Sstt... Ini 4 Fase yang Terjadi dalam Tubuh Saat Bercinta

ADVERTISEMENT

Sstt... Ini 4 Fase yang Terjadi dalam Tubuh Saat Bercinta

Hana Nushratu Uzma - detikHealth
Jumat, 25 Nov 2022 05:00 WIB
Close up of female feet in under the sheets.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/santypan
Jakarta -

Banyak yang bertanya-tanya alasan ilmiah mengapa berhubungan seks terasa nikmat. Ternyata, pada 1960an peneliti seks William Masters dan Virginia Johnsons mengidentifikasi empat fase berbeda dari gairah seksual.

Dikutip dari Medical News Today, masing-masing fase memiliki efek uniknya tersendiri. Penelitian Masters dan Johnsons telah mengarah pada penggunaan umum dari keempat kategori ini untuk menjelaskan respons seksual pada tubuh:

Fase gairah atau kegembiraan

Pada fase ini, jaringan di penis, panggul, vulva, dan klitoris terisi darah. Kondisi ini meningkatkan sensitivitas saraf di area tubuh tersebut. Aliran darah ini juga memproduksi pelumas vagina atau transudat.

Otot di seluruh tubuh berkontraksi. Beberapa orang bernafas lebih cepat dan mengalami kulit merah akibat peningkatan aliran darah.

Fase plateau

Selama fase plateau, gairah seseorang mengalami peningkatan. Vagina, penis, dan klitoris menjadi lebih sensitif.

Gairah dan kepekaan pada fase ini akan mengalami fluktuasi. Gairah dan minat bisa menurun, meningkat, kemudian kembali menurun.

Fase orgasme

Seseorang bisa mengalami orgasme, dengan stimulasi dan kondisi mental yang tepat. Bagi sebagian besar wanita, rangsangan klitoris adalah cara tercepat dan paling efektif menuju orgasme.

Bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya jalan menuju orgasme. Pria mungkin membutuhkan stimulasi batang atau kepala penis yang berkepanjangan.

Umumnya, pria mengalami ejakulasi saat orgasme. Namun, ada juga pria yang mengalami orgasme tanpa ejakulasi.

Beberapa wanita juga mengalami ejakulasi saat orgasme. Meski demikian, kandungan pada cairan ejakulasi wanita masih menjadi
bahan penelitian.

Baik pria maupun wanita mengalami kontraksi otot yang intens selama orgasme. Pria mengalami kontraksi di rektum, penis, dan panggul, sementara wanita mengalami kontraksi di vagina, rahim dan rektum. Beberapa orang juga mengalami kontraksi di seluruh tubuh.

Fase resolusi

Setelah mengalami orgasme, otot-otot kembali rileks dan tubuh kembali ke keadaan sebelum terangsang (pre-arousal). Proses ini berbeda untuk pria dan wanita.

Meskipun sebagian besar pria tidak dapat mengalami orgasme segera setelah ejakulasi, banyak wanita yang bisa. Selama tahap resolusi, sebagian besar pria dan wanita mengalami periode refraktori.

Pada periode ini, orang cenderung abai terhadap rangsangan seksual.

Model lainnya

Beberapa penelitian lain telah mengusulkan model alternatif untuk resolusi. Circular model (Karen Brash McGreer dan Beverly Whipple) menunjukkan bahwa pengalaman seksual yang memuaskan bagi seorang wanita dapat segera mengarah pada pengalaman serupa lainnya.

Penelitian lainnya dari Rosemary Basson yakni model respons seksual wanita nonlinier. Model ini menunjukkan bahwa perempuan berhubungan seks, karena berbagai alasan dan respons seksual mereka mungkin tidak berjalan sesuai tahapan yang dapat diprediksi.

Bagi sebagian wanita, klitoris titik merupakan awal kenikmatan seksual. Klitoris memiliki ribuan ujung saraf yang membuatnya sangat sensitif.

Bagian klitoris meluas jauh ke dalam vagina, sehingga memungkinkan beberapa wanita untuk mendapatkan rangsangan klitoris tidak langsung melalui rangsangan vagina. Sementara bagi pria, kepala penis mirip dengan klitoris karena seringkali merupakan area yang paling sensitif.



Simak Video "Cegah Cacar Monyet, WHO Minta Masyarakat Hindari Seks Bebas"
[Gambas:Video 20detik]
(hnu/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT