ADVERTISEMENT

Rabu, 04 Apr 2018 10:30 WIB

True Story

Paru Tinggal Sebelah karena Kanker, Berthie Sompie: Jangan Lupa Bahagia

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Albert Sompie pernah terdiagnosis dua jenis kanker sekaligus secara berturut-turut pada 2004 lalu. Namun kini, ia masih terlihat sangat sehat dan bugar. Foto: Frieda/detikHealth
Jakarta - Sekilas tak terlihat bahwa pria ini bernapas hanya dengan sebelah paru-paru saja dan sebagian ususnya pernah dipotong karena kanker. Albert Charles Sompie, atau Berthie, nama bekennya, pada 2004 lalu pernah didiagnosis dua jenis kanker sekaligus.

Dulunya, pria yang lahir dan besar di Surabaya ini merupakan pemain softball yang cukup aktif. Ia menggeluti olahraga tersebut selama dua puluh tahun, dan juga melakukan olahraga lainnya seperti bersepeda dan berenang.

"Hidup saya terlalu sehat kecuali rokok, bahkan saya enggak makan daging. Tiga puluh tahun saya aktif merokok, kan dulu kalau enggak ngerokok enggak macho," tuturnya saat berbincang dengan wartawan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (1/4/2018).

Baca juga: Gagah, Atletis, Punya Karir Hebat Tapi Terenggut Kanker

Ia menceritakan bahwa akibat dari aktif merokok itulah, ia mendapatkan 'jackpot' berupa diagnosis kanker paru di umurnya yang ke-48. Kanker paru yang ia idap sudah cukup parah dan mengharuskannya membuang paru-paru kanannya.

Tak hanya itu, dua bulan setelahnya ia kembali mendapatkan kejutan. Setelah operasi paru, Berthie mengeluh perutnya sakit. "Awalnya kanker paru-paru, dua bulan setelah saya operasi kok perut saya sakit, ternyata kanker usus besar," ujarnya.

Kanker usus besar atau kanker kolorektal yang ia idap sudah mencapai stadium 3B dan harus segera ditangani. Dan iapun menjalani operasi yang memotong sebagian usus besarnya di bagian kanan.



Kini Berthie telah berusia 60 tahun dan memiliki dua cucu, tak akan ada yang pernah mengira bahwa ia pernah alami kanker. Bagi Berthie, yang dialaminya bukanlah hal yang harus ia pikirkan terus-menerus, karena mati sudah ada Tuhan yang mengatur.

"Harapan hidup kanker paru kan katanya 3 tahun aja, saya bisa hidup sampai sekarang mungkin Tuhan suka sama saya makanya masih dipelihara sampai sekarang," selorohnya.

Kini ia juga menjadi relawan di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan aktif berkumpul dengan para pengidap kanker. Berthie mengungkapkan bahwa pasti semua yang terdeteksi kanker akan drop, terutama pengidap kanker kolorektal yang harus mengenakan kantung colostomy bag karena sebagian besar merasa minder.

Berthie menyebut kunci paling penting dari para pengidap kanker adalah rasa bahagia. Ia tetap berpegang pada prinsip bahwa penyakit yang ia idap bukanlah sesuatu yang harus ia sesalkan atau terus-terusan jadi pikiran.

"Sampai hari ini saya enggak pernah buka google apa penyakit saya apa obat saya, enggak. Saya enggak mau. Jangan kita yang mikir, nanti stres. Habis dari dokter, nanti di rumah mikir, waaah capek."

"Yang paling penting jangan lupa bahagia. Bahagiaku, bahagiamu, itu beda, kalau saya bahagia lihat cucu," lanjutnya seraya tertawa dan menunjukkan kepada wartawan foto kedua cucunya yang menjadi foto latar di telepon selulernya.

Disampaikan olehnya juga bahwa ia bersyukur kedua anak lelakinya tak doyan merokok. Bahkan diceritakan olehnya setelah ia menjalani operasi kedua anaknya sempat membelikan celengan dan memintanya untuk memasukkan uang yang dipakainya untuk merokok ke dalam celengan tersebut.

Pria yang pernah mengikuti kejuaraan softball tingkat ASEAN pada tahun 1987 lalu juga tak berhenti berolahraga. Beberapa olahraga masih sanggup ia lakukan, kecuali berlari.

"Masih aktif olahraga, saya sama kayak kalian. Cuma bedanya kalian paru-paru, saya paru, hahahaha..," kelakarnya.

(Frieda Isyana Putri/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT