Rabu, 13 Jun 2018 15:01 WIB

True Story

Mantan Pelari dan Penyintas Stroke yang Sukses Kembali Ber-marathon

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Sempat divonis tak akan bisa berjalan lagi karena stroke, nenek 72 tahun ini sukses menyelesaikan rute half marathon. Foto: Daily Mail/ElizabethBarber Sempat divonis tak akan bisa berjalan lagi karena stroke, nenek 72 tahun ini sukses menyelesaikan rute half marathon. Foto: Daily Mail/ElizabethBarber
Jakarta - Elizabeth Barber (72) terdiagnosis stroke setelah dirinya ditemukan jatuh dari tangga pada Agustus 2016. Kala itu, ia lumpuh dan tak bisa berbicara membuat dokter memvonisnya tak akan pernah bisa sembuh.

Akan tetapi, wanita yang mengaku sangat aktif sebelumnya ini berhasil menyelesaikan rute di St. Albans Half Marathon dengan bantuan para perawatnya, tanpa kursi rodanya lagi. Kini bisa berbicara kembali, ia menyebutnya sebagai hal yang luar biasa.

"Jujur aku tak pernah membayangkan melewati garis finish lagi, dan ini berkat Delia dan para cewek aku bisa melakukannya," ungkap Barber, seperti dikutip dari Daily Mail.

Barber merupakan pelari marathon yang cukup aktif. Empat marathon berhasil ia lakoni, termasuk salah satunya ia lakukan di usia 70 sebelum terjatuh akibat stroke.

Dia menghabiskan dua tahun terakhir bersama pengasuhnya di kursi roda di pusat rehabilitasi. Enggan menyerah pada keadaan, Barber akhirnya menunjukkan beberapa tanda-tanda pemulihan.

"Setelah terdiagnosis stroke aku sangat beruntung masih dapat hidup. Ketika aku tahu aku tidak akan bisa mengikuti perlombaan lagi, aku sangat terpuruk. Support dari para perawat di sini sungguh fantastis," tutur Barber yang pernah memiliki toko musik ini.

Elizabeth Barber sukses menyelesaikan half marathonElizabeth Barber sukses menyelesaikan half marathon Foto: Daily Mail/ElizabethBarber


Lewat bantuan dari para staf di sana Barber pun kembali bisa berbicara, walau ia diduga akan menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda saja. Melihat hal tersebut, beberapa tim perawat berinisiatif menghidupkan kembali cinta Barber pada lari.
Baca juga: Begini Cara Stres Rusak Otak Hingga Sebabkan Stroke
Mereka membawa Barber ke St. Albans Half Marathon tanpa memberitahunya dan memapah Barber setengah berlari pada perlombaan tersebut. Delia Abaza (50), sang perawat, mengaku sangat termotivasi untuk membantunya menyelesaikan marathon tersebut.

"Setelah apa yang ia alami sangatlah luar biasa untuk melihatnya sangat sehat, dan dapat untuk datang ke perlombaan serta berjalan beberapa ratus meter terakhir bersama kami," ujarnya.

Delia menyebut usaha mereka tertebus ketika melihat wajah bahagia Barber setelah melewati garis finish. Baginya dan para perawat yang menemani, Barber merupakan wanita yang sangat spesial, bijaksana dan inspiratif.

"Lari menjadi bagian besar dalam hidupku dan bisa merasakan sensasi menerobos garis finish sekali lagi itu sangatlah spesial," tandas Barber.

Tiap lima menit, satu orang mengidap stroke di Inggris dan diperkirakan menjangkit 795 ribu orang di Amerika Serikat. Sementara di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit stroke naik tiap tahunnya dan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 57,9% penyakit stroke telah terdiagnosis oleh nakes.

(frp/up)
News Feed