Senin, 25 Apr 2016 12:36 WIB

True Story

Cedera Saat Futsal, Kanker Tulang di Kaki Faris Baru Ketahuan

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Muhamad Reza Sulaiman
Jakarta - Kanker merupakan penyakit mematikan dan bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali remaja dan anak muda. Faris Fadhli adalah salah satunya. Didiagnosis mengidap kanker tulang, Faris harus merelakan kaki kanannya diamputasi saat berusia 18 tahun.

Sekilas tidak ada yang berbeda dari perawakan Faris dengan anak muda lain seusianya. Badannya yang sedikit besar tidak membuat jarinya kaku ketika menggoreskan kuas di atas kanvas untuk melukis.

Namun Faris adalah salah satu penyintas kanker tulang yang disebut sebagai osteosarcoma. Karena penyakit tersebut, kaki kanannya harus diamputasi saat ia baru berusia 18 tahun.

Baca juga: Kisah Dua Mahasiswa Suriah, Tinggalkan Kuliah dan Jadi Pemasang Kaki Palsu

"Kena kankernya tahun 2010 di usia 17 tahun. Waktu itu saya masih kelas 3 SMA sedang persiapan mau ujian nasional," tutur Faris mengawali kisahnya kepada detikHealth, baru-baru ini.



Ia mengatakan saat itu kakinya cedera saat bermain futsal bersama teman-temannya. Namun rasa sakit akibat cedera tak kunjung hilang. Bahkan bengkak di kakinya semakin besar dan tak menunjukkan adanya proses penyembuhan.

Setelah dirujuk ke dokter onkologi, barulah Faris mengetahui bengkak di kakinya ternyata adalah tumor. Pemeriksaan biopsi menunjukkan kanker tulang yang diidap Faris sudah stadium akhir dan tumornya sangat ganas.

"Tumornya 11 cm. Dokter bilang ini sudah ganas, harus radioterapi dan mutlak diamputasi. Keluarga saya menolak dan akhirnya sempat mencoba pengobatan alternatif selama 6 bulan," tuturnya lagi.

Namun pengobatan alternatif yang dijalani tak memberikan hasil yang diharapkan. Tumor makin membesar dan rasa sakit yang menyertai juga tidak hilang. Akhirnya setelah melalui mufakat keluarga, Faris meneguhkan hatinya untuk menjalani amputasi.

Hal ini sempat membuatnya putus asa. Di usianya yang baru berusia 18 tahun, tentunya ia masih ingin bermain dan mengembangkan kreativitas bersama teman-teman sebayanya.

"Nggak munafiklah pasti memiliki pemikiran seperti itu. Masih anak muda sedang asik-asiknya. Namun ketika dijalani, ternyata banyak hal yang bisa saya pelajari dari kejadian ini," ungkapnya lagi.

Faris mengatakan kanker tulang memang mengubah hidupnya, tapi bukan ke arah yang lebih buruk. Setelah selesai menjalani amputasi dan serangkaian radiasi dan kemoterapi, Faris akhirnya dinyatakan bebas dari kanker pada tahun 2012.

Di usianya yang saat ini 23 tahun, Faris aktif di Cancer Information and Support Center (CISC). Ia bersama beberapa anak muda penyintas kanker lainnya aktif di Young CISC, organisasi sayap CISC yang fokus kepada pemberian informasi dan dukungan kepada pasien kanker muda.

"Ternyata kanker yang awalnya saya kira adalah batu sandungan bisa menjadi batu loncatan untuk melakukan hal yang lebih besar. Di sini saya jadi bisa berarti untuk orang lain, memotivasi dan memberi dukungan pada teman-teman pasien kanker lain supaya tidak mudah putus asa dan patah semangat," pungkasnya.

Baca juga: Diserang Penyakit Misterius, Tulang Harmony Bolong-bolong (mrs/vit)