Selasa, 15 Mei 2018 08:12 WIB

True Story

Fotografer Ini Abadikan Perjalanan Kedua Orang Tuanya yang Idap Kanker

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Nancy Borowick via ABC News Foto: Nancy Borowick via ABC News
Jakarta - Usia Nancy Borowick masih 28 tahun ketika ia mengetahui bahwa kedua orang tuanya sama-sama mengidap kanker stadium empat. Fotografer asal Amerika Serikat yang kini tinggal di Guam tersebut menyebut masa-masa tersebut dengan 'mengerikan, hampir lucu."

Ibunya, Laurel, mengalami kanker payudara untuk ketiga kalinya dalam 17 tahun. Sementara ayahnya, Howie, baru saja saat itu terdiagnosis kanker pankreas.

Kedua orang tuanya mendapatkan pengobatan secara paralel. Nancy mengakui tak tahu berapa lama lagi waktu yang dipunyai orang tuanya, oleh karena itu ia memutuskan untuk mendokumentasikan perjalanan mereka.


"Ini jadi salah satu cara untukku terus bersama mereka. Kanker menjadi alasan aku memotret mereka, namun aku sadar bahwa kisah yang kita hidupi tak melulu mengenai kanker dan penyakit, tapi juga mengenai hidup dan menghidupi," kata Nancy, dikutip dari ABC News.

Menuju akhir hayatnya, keluarga Borowick memutuskan untuk menghabiskan waktu membuat kenangan baru, ketimbang terlalu berjibaku dengan masalah mereka.

Misal saat Nancy menikah, di mana acaranya berkonsep outdoor, dan ia menaruh kamera di atas pohon. Supaya dapat menangkap momen ketika kedua orang tuanya mendampingi ia sembari berjalan di altar, dibantu seorang teman yang akan memotretnya melalui remote control.

Ketika kemoterapi membuat rambut ibunya rontok, ayahnya membantu mencukurkan sisa rambut yang masih ada di kepalanya. Saat itu terjadi momen konyol, Laurel mengambil sisa rambut tersebut dan pura-pura mempunyai alis yang super tebal.

"Setelah itu, 'alis super tebal' itu dipakaikan ke anjingku. Kami semua tertawa terbahak-bahak," ujar Nancy, sembari mengingat-ingat momen tersebut.

"Kamu tahu, mereka bilang tawa adalah obat paling baik, dan ya Tuhan, itu adalah obat yang kami butuhkan dan kami mengandalkannya ketika situasi sedang berat," lanjut wanita yang kini berusia 33 tahun ini.


Waktu lainnya lebih memilukan, seperti saat dokter Laurel dan Howie mengabarkan mengenai hasil pindaian terakhir. Saat itu ibunya sempat bercanda dan menerima telepon sang dokter di kamar mandi, dan Nancy menangkap momen tersebut.

Namun setelahnya, ayahnya meninggal duluan pada Desember 2013. Setahun kemudian, Laurel menyusulnya, menghembuskan napas terakhir.

Ketika kedua orang tua Nancy menerima telepon dari dokter yang memberitahukan tentang perkembangan terakhir mereka.Ketika kedua orang tua Nancy menerima telepon dari dokter yang memberitahukan tentang perkembangan terakhir mereka. Foto: Nancy Borowick via ABC News


Pemakaman dan proses pemberesan rumah kedua orang tuanya juga menjadi salah satu momen yang ditangkap oleh kamera Laurel. Meski hasil fotonya dalam warna monokrom, hasilnya lebih menunjukkan kegembiraan ketimbang kesedihan.

Hasil foto-fotonya sedang dalam pameran di Sydney sebagai bagian dari Head On Photo Festival. Respon kepada hasil foto Nancy sangat luar biasa dan ia memenangkan juara kedua dalam kategori Long-term Project di World Press Photography Awards pada 2016 lalu.

Saat surat kabar New York Times menulis artikel tentangnya, ada ribuan pesan dan surel dari seluruh dunia. Mereka berterima kasih kepada Nancy yang telah membagi kisahnya dan juga ikut membagikan kisah mereka kepada Nancy.

"Aku sadar bahwa reaksi dan kepedulian mereka karena hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman sebagai manusia, yaitu hidup dan mati. Dengan membicarakannya, kamu dipaksa untuk benar-benar melihat hidupmu dan memikirkan prioritasmu," kata Nancy, kini sedang berada di Australia untuk pameran fotonya.

"Seperti foto-fotoku, aku telah memberikan izin kepada orang lain untuk menceritakan dan membagi kisah mereka. Dan mereka membutuhkannya."

Nancy juga menulis buku di mana ia juga memasukkan hasil fotonya, bersama dengan surat cinta, dan barang-barang lainnya yang terkait dengan kisah orang tuanya. Baginya buku itu adalah warisan kedua orangnya, untuk menyebarkan pesan bahwa hiduplah sepenuhnya.

(Frieda Isyana Putri/up)
News Feed