Selasa, 26 Okt 2021 22:28 WIB

Sampai Ada yang Dinikahi, Sejak Kapan Manusia Mengenal Boneka Seks?

Syifa Aulia - detikHealth
TOKYO, JAPAN - JUNE 25:  Senji Nakajima watches TV with his Love Doll Saori at his apartment on June 25, 2016 in Tokyo, Japan. Senji Nakajima, 61 years old, lives with his life-size love doll named Saori in his apartment in Tokyo, Japan. Nakajima, married with two children, who lives away from home for work, first started his life with Saori six years ago. At first, he used to imagine as if the doll was his first girl friend, and used it only for sexual purposes to fill the loneliness, but months later, he started to find Saori actually has an original personality. She never betrays, not after only money. Im tired of modern rational humans. They are heartless, Nakajima says, for me, she is more than a doll. Not just a silicon rubber. She needs much help, but still is my perfect partner who shares precious moments with me and enriches my life.  (Photo by Taro Karibe/Getty Images) Ilustrasi boneka seks (Foto: Taro Karibe/Getty Images)
Jakarta -

Di berbagai negara, boneka seks mudah ditemukan untuk melampiaskan hasrat seksual. Di Indonesia, benda ini masih tabu untuk dibicarakan atau dimiliki.

Dikutip dari The Sun, Selasa (26/10/2021), boneka seks pertama kali dipromosikan pada abad ke-17. Boneka itu dijahit oleh pelaut Belanda untuk melampiaskan hasrat seksual selama bekerja di laut dalam waktu yang cukup lama.

Boneka seks pertama itu tercatat dalam buku seorang psikiater Iwan Bloch berjudul The Sexual Life of Our Time. Pada akhir tahun 60-an, penjualan boneka itu mulai diiklankan dalam majalah. Pembeli bisa memilih warna dan gaya rambut yang diinginkan.

Selama Perang Dunia 2, Adolf Hitler dikabarkan memerintahkan pasukannya agar menyiapkan boneka seks untuk dibawa pasukan Jerman yang berperang di garis depan. Proyek Borghild ini bertujuan untuk mengatasi penyebaran penyakit sifilis di antara pasukan Nazi.

Proyek ini terinspirasi dari memo Heinrich Himmler tahun 1940 yang menyebut ada penyakit sifilis di tempat prostitusi di Paris, Perancis. Para pengrajin kemudian mulai membuat boneka seks di bawah pengawasan Franz Tschackert di German Hygiene Museum.

Namun pada awal 2000-an, isu Hitler mendukung pembuatan boneka seks dianggap tidak benar. Sebab, tidak ada bukti yang membuktikan teori tersebut.

Mengapa orang menggunakan boneka seks?

Dikutip dari Psychology Today, pemilik perusahaan manekin, Matt McMullen, mengatakan kepada majalah Vice bahwa orang membeli manekin karena merasa kesepian atau korban patah hati.

Ia menyebut sejumlah klien bahkan meminta manekin tersebut dirancang untuk kegunaan seksual. Permintaan klien itu mendorong Matt untuk menciptakan boneka seks dengan teknologi AI (artificial intelligence).

"Saya pikir jika [AI] berkembang menjadi sangat baik, orang tidak lagi harus terlibat dalam perdagangan manusia, itu bisa menjadi hal positif," kata Matt.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Seksolog Kritik Regulasi Pelarangan Sex Toys, Ini Alasannya..."
[Gambas:Video 20detik]