Kamis, 24 Mei 2018 17:25 WIB

True Story

Kisah Ananda Sukarlan: Idap Sindrom Asperger's Hingga Jadi Pianis Andal

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Frieda Isyana Putri Foto: Frieda Isyana Putri
Jakarta - Nama Ananda Sukarlan tak lagi asing dalam dunia seni bermain piano. Bahkan prestasinya sudah mendunia, ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang namanya masuk dalam daftar Outstanding Musicians on the 20th Century.

Di balik bakat dan kepiawaiannya, rupanya Ananda mengidap sindrom asperger's sejak kecil. Sindrom asperger's merupakan salah satu bentuk dari autisme, di mana bahkan sekilas pengidapnya tak nampak bahwa mereka mengalami gangguan kesehatan mental.

Bahkan ia sendiri belum tahu bahwa ia mengidap sindrom autisme tersebut hingga berusia 28 tahun saat ia tinggal di Eropa. Sindrom ini ia ketahui sudah pasti telah ia idap sejak lahir, seperti semua sindrom autisme lainnya.


Hal ini menjelaskan masa kecilnya yang tidak terlalu indah, di luar pengalamannya bermain piano. Saat ia masih berusia 5 tahun ia sempat mengalami speech delay alias telat berbicara.

"Waktu itu ya orang tua mikir saya masalah ini, masalah itu, dan waktu itu di Indonesia istilah autisme mungkin belum ada ya tahun 70-an," tutur Ananda yang akan berusia 50 tahun bulan Juni depan, kepada detikHealth, Kamis (24/5/2018).

Saat bersekolah, ia disebut kemampuan sosialnya sangat kurang, karena ia jarang berinteraksi dengan teman-temannya dan suka menyendiri. Ia disebut anti sosial dan sempat mendapat bully-an dari teman-temannya di sekolah.

"Saya sih tentu saja ada rasa rendah diri ya, kemudian saya selalu berpikir kenapa sih saya kayak gini. Tapi saya nggak tertarik sama hal-hal yang harusnya orang lain tertarik. Olahraga, saya sama sekali nggak bisa olahraga. Saat saya nyetirpun nggak bisa-bisa. Naliin sepatu gitu aja buat saya susah banget," jelas Ananda.

Mereka yang mengidap asperger's memang biasanya terlihat seperti anak jenius yang memiliki kesulitan bersosialisasi sehingga tak jarang mendapat julukan antisosial.

Pengidap sindrom asperger's juga kesulitan dalam mengekspresikan dirinya atau menyatakan emosinya, dan itu juga yang Ananda rasakan. Dan saat itulah Ananda menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya lewat piano yang ada di rumahnya.

Saat ia sedih, saat ia senang tak begitu nampak di wajahnya, yang disebut oleh Ananda rancu dan kadang-kadang seperti tanpa ekspresi.


"Kebetulan karena ada piano di rumah, saya seringnya main piano aja. Saya tuh kebalikannya dengan anak-anak yang kalo sekarang tuh ngehits banget kalo les piano gitu kan. Orang tuanya selalu tanya 'hari ini udah main piano belum?' kalo saya kebalikannya, 'hari ini udah bikin PR belum?' 'kamu udah mandi belum?' karena saya kerjaannya main piano doang, fokusnya di situ," terang Ananda.

Namun siapa sangka, dengan ketekunannya bermain piano ia dapat mengatasi gangguannya tersebut. Lewat menulis musik, ia jadi lebih tahu emosinya sendiri karena kadang ia mengaku tak terkoneksi dengan emosinya sendiri.

"Jadi waktu saya nulis musik dan musiknya itu saya dengerin, wah ternyata saya perasaannya lagi begini. Sedih itu kan cuma satu kata, tapi sedihnya kayak apa kan itu musik yang spektrumnya, rangenya tuh bisa besar sekali jadi ia bisa mengatakan kesedihannya seperti apa gitu," katanya.

Musik menjadi perantaranya dalam mengekspresikan dan menyatakan apa yang tidak bisa ia ungkapkan. Baginya musik jauh lebih spesifik dalam menjelaskannya ketimbang kata-kata.

Akhirnya hal ini membawanya menjadi seorang pianis dan komposer terkenal, baik di Indonesia maupun di luar negeri, khususnya di Eropa. Baru-baru ini ia bahkan menjadi pianis pertama yang bermain di atas kapal Greenpeace.

Kini berkeluarga, Ananda tak menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan keluarganya setelah mereka mengerti tentang keadaannya tersebut. Ia juga sering memberikan awareness lewat media sosialnya, meski tak sedikit yang tetap merespon negatif.

"Banyak yang bilang 'ah lo tu gila aja, nggak ngaku aja kalo lu gila'. Cuekin aja, orang yang sok tahu mau dibilangin kayak apa juga susah kan," tandas Ananda, yang kini masih berusaha mengatasi masalah buta arah yang sering membuatnya nyasar tersebut.

Selain aktif dalam berpiano, Ananda juga menyempatkan melatih guru-guru piano untuk anak-anak autis, salah satunya di Yayasan Daya Pelita Kasih Jakarta Selatan, di mana ia telah bekerja sama untuk kurang lebih 2 tahun terakhir.

Ananda menyebut kondisi jaman sekarang menghadapi autisme sudah lebih baik ketimbang zamannya dulu, walau masih ada beberapa orang tua yang denial ketika mengetahui anaknya mengidap autisme. Ia berharap ke depannya autisme dapat memiliki tempat yang lebih baik dan tidak dianggap sebagai 'alien'.



(frp/up)
News Feed