Senin, 25 Sep 2017 14:06 WIB

Bocah 9 Tahun Kena Serangan Jantung Saat Makan Hot Dog, Apa Sebabnya?

Firdaus Anwar - detikHealth
Menurut peneliti bukan hot dog yang jadi sumber masalah serangan jantung sang anak, melainkan karena sindrom langka. (Foto ilustrasi: iStock) Menurut peneliti bukan hot dog yang jadi sumber masalah serangan jantung sang anak, melainkan karena sindrom langka. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta - Bila serangan jantung biasanya rentan terjadi pada mereka yang sudah lanjut usia, dilaporkan dalam jurnal Pedriatic ada seorang anak laki-laki yang mengalami serangan jantung ketika sedang makan hot dog.

Nyawa sang anak pada akhirnya berhasil diselamatkan, namun yang membuat heran adalah dokter tak menemukan ada kondisi aneh pada jantungnya. Tidak hanya itu seluruh keluarga sang anak juga tidak punya riwayat sakit jantung.

Baca juga: 5 Tanda Serangan Jantung yang Paling Sering Terjadi

Lalu apa yang bisa membuat orang di usia masih sangat muda mengalami serangan jantung? dr Isa Ozyilmaz dari Mehmet Akif Ersoy Thoracic and Cardiovascular Surgery Training and Research Hospital, Istanbul, melihat ada tanda mencurigakan pada hasil elektrokardiogram (EKG) sang anak.

Dengan kemungkinan diagnosa sudah ada di pikiran, tim dokter pun mencoba melakukan tes. Hasilnya terbukti bahwa sang anak punya kondisi langka bernama brugada syndrome.

Brugada syndrome merupakan gangguan irama jantung yang bisa mengancam jiwa dan kadang-kadang diwariskan. Seseorang dengan brugada sindrom punya peningkatan risiko ketidaknormalan irama jantung dari bilik jantung (ventricularis arrhytmias).

Beberapa orang yang mengidap brugada syndrom tidak mengalami gejala, sehingga memang sulit untuk disadari.

Pada kasus sang anak kemungkinan gangguan irama jantungnya terpicu karena ia mengigit makanan dalam porsi besar. Saraf vagus yang membentang dari kepala sampai perut mengatur jantung serta sistem pencernaan dan kemungkinan terstimulasi ketika sang anak mengigit hot dog.

"Tidak banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang-orang dengan kondisi ini, satu terapi utama yang biasa kami lakukan untuk mereka adalah dengan memakai defiblirator (ketika terjadi serangan -red)," kata dr Anne Dubin, profesor ahli jantung anak dari Lucile Packard Children's Hospital Stanford seperti dikutip dari CNN, Senin (25/9/2018).

Baca juga: Dikaitkan dengan Kasus Dokter Stefanus, Apa Sih Brugada Syndrome?

(fds/up)
News Feed