip dari Womens Health, Rabu (01/09/2021), seksolog Jess O'Reilly, PhD menjelaskan bahwa hal itu mungkin terjadi dan dialami seseorang.

"Orgasme yang gagal umumnya mengacu pada orgasme yang tidak terlalu menyenangkan," jelas

Namun, bukan berarti orgasme yang gagal tidak bisa dilanjutkan. O'Reilly menjelaskan, orgasme yang rusak atau gagal justru bisa berujung pada aktivitas seksual yang lebih bervariasi dengan mengandalkan kekuatan dan kontrol.

Saat gagal orgasme, seseorang cenderung melakukan cara atau metode lain untuk mencapai klimaksnya. Berikut fakta terkait orgasme yang gagal:

Bagaimana gagal orgasme terjadi?

Orgasme yang gagal terjadi saat seseorang mendapat rangsangan atau stimulasi tanpa henti, tetapi saat mencapai klimaks, stimulasi tersebut berhenti sehingga tidak bisa mencapai orgasme.

"Jika seseorang biasanya mendapat stimulasi tepat sebelum atau selama orgasme untuk meningkatkan kenikmatan, saat itu mungkin berhenti (atau disuruh berhenti) beberapa detik lebih awal, sehingga mengalami kontraksi otot, dan mungkin ejakulasi yang cenderung menyertai orgasme, tetapi bukan mencapai klimaks," ujar O'Reilly.

Apakah sama dengan menahan orgasme?

Orgasme yang gagal mungkin terdengar seperti menahan orgasme dengan tujuan untuk mencapai orgasme berkali-kali atau memuaskan hasrat seksual. Namun, orgasme gagal berbeda dengan menahan orgasme.

"Menahan orgasme umumnya mengacu pada membangun kesenangan melalui puncak kesenangan," kata O'Reilly.

Lebih lanjut, O'Reilly menjelaskan menahan orgasme sering kali bertujuan untuk mencapai puncak kemudian mendapatkan orgasme yang lebih menyenangkan, sehingga sangat berbeda dari berkurangnya kenikmatan yang dirasakan saat gagal mencapai orgasme.

Senada dengan O'Reilly, Janet Brito, PhD, seorang psikolog klinis dan seksolog di Honolulu setuju bahwa dua hal tersebut berbeda.

Menurut Brito, meski pada dasarnya menahan orgasme dan gagal orgasme terjadi akibat stimulasi atau rangsangan seksual yang tak henti, kemudian tidak mencapai klimaks, tetapi dalam kasus orgasme yang gagal, hal tersebut bertujuan untuk memperlambat orgasme dan mengurangi penumpukan.

Sementara saat menahan orgasme tujuannya adalah untuk meningkatkan kesenangan dan mendapatkan orgasme berkali-kali.

Intinya adalah, orgasme yang gagal terjadi saat seseorang mendapatkan stimulasi secara terus menerus tapi gagal mencapai orgasme.

Apakah itu berarti tidak bisa mencapai orgasme sama sekali?

Menurut O'Reilly orgasme gagal bukan berarti seseorang tidak mencapai orgasme, karena baginya, orgasme bersifat subjektif, tergantung bagaimana seseorang memaknainya.

"Jika kita mendefinisikan orgasme dengan pelepasan ketegangan yang menyenangkan yang sering disertai dengan kontraksi otot, sebagian orang mungkin mengatakan bahwa orgasme yang rusak bukanlah orgasme, karena tidak mengalami pelepasan yang menyenangkan," pungkas O'Reilly.

"Tetapi di sisi lain, seseorang mungkin mengalami kontraksi otot (atau ejakulasi jika memiliki penis) dan tidak mengalami kesenangan," ungkap O'Reilly.



Simak Video "Seks Anal dan Risiko Kesehatannya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)