Jumat, 05 Mei 2017 18:36 WIB

Tegarnya Dhian, Ibu 2 Anak yang Napasnya 'Dibatasi' Hipertensi Paru

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Dhian Deliani pengidap hipertensi paru (Foto: Ajeng) Dhian Deliani pengidap hipertensi paru (Foto: Ajeng)
Jakarta - Mengidap hipertensi paru berat membuat Dhian Deliani (41) 'akrab' dengan sesak napas dan pusing. Meski demikian, ibu dua orang anak ini tetap bersemangat menjalani hari-harinya.

Disampaikan oleh pakar hipertensi paru dari RS Harapan Kita, Prof Dr dr Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), FAsCC, FAPSC, FACC, hipertensi paru merupakan suatu keadaan keadaan di mana terjadi peningkatan pada tekanan di pembuluh darah paru, baik di arteri maupun vena.

"Tekanan darah ini berbeda dengan tekanan darah tinggi biasa yang diukur dengan tensimeter. Pasiennya biasanya merasa sesak, jantung berdebar-debar, pusing, serta mudah lelah," ujar Prof Bambang

Dalam Pfizer Press Circle 'Mengenal Lebih Dekat Hipertensi Paru' di SCBD Jakarta, Kamis (4/5/2017), Dhian menceritakan bagaimana awalnya ia didiagnosis penyakit mematikan tersebut.

Baca juga: Sesak Napas dan Sering Berdebar-debar? Waspada Hipertensi Paru

"Saya awalnya memang sering sesak, saat jalan, saat ngejar kereta, capek begitu. Tapi saya pikir capek itu wajar kan, semua orang juga capek. Sampai kemudian saya ikut tes CPNS dan ada tes rontgen. Di situ ketahuan ukuran jantung saya membesar," tutur Dhian.

Dhian pun lanjut memeriksakan diri ke dokter dan setelah menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan, ia didiagnosis dengan hipertensi paru akibat penyakit jantung bawaan. Tak langsung rutin minum obat, Dhian sempat menyangkal diagnosis tersebut dan enggan menjalani pengobatan.

Hal ini membuat penyakit hipertensi parunya kian parah menjadi semakin berat. Kini untuk sekadar berbicara banyak atau berdiri lama, Dhian sudah tidak bisa. Ia pun harus membatasi aktivitasnya agar tak terlalu padat. Namun untuk mengurus keluarganya, Dhian tetap berupaya maksimal.

Terkait proses kehamilan dan persalinan pada pasien hipertensi paru, sebelumnya Prof Bambang sempat menuturkan bahwa pasien wanita harus berpikir ulang. Perawatan dan persiapan persalinan pun harus matang. Jika tidak, nyawa bisa menjadi taruhannya.

"Prosesnya tentu lebih berat ya. Antenatal care-nya harus diperketat. Persalinan juga dianjurkan untuk operasi caesar saja supaya si ibu tidak perlu mengedan. Tapi tetap ada risikonya, ya misalnya setelah operasi si ibu bisa sesak lagi," ujar Prof Bambang.

Dhian yang merupakan ibu dari dua orang anak ini menuturkan bahwa dirinya mendapat anugerah. Diagnosis hipertensi parunya baru ketahuan setelah ia melahirkan anak keduanya. Selama proses hamil dan persalinan kedua anaknya, ia sama sekali tak mengalami komplikasi.

"Waktu itu saya belum tahu punya hipertensi paru atau penyakit jantung bawaan. Pas tes kesehatan baru ketahuan. Sempat marah tidak mau minum obat, tapi sekarang sudah mau. Alhamdulillah walaupun semua terbatas tapi saya harus tetap senyum dan bersyukur," tutur Dhian yang kini aktif menjadi pengurus Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) tersebut.

Baca juga: Punya Asma Saat Anak-anak, Mungkinkah Hilang Ketika Dewasa?

(ajg/vit)
News Feed