Rabu, 21 Mar 2018 19:05 WIB

True Story

Kisah Binsar Berbulan-bulan Jalan Kaki ke Rumah Sakit demi Sembuhkan TBC

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Binsar berjalan kaki demi kesembuhannya. Foto: M Reza Sulaiman/detikHealth Binsar berjalan kaki demi kesembuhannya. Foto: M Reza Sulaiman/detikHealth
Topik Hangat Hari TB Sedunia 2018
Jakarta - Binsar Manik tak menyangka penyakit tuberkulosis (TBC) yang dialaminya sewaktu muda kembali menyerang saat dewasa. Tak tanggung-tanggung, TBC atau biasa juga ditulis TB yang dialaminya adalah multi-drug resistance tuberkulosis (TB) yang tak mempan diatasi dengan obat biasa.

Pria 38 tahun ini pertama kali terserang penyakit TB pada tahun 1997, saat dirinya masih mengenyam bangku sekolah. Batuk-batuk, demam, dan lemas yang menjadi gejala utama TB membuatnya harus meninggalkan bangku sekolah.

"Karena sakit, tidak bisa sekolah. Akhirnya orang tua bawa saya berobat di klinik. Dulu berobat TB belum gratis seperti sekarang, setiap minggu harus bayar obatnya," ungkap pria kelahiran Medan, Sumatera Barat ini, dalam acara Peduli TBC, Indonesia Sehat di Stasiun Jakarta Kota, Rabu (21/3/2018).

Akibat keterbasan biaya dan kurangnya pemahaman soal penyakit TB, Binsar tidak menuntaskan pengobatan. Ia hanya berobat selama 3 bulan, dan merasa tubuhnya fit, akhirnya memilih untuk bekerja.

Kehidupannya boleh dikatakan normal, hingga ia kembali mengalami kekambuhan pada tahun 2009. Binsar sering batuk darah, badannya lemas dan berat badannya turun drastis. Sempat merantau ke Jakarta, ia pun kembali pulang kampung ke Medan.

Di Medan, Binsar kembali berobat. Tak disangka, diagnosis dokter menyebut Binsar mengalami MDR-TB dan diharuskan pergi ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Kisah Binsar yang harus berjalan kaki kurang lebih 10 Km untuk berobat.Kisah Binsar yang harus berjalan kaki kurang lebih 10 Km untuk berobat. Foto: M Reza Sulaiman/detikHealth

"2010 Kembali ke Jakarta. Orang tua saya bisa dikatakan pesimis saya bisa bertahan hidup karena kondisinya saya sering batuk darah banyak banget," tambahnya.

Saat pengobatan MDR-TB inilah, Binsar benar-benar merasa diuji. Efek samping pengobatan ditambah kondisi penyakitnya yang parah membuat Binsar harus berhenti bekerja.

Dalam posisi ekonomi yang sulit, ayah tiga anak ini bahkan rela jalan kaki dari rumahnya ke rumah sakit untuk berobat. Ia sadar bahwa untuk bisa kembali mencari penghidupan dan bekerja, kuman TB yang merongrong tubuhnya harus diberantas terlebih dahulu.

Binsar harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 10 Km dengan berjalan kaki dari rumahnya di daerah Pulo Gadung untuk berobat ke RS Persahabatan. Dengan kondisi tubuh yang sedang sakit dan lemah, jalan kaki dilakukannya karena tidak memiliki ongkos untuk transportasi.

"Pernah juga disangka orang gila, karena ke mana-mana saya jalan kaki. Saya sih karena pengen sembuh, apapun yang terjadi pengobatan harus saya tuntaskan. Sekalipun ekonomi sulit dan masih batuk darah, saya tetap berobat," ujarnya.

Perjuangan Binsar tak sia-sia setelah 7 bulan berobat dan observasi lanjutan selama 1 tahun, Binsar dinyatakan sembuh dari TB pada tahun 2012. Merasa bahwa banyak orang yang bernasib sama seperti dirinya, Binsar dan beberapa rekan mantan pasien TB mendirikan yayasan Pejuang Tangguh TB MDR Indonesia (PETA).

"Sangat bersyukur bahwa perjuangan saya tidak sia-sia. Saya tangkap kemenangan itu, dan saya berhasil berjuang tidak menularkan TB ke orang lain," tutupnya.

(mrs/ask)
Topik Hangat Hari TB Sedunia 2018
News Feed