Kamis, 26 Jan 2017 09:37 WIB

Cerita Survivor Kanker Otak Galang Dana Melalui Maraton

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: cnn Foto: cnn
Jakarta - Selama kurun tiga tahun terakhir, BethAnn Talford telah melatih fisiknya untuk mengikuti ajang maraton bergengsi, World Marathon Challenge. Namun motivasinya bisa dibilang berbeda dengan peserta lainnya.

"Saya satu-satunya wanita dari Amerika yang ambil bagian, dan satu-satunya peserta dengan sel-sel kanker di tubuh saya," katanya.

Rupanya jauh sebelum BethAnn didiagnosis kanker, ia adalah pecinta maraton. Hingga suatu ketika di tahun 2004, saat mengikuti Marine Corps Marathon dan hampir mencapai garis finish, ia mendengar suara letupan yang sangat keras di kepalanya.

Namun saat itu ia mengabaikan suara tersebut dan melanjutkan perlombaan. Keesokan harinya, BethAnn merasakan ada yang aneh dengan dirinya.

Wanita ini jadi cenderung pelupa, terutama pada tanggal dan nama. Bahkan ia tak bisa menemukan di mana letak kamar mandi kantornya, sampai-sampai atasannya meminta BethAnn untuk mengambil cuti.

BethAnn lalu memutuskan untuk memeriksakan dirinya, dan hasil scan MRI menunjukkan ada tumor di otaknya.

"Saya tertegun, karena 12 tahun lalu saya tak pernah mendengar apa itu tumor otak," tuturnya seperti dilaporkan CNN.

BethAnn mengaku merahasiakan kondisinya itu selama hampir setengah tahun. Ia khawatir kabar itu hanya akan membuat keluarganya terpuruk.

Setahun kemudian sebagian besar tumor di otak BethAnn diangkat. Sayangnya kondisi itu terlanjur menyebabkan komplikasi di tubuh wanita berusia 47 tahun tersebut.

"Saya tak bisa punya anak, dan penglihatan di mata kiri saya menghilang. Saya harus belajar berdiri dan berjalan lagi, serta beberapa kali terserang kejang. Ini belum termasuk kandung kemih saya yang menutup sehingga saya harus memakai kateter, mungkin untuk seumur hidup saya," katanya.

Baca juga: Semangat Bocah 3 Tahun Ikut Maraton Meski Idap Kondisi Langka

Namun dihadapkan pada tantangan seperti itu tidak lantas membuat BethAnn terus meratapi dirinya. Lima bulan kemudian, BethAnn mulai aktif lari lagi. Maraton pertamanya pasca operasi adalah ajang yang sama di mana ia pertama kali merasakan gejala tumor, dan sejak saat itu ia aktif mengikutinya setiap tahun.

Dengan restu dokternya, BethAnn lantas memutuskan untuk mengikuti World Marathon Challenge. Dalam perlombaan ini, setiap peserta akan berlari di 7 negara yang tersebar di 7 benua di dunia, di antaranya Antartika, Chile, AS, Spanyol, Maroko, Dubai dan Australia.

BethAnn juga bekerjasama dengan sebuah yayasan non-profit yang berdedikasi untuk menggalang dana bagi riset pengobatan kanker otak. Untuk saat ini saja ia telah membantu mengumpulkan dana sebanyak 800.000 dollar AS, padahal targetnya adalah 1 juta dollar AS.

Sepanjang perlombaan, ia juga akan mengenakan sepatu khusus yang telah ditempeli foto-foto anak yang sedang berjuang melawan kanker otak dan ia termotivasi untuk ikut marathon karena ingin membantu pembiayaan mereka.

"Kali ini, garis finish saya bukanlah di akhir kompetisi, melainkan saat seseorang mengumumkan ditemukannya pengobatan untuk kanker otak," tekadnya.

Baca juga: Demi Pasien Kanker Anak, Pria Ini Jauh-jauh ke Kutub Selatan Pakai Kursi Roda (lll/vit)