Jumat, 08 Jun 2018 12:02 WIB

Kehilangan Kaki Karena Kanker, Pria Ini Jadi Pembuat Kaki Palsu

Widiya Wiyanti - detikHealth
Kehilangan kaki karena kanker, pria ini putuskan jadi pembuat kaki palsu. Foto: Mohamed Abd El Ghany/Reuters Kehilangan kaki karena kanker, pria ini putuskan jadi pembuat kaki palsu. Foto: Mohamed Abd El Ghany/Reuters
Jakarta - Ternyata seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang berharga dari tubuhnya tak lantas menyerah pada kehidupan. Ini terbukti pada Daniel Bastian yang telah kehilangan kaki kanannya.

Bermula saat ia didiagnosis kanker pada usia 15 tahun, Bastian divonis hanya memiliki waktu enam bulan untuk hidup. Namun ternyata ia bisa melewati 10 tahun dengan 18 kali operasi yang akhirnya harus mengamputasi kaki kanannya karena tumor menggerogoti tulangnya.

"Itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat, tetapi juga salah satu keputusan tersulit," ujarnya seperti dikutip dari Aplus.

Dengan keputusannya itu, Bastian masih bisa tetap hidup hingga usianya kini mencapai 52 tahun. Ia hidup dengan menggunakan kaki palsu (prostetik) sejak tahun 1989.

Bastian melakukan segala aktivitas dengan kaki buatan itu. Bahkan ia mengaku bisa melakukan beberapa jenis olahraga, seperti bersepeda dan bermain ski.


Dengan keterbatasannya, Bastian mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang-orang yang memiliki nasib yang sama dengannya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten programmer di IBM dan kembali belajar di Universitas Connecticut untuk mendapatkan gelar di bidang prostetik.

Bastian pun berhasil mendirikan tempat pembuatan kaki palsu yang ia beri nama Progressive Orthotics & Prosthetics di Long Island, New York. Ia memiliki misi untuk membantu orang yang mengalami amputasi seperti dirinya.

"Jadi kami di sini memperbarui hidup, memulihkan harapan, dan melakukan apa pun yang kami bisa untuk kembali ke gaya hidup aktif," jelasnya.

Sejak didirikan pada tahun 2003, Bastian telah membantu banyak sekali orang yang kehilangan harapan hidup dan membutuhkan kaki prostetik. Bastian pun bisa menunjukkan kepada banyak orang bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.



(wdw/up)
News Feed