ADVERTISEMENT

Jumat, 23 Jun 2017 08:42 WIB

Sleeping Beauty di Dunia Nyata! Remaja Ini Tidur 20 Jam Sehari

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Jika biasanya orang tidur rata-rata 8 jam sehari, maka tidak bagi Michael Hamper. Remaja asal Florida ini justru tidur sampai 20 jam dalam sehari.

Michael didiagnosis sindrom Kleine-Levin, yang populer sebagai sindrom Sleeping Beauty. Ini karena penyakit saraf tersebut mengakibatkan pasiennya tidak bisa menahan kantuk, sehingga bisa sampai tidur berminggu-minggu.

Ya, sindrom Kleine-Levin adalah penyakit hipersomnia periodik yang membuat pengidapnya tertidur dalam jangka waktu lama. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria dan umumnya orang dewasa.

Baca juga: Sindrom Kleine-Levin Bikin Penderitanya Bak Putri Tidur

Penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti tapi diduga ada hubungannya dengan gangguan fungsi otak pada bagian yang mengatur tidur dan lapar. Belum ditemukan terapi yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit ini, namun beberapa obat digunakan untuk mengatur periode jumlah jam tidur.

"Kondisi ini membuat saya kehilangan banyak waktu bersama teman, keluarga dan terutama pendidikan. Saya sangat ingin bisa menjadi seorang dokter," ungkap Michael, seperti dikutip dari Fox News.

Akibat pola tidurnya yang berantakan, Michael sering mengalami kebingungan dan sulit konsentrasi. Ia juga kerap kelelahan dan disorientasi dengan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: 6 Putri Tidur di Dunia Nyata, Bisa Tertidur Hingga Berbulan-bulan

"Ini adalah pukulan telak bagi saya sebagai seorang ayah untuk melihat dia mengalami hal seperti ini. Saya tahu betul betapa cerdasnya Michael, tapi dia sulit melakukan aktivitasnya dalam kondisi seperti ini," tutur sang ayah, Chris Hamper.

Michael berusia 14 tahun saat mulai mengalami gejala aneh tersebut. Awalnya dokter mendiagnosis Michael dengan infeksi virus atau depresi. Namun kemudian setelah diperiksa lebih lanjut, diagnosis sindrom Kleine-Levin pun muncul.

Karena belum ada pengobatan untuk sindrom ini, Michael masih berupaya untuk beradaptasi lebih baik dan mencari pengobatan yang tepat. Dengan begitu, ia berharap cita-citanya sebagai dokter bisa tercapai. (ajg/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT