Kamis, 26 Apr 2018 18:10 WIB

True Story

Kisah Inspiratif Ridwan, Pria Difabel yang Jadi Atlet Tenis Kursi Roda

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ridwan Sumantri, pejuang hak-hak difabel yang pernah jadi atlet tenis kursi roda. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth Ridwan Sumantri, pejuang hak-hak difabel yang pernah jadi atlet tenis kursi roda. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth
Jakarta - Seorang pria tegap yang duduk di kursi roda mencuri perhatian dengan lihainya ia mengendalikannya. Bahkan, kursi rodanya bagai 'menempel' pada tubuhnya.

Namanya Ridwan Sumantri, begitu ia mengenalkan diri saat diwawancarai detikHealth pada acara launching GrabGerak, layanan transportasi dari Grab dan Rexona, di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2018).

Mungkin bagi sebagian orang, namanya tidaklah asing. Ia pernah viral diberitakan menggugat salah satu maskapai tanah air akibat pelayanan 'tidak ramah' yang ia dapatkan saat hendak berkunjung ke Denpasar pada 2016 lalu.



Ridwan telah duduk di kursi roda selama nyaris dua dekade karena kedua kakinya lumpuh lantaran terjatuh saat memanjat pohon kelapa, saat itu usianya masih 19 tahun.

"Pada saat itu saya manjat kelapa biasa, kemudian kemungkinan saya pingsan di atas karena tahu-tahu saya jatuh," cerita pria asal Sukabumi ini.

Posisi jatuhnya yang duduk membuat saraf tulang belakangnya terganggu. Sehingga bagian tubuhnya dari perut ke bawah lumpuh, tak bisa merasakan apapun.

Ridwan memutuskan untuk pindah ke Jakarta di tahun 2003 meski dapat banyak pertentangan, terutama dari ibunya. Namun Ridwan meyakinkannya dengan mengatakan bahwa ia ingin melakukan perubahan yang tak bisa ia dapatkan jika terus berada di kampungnya.

Selama di Jakarta, Ridwan benar-benar berjuang untuk tetap hidup dengan kondisi tersebut. Beruntung karena dulunya ia aktif berolahraga, ia sempat menjadi atlet bola tenis di kursi roda atau wheelchair tennis.

Ridwan saat berlatih tenis di kursi roda.Ridwan saat berlatih tenis di kursi roda. Foto: Twitter/RidwanSumantri


"Dari dulu saya selalu berolahraga. Olahraganya macem macem, voli, bulu tangkis, bola sepak, lari bahkan. Saya sering ikut lomba lari marathon," ujarnya dengan raut wajah gembira.

Ridwan sempat mengikuti beberapa pertandingan hingga dikirim ke luar negeri selama setahun sekali. Pertandingan yang terakhir ia ikuti adalah ITF Tennis Wheelchair Taiwan Open pada 2007.

"Saya dulu juga aktif bola, juara antar sekolah jadi penjaga gawang dulu. Sekarang pun masih nonton bola. Kadang-kadang tuh kaki pengen nendang aja gitu, hahaha," lanjutnya, tertawa keras.


Pada tahun 2007 itulah ia akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain tenis dan banting setir ke dunia advokasi. Alasan utama yang ia utarakan adalah kendala karena minimnya event-event nasional saat itu.

"Atlet itu hidup ketika ada event, ketika ada kejuaraan, nah ketika saya latihan-latihan mengeluarkan biaya iya, tapi masuknya nggak ada itu ya terkendala," jelas Ridwan.

Fokus Ridwan kini beralih pada perjuangan hak-hak para difabel atau penyandang disabilitas. Sejak lumpuh, ia mengaku banyak hambatan yang kerap ia temukan, dan itu mendorongnya menjadi trainer untuk berbagi ilmu ke masyarakat mengenai difabel.

Berbagai macam pelatihan ia ikuti hingga ia mendapatkan sertifikasi licensed trainer dari Malaysia hingga bergabung dengan Lembaga Barrier Free Environment and Accessible Transportation for All (BEAT) Indonesia.

Pada 2012 ia membentuk komunitas jalan-jalan dengan menggunakan layanan transportasi publik bersama teman-temannya sesama difabel. Bernama Jakarta Barrier Free Tourism, kegiatannya berkeliling kota Jakarta dengan transportasi umum, jalan ke museum, taman-taman, sampai Bogor hingga Bandung.

"Kami mengedukasi masyarakat siapa aja, baik petugas busway, baik petugas commuter line, kami edukasi bagaimana cara membantu orang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Jadi ketika saya bepergian, otomatis misi saya adalah menyampaikan informasi bagaimana cara membantu saya, di manapun saya berada," jelasnya.

Tak hanya itu, Ridwan kini juga menjadi trainer di salah satu maskapai penerbangan yang ada di Indonesia dan kadang sering diminta melatih di kementerian, khususnya di Kementerian Kesehatan.

Pria berusia 38 tahun ini juga beberapa waktu lalu didapuk oleh Grab Indonesia untuk melatih khusus 118 mitra pengemudi taksi online untuk dapat memberikan pelayanan bagi penumpang difabel lewat layanan aplikasi GrabGerak.

Kesanggupannya menjadi trainer juga didorong oleh banyak keluhan yang ia rasakan saat menaiki transportasi darat baik online maupun tidak. Banyak ketidakpahaman yang terjadi antara pengemudi dan Ridwan, misal terkait kursi rodanya.

Ridwan melanjutkan, ada juga yang sampai terluka di tangannya saat membuka kursi roda karena kesalahan saat melipat. Ia juga pernah nyaris terjungkal karena petugas TransJakarta asal mengangkat kursi rodanya saat hendak menaiki bus.

Iapun menggandeng Advokasi untuk Disabilitas Inklusi (AUDISI) Indonesia untuk melatih selama sekitar lima minggu dengan berbagai macam tahapan. Ridwan menekankan pentingnya mitra pengemudi tersebut mendapatkan ilmu mengenai bagaimana berinteraksi dan menangani penumpang difabel.

Bagi Ridwan, Jakarta sebagai rumahnya kini masih jauh dari sebutan ramah disabilitas. Misal trotoar yang tidak menunjangnya untuk bergerak, membuatnya sangat tidak nyaman.

"Sudirman-Thamrin aja hambatannya banyak banget, karena saya sering ada meeting di daerah situ. Jalan dua kilo kalo naik taksi terlalu dekat, tapi kalau mau tetap jalan harus berjuang berat," keluhnya.

Ke depannya Ridwan berharap pemerintah dapat menjadikan kota-kota di Indonesia semakin mudah diakses bagi para difabel. Agar mereka dapat bergerak dengan aman dan nyaman serta lebih mandiri tanpa perlu dibantu.

"Kalau mbak bisa lihat di belakang kursi roda saya nggak ada dorongannya karena saya sengaja menghindari dikit-dikit didorong jadi semaksimal mungkin saya bisa sendiri. Dengan fasilitas yang sudah accessible, bener-bener nggak perlu lagi didorong," tuturnya.

"Nah dengan transportasi yang accessible yang murah yang mudah ke depan mudah-mudahan semua temen-temen disabilitas di Indonesia akan dapat bergerak dengan mudah mengejar impian masing masing," pungkas Ridwan.

(Frieda Isyana Putri/up)
News Feed