Minggu, 18 Mar 2018 11:20 WIB

Kisah Rahma, Disangka Guna-guna Sampai Ditolak Calon Mertua karena Kusta

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rahma ditolak oleh orang tua kekasihnya karena dianggap masih sakit kusta. (Foto: Suherni Sulaeman/detikHealth) Rahma ditolak oleh orang tua kekasihnya karena dianggap masih 'sakit' kusta. (Foto: Suherni Sulaeman/detikHealth)
Gowa - Saat itu, pada tahun 2001, sekolah dasar di sebuah desa didatangi oleh segerombolan petugas puskesmas untuk memeriksakan bercak. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan beberapa murid yang terdiagnosis kusta, salah satunya seorang murid perempuan kelas 5 SD (sekolah dasar).

Ya, murid perempuan kelas 5 SD itu adalah Rahmawati yang kini sudah berusia 26 tahun. Ketika itu rupanya Rahma kedapatan bercak di telinga. Ia lantas dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan selama satu tahun.

Setelah pengobatan selesai di tahun 2002, sayang Rahma tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya lantaran efek obat yang bikin kulitnya menjadi hitam kemerah-merahan. Ia mengaku malu pada teman-teman, sehingga membuat dirinya meninggalkan bangku pendidikan.

"Jadi saya berpikir selesai pengobatan dengan kulit yang sudah berubah baru saya lanjut SMP. Bukannya sembuh, tahun 2004 timbul yang namanya reaksi, saya juga tidak tahu namanya anak-anak belum tahu kebersihan," tutur Rahma saat ditemui detikHealth di Puskesmas Kanjilo, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Menariknya, pada saat reaksi tersebut keluarga bukannya membawa Rahma ke puskesmas melainkan membawanya ke orang pintar atau dukun. Karena mereka beranggapan bahwa penyakit kusta ini adalah bagian dari praktik ilmu hitam atau guna-guna.

"Jadi kan umur satu tahun sudah ditinggal mama, jadi saya diurus sama nenek dan punya tante yang dijodohkan sama suaminya, tapi mereka berpisah. Kemudian itu dianggap guna-guna oleh keluarga saya dan saya yang kena," ucap Rahma.

"Pada saat itu saya mengalami lumpuh selama tiga tahun. Cuma bisa tidur di atas tempat tidur beralaskan daun pisang karena keluar sebuah benjolan bernanah, sehingga saya berpikir saat itu apakah saya masih bisa sembuh. Apa saya makan bisa seperti orang lain yang bisa jalan ke mana-mana," kenang Rahma dengan mata berkaca-kaca.

Kemudian, di tahun 2007 ia kembali ke puskesmas dan berobat selama enam bulan. Saat selesai pengobatan pada tahun 2008, usianya sudah menginjak 16 tahun sehingga ia tidak merasakan masa kecil karena kusta.

"Jadi saat pergi penyuluhan saya bilang ke orang-orang kalau saya nggak lanjut pendidikan karena kusta tapi mendapatkan lebih karena kusta pula. Karena di Permata (Perhimpunan Mandiri Kusta) saya diberikan pendidikan yang sangat luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan," ungkap Rahma.

Apalagi, berkat penyakitnya tersebut ia justru bisa memijakkan kaki ke berbagai tempat yang tidak pernah ia pikirkan dan ia bayangkan sebelumnya. Rahma mengatakan karena kusta ia bisa bolak-balik naik pesawat.

"Tiga kali naik pesawat. Solo, Surabaya dan Yogyakarta dalam rangka pelatihan kapasitas dan kemandirian," ucapnya.

"Saya masih bersyukur karena tidak mengalami yang namanya disabilitas. Banyak di luar sana, orang-orang yang dikucilkan, stigma. Saya tidak pernah distigma sama keluarga. Kadang ada stigma di tetangga tapi tidak seberapa," ucapnya lagi.

Ternyata penderitaan Rahma belum habis sampai di situ. Meski sudah dinyatakan sudah sembuh namun Rahma terpaksa harus meninggalkan sang kekasih lantaran orang tua kekasih tak merestui hubungan mereka.

"Stigma orang kusta itu kalau seorang perempuan, kata orang nggak ada yang melamar karena kusta. Sampai akhirnya orang tuanya menelepon saya baik-baik 'Nak, sembuhkan penyakitmu dulu. Kalau memang ada jodoh, pasti bersatu'. Padahal saya sudah sembuh," papar Rahma

"Tapi itu tidak membuat saya down, karena bukan cuma dia, masih banyak yang bisa menerima saya apa adanya," tutup Rahma dengan tegar.

Simak juga penuturan Rahma di video ini:

[Gambas:Video 20detik]



(hrn/up)
News Feed