Rabu, 18 Apr 2018 13:33 WIB

True Story

Akibat Mutasi Genetik, Pria Ini Jadi Punya Tiga Wajah

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Philippe Lopez via Getty Images Foto: Philippe Lopez via Getty Images
Jakarta -
Setelah terbaring di rumah sakit selama dua bulan tanpa wajah, Jerome Hamon mulai terbiasa melihat wajah barunya.

Pria berusia 43 tahun ini mengidap neufreufibromatosis tipe 1, sebuah mutasi genetik yang menyebabkan tumor tak berbentuk di wajah serta komplikasi.

Akibatnya, Hamon harus menjalani operasi transplantasi wajah di tahun 2010 dengan donor wajah berusia 60 tahun.

"Aku langsung menerima transplantasi pertama. Aku berpikir 'inilah wajah baruku' dan kali ini masih (wajahku yang) sama," kata Hamon, seperti dilansir dari FOX News.

Namun di tahun 2016 tubuhnya mulai menunjukkan penolakan dan wajahnya semakin memburuk.

Oleh karena itu dokter yang menanganinya memutuskan untuk mengangkatnya kembali di tahun 2017, Hamon jadi tak punya wajah. Bahkan dokternya juga menyebutnya seperti zombie "the walking dead".

Hamon tak mempunyai kelopak mata, telinga, kulit, tak bisa makan ataupun berbicara. Pendengarannya jadi terbatas, sehingga ia hanya dapat mengekspresikan dirinya sendiri dengan menolehkan kepala atau menulis sedikit.

Dua bulan kemudian ia kembali menerima donor wajah, kali ini berusia 22 tahun. Sebelum memulai transplantasi, dokter memberinya penanganan selama 3 bulan untuk mengurangi adanya risiko penolakan kembali.

"Sebagai pria yang harus mengalami semua hal ini, yang seperti perang nuklir, dia baik-baik saja," tutur Dr Laurent Lantieri dari Georges Pompidou Hospital di Paris, yang menangani kedua operasi transplantasi Hamon.

Kini Hamon menambah satu sejarah baru dalam kehidupannya: ia pernah hidup dengan tiga wajah. Setelah operasi Januari lalu, ia masih dalam peninjauan namun ia dapat menjalani hidupnya seperti biasa.

"Kalau aku tak menerima wajah baru ini, pasti sangat mengerikan. Memang menimbulkan banyak pertanyaan tentang identitas.. tapi beginilah, ini bagus, inilah aku," ujar Hamon.

Dr Lantieri berkata ia dan timnya akan menerbitkan temuan mereka dalam jurnal medis dalam waktu dekat. Ia berharap kasus Hamon akan tetap menjadi sebuah pengecualian.

"Pasien lain yang kutangani punya sedikit perubahan pada transplantasinya seiring waktu, tapi mereka baik-baik saja. Aku berharap ke depannya tak akan melakukan transplantasi seperti ini lagi," tandasnya.
(Frieda Isyana Putri/up)
News Feed