Rabu, 28 Agu 2013 14:32 WIB

Pria yang Tak Pernah Bisa Tepat Waktu Karena Idap Gangguan Mental

- detikHealth
Jim Dunbar (Foto: Medical Daily) Jim Dunbar (Foto: Medical Daily)
Jakarta - Istilah jam karet merujuk pada mereka yang tak bisa tepat waktu saat membuat janji bertemu. Di Indonesia, pemilik jam ini mungkin susah dihitung dengan jari karena saking banyaknya. Tapi tahukah Anda, ada seorang pria yang tak pernah bisa tepat waktu karena memiliki penyakit.

Orang itu bernama Jim Dunbar. Tiap kali membuat rencana untuk bertemu dengan seseorang, dia akan selalu terlambat. Bukannya malas atau menyepelekan, sebab sebenarnya dia sudah bersiap-siap sampai 11 jam sebelumnya. Lantas apa yang dia alami? Dunbar mengidap 'penyakit' keterlambatan kronis.

Gangguan yang dialami pria asli Skotlandia ini lebih disebabkan karena gangguan kejiwaan ketimbang masalah manajemen waktu. Para ilmuwan percaya ada gangguan pada fungsi otaknya terkait pengaturan waktu yang juga mempengaruhi gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Dunbar sendiri telah mengalami gangguan ini sejak berumur 5 tahun. Dia selalu terlambat masuk ke sekolah, juga selalu terlambat datang berkencan. Dia tahu bahwa gangguannya ini tak hanya merugikan bagi dirinya sendiri, tapi juga membuat orang lain tidak nyaman.

"Saya sering kecewa karenanya dan sungguh mengganggu orang lain jika saya datang terlambat. Pada hari di mana saya berencana menonton film pada pukul 19.00, saya sudah bangun pada pukul 08.15 untuk melakukan persiapan," katanya seperti dilansir Medical Daily, Rabu (28/8/2013).

Pria berumur 57 tahun ini menghabiskan banyak waktu bertanya-tanya tentang penyakitnya. Bahkan keluarganya juga mengira dia hanya membuat alasan. Namun diagnosis dari dokter telah meyakinkan dia bahwa penyakitnya ini disebut 'chronic lateness' atau keterlambatan kronis.

Tapi tetap saja, ketika membikin janji dengan dokter untuk mendiagnosis penyakitnya, Dunbar terlambat 20 menit dari kesepakatan semula. Pada kenyataannya, depresi diduga menjadi akar masalah dari penyakit ini. Banyak penderita ADHD mengalami gejala depresi akibat gangguannya.

Sebuah penelitian dari San Francisco State University di tahun 1997 menemukan bahwa 17 persen dari populasi mengalami kelainan ini. Pengidap chronic lateness cenderung mengidap ADHD. Gejalanya berupa sering sering menunda, kurangnya kontrol diri, dan kecenderungan mencari sensasi.

"Orang yang mengalami chronic lateness sering bergulat dengan kecemasan atau ambivalensi kondisi internal psikologisnya" kata psikolog, Dr Pauline Wallin Shine.

Yang lebih mengkhawatirkan, penderita chronic lateness cenderung gemar berjudi, makan berlebihan, berbelanja secara impulsif, dan sering minum alkohol. Meskipun demikian, ada beberapa ahli yang masih bersikukuh masalah ini berkaitan dengan ketidakmampuan mengelola waktu.

Oleh karena itu, para ahli ini sepakat bahwa untuk mengatasi penyakit ini kata kuncinya adalah proaktif, juga memperkirakan keterlambatan yang akan terjadi. Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi keterlambatan kronis:

1) Mempelajari cara mengukur waktu
Banyak masalah yang menimpa penderita keterlambatan kronis berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menilai atau memperkirakan seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu. Seringkali, mereka meremehkan hingga 30 persen.

2) Jangan pernah berencana tepat waktu
Jim Dunbar sering mempersiapkan diri 11 jam sebelum waktu yang disepakati, meskipun masih juga terlambat. Orang yang tiba tepat waktu seringkali berencana untuk datang lebih awal untuk mengantisipasi keterlambatan.

3) Memiliki strategi
Orang yang selalu terlambat membuat penilaian yang salah karena tidak memonitor perilakunya. Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sehari-hari akan menyediakan informasi yang cukup untuk membangun rencana atau jadwal yang dapat diandalkan.




(pah/up)
News Feed