Senin, 09 Jan 2017 16:01 WIB

True Story

Kallista, Balita Lucu yang Hanya Bisa Minum ASI 'Khusus'

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: GoFundMe
Jakarta - Dari luar sekilas tak ada masalah dengan Kallista. Ia bertingkah seperti bayi lucu pada umumnya, termasuk tertawa dan bergoyang menggemaskan. Namun ternyata balita 18 bulan itu tak bisa minum ASI (air susu ibu) sembarangan.

Mulanya Kallista menunjukkan gejala tidak lazim sejak lahir. Ia selalu muntah, bobotnya tak naik dan ia tidur lebih lama dari bayi baru lahir lainnya, yaitu lebih dari 20 jam sehari.

Hingga akhirnya harus mendapat makanan padat, rupanya Kallista hanya bisa minum ASI sebagai bahan makanan utamanya. Nah, ASI yang bisa dikonsumsi Kallista adalah ASI yang didapat dari ibu yang tidak mengonsumsi susu, gluten, kedelai atau jagung. Rupanya kondisi serupa pernah dialami kakak Kallista, Alyssa yang kemudian meninggal di usia 18 hari.

Kepada Fox 10, sang ibunda, Jennifer Smith mengatakan telah membawa putrinya untuk menemui dokter, bahkan hampir di seluruh dokter yang berpraktik di Arizona, tempat mereka tinggal. Kallista juga menjalani tes alergi berulang kali, tetapi tetap saja si kecil tak kunjung mendapatkan diagnosis yang diharapkan.

Setelah beberapa bulan, Kallista akhirnya didiagnosis dengan beberapa tipe 'eosinophilic gastrointestinal disorder' (EGID) yang langka. Kondisi ini ditandai dengan jumlah salah satu jenis sel darah putih bernama eosinophilis yang berlebih di saluran pencernaan.

"Ada 4 jenis EGID berdasarkan di mana eosinophilisnya ditemukan: kerongkongan, perut, usus, darah dan jaringan. Sedangkan Kallista ditemukan pada semuanya," tutur ibu dari empat anak ini.

Sederhananya, anak dengan EGID hanya bisa diberi susu formula untuk seumur hidupnya. Akan tetapi pada kasus Kallista, ia alergi pada kedelai, jagung dan produk susu sehingga ia juga tak bisa mentolerir susu formula.

Jadi makanan utama Kallista hanyalah ASI. Jennifer sudah mengupayakan untuk memberi ASI sebanyak mungkin bagi putri bungsunya itu. Tetapi tubuhnya tak lagi bisa memproduksi ASI lebih dari 1 liter seperti yang dibutuhkan Kallista. Mereka terpaksa harus membeli dan biaya pembelian semacam ini tidak ditanggung asuransi manapun.

Baca juga: ASI Tidak Maksimal Bisa Berisiko Anak Terkena Gangguan Kesehatan Mental?

Untungnya beberapa dokter kemudian menemukan solusi agar Kallista bisa bertahan, yaitu dengan memasang J-tube ke tubuh si kecil sebagai jalan masuk dari susunya. Selang ini terhubung langsung dengan perut Kallista.

Berkat metode tersebut, perlahan kondisi Kallista pun membaik. "Ia mulai bisa bergerak dan merangkak, padahal sebelumnya ia tak bisa sama sekali," lanjut Jennifer.

Arizona sendiri tidak memiliki bank ASI. Sementara banyak orang yang menyumbangkan ASI kepada Kallista, tetapi karena alerginya, tidak semua ASI bisa dikonsumsinya. Untuk bisa memenuhi kebutuhan putrinya, Jennifer bahkan telah mengubah pola makannya menjadi ayam dan nasi saja.

"Kami ingin Kallista mencoba makanan khusus untuk kondisinya di New Mexico. Tetapi harganya tidak terjangkau," tuturnya.

Untuk itu, Jennifer dan keluarganya telah membuka sebuah laman GoFundMe. Tujuannya untuk menggalang dana agar bisa membeli ASI yang dibutuhkan Kallista, sekaligus membiayai seluruh pengobatan bocah tersebut.

Lewat situs tersebut, Jennifer juga ingin meningkatkan kesadaran publik tentang kondisi putrinya. "Saya ingin semua orang tahu, dan jika ini mungkin didengar oleh orang yang punya masalah yang sama, mungkin dia bisa membantu kami," harapnya.

Baca juga: Selain ASI, Pentingkah Susu untuk Anak? (lll/vit)