Selasa, 26 Jun 2018 10:42 WIB

True Story

Sering Nyeri Saat Haid, Wanita Ini Harus Alami Menopause di Usia 22

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Instagram/katyjjo Foto: Instagram/katyjjo
Jakarta - Pada usianya yang baru saja menginjak 22 tahun, Katy Johnston asal Skotlandia mengalami menopause dini. Dokter memutuskan untuk 'mengistirahatkan' sistem reproduksinya akibat endometriosis parah yang ia alami bertahun-tahun.

Endometriosis adalah sebuah kondisi kronis di mana sel-sel yang berada di dinding rahim berkembang di bagian lain dalam tubuh. Selama bertahun-tahun, kondisi tersebut telah menyebabkan nyeri di tubuhnya hingga membuatnya harus cuti kuliah dan mempertanyakan kesuburannya.

"Aku dulu muntah enam atau tujuh kali per hari dan tak bisa berjalan keluar tanpa merasa pusing. Sangat menyedihkan. Keram haid yang menghebohkan, nyeri akut dan kelelahan, muntah, pingsan, seks yang menyakitkan, cemas dan depresi membuatku sangat terisolasi," kata Katy, dikutip dari BBC, Selasa (25/6/2018).

Ia juga menyebutkan tak bisa pergi keluar bersama teman-teman, atau melakukan segala ekstrakurikuler di kampusnya yang ia senangi, seperti menyanyi. Berdiri dan melakukan pemanasan untuk menyanyi cukup berlebihan untukku dalam waktu yang lama.


Untuk mendapatkan diagnosis, ia harus membutuhkan proses yang sangat lama dan berbulan-bulan untuk pergi bolak-balik ke rumah sakit. Ia menyebutkan bahwa dokter yang menanganinya tak paham apa yang ia alami, membuatnya sangat frustasi.

September tahun lalu setelah wisudanya, ia mulai turun bobot, nyaris 19 kilogram. Lalu ia menjalani laparoskopi yang menunjukkan adanya kista ovarium, endometriosis stadium empat, dan menurut dokter bedahnya, salah satu kasus terburuk yang pernah ia liat pada wanita seusianya.

Ia disarankan untuk menjalani operasi. Saat pelaksanaan, dokter bedahnya menemukan bahwa salah satu indung telurnya telah melebar sebesar rahimnya, dan juga usus serta rahimnya telah menyatu.

Akhirnya, Katy sangat disarankan untuk membuat tubuhnya berada dalam induksi menopause medis. Dokter menyebutkan itu adalah salah satu jalan untuk memungkinkan kesuburannya terjaga.

Katy akan tetap berada dalam kondisi menopause kurang lebih satu tahun sebelum menjalani operasi lagi. Tiap tiga bulan sekali, ia akan disuntik dengan tujuan memberikan kesempatan pada sistem reproduksinya untuk 'menenangkan diri'.


"Aku adalah sebuah kekacauan hormonal. Aku sedang dalam HRT (hormon replacement therapy atau terapi penggantian hormon) dan aku mengalami kepanasan (hot flushes) sekitar empat sampai lima kali sehari. Aku jadi pusing, keram, dan juga emosi yang berubah-ubah cepat," kata Katy.

Hot flushes adalah gejala yang umum dirasakan oleh wanita setelah memasuki masa menopause. Gejalanya berupa rasa panas di dalam tubuh, diikuti dengan keluarnya keringat, serta jantung yang berdebar-debar.

Katy menyebut apa yang ia alami ini sangat mengerikan. Namun menurutnya mengalami gejala menopause lebih baik daripada terjebak di rumah dan tak bisa bergerak atau ke mana-mana.

"Menjalani menopause di usia 22 tahun adalah hal paling aneh di dunia. Merupakan konsep yang mencengangkan untuk seseorang yang berkata 'Aku akan menahan ovariummu sementara' tapi akankah mereka kembali? Yah, mereka bilang bisa."

Kini Katy juga aktif dalam membantu para pengidap endometriosis lainnya lewat akun media sosial yang ia buat. Dalam akunnya tersebut, ia menyebarkan kepedulian pada wanita yang mungkin mengidap endometriosis namun hanya diam dan tak bisa meminta bantuan medis.

Ia berkata, "Kita harus mengenali dalam pikiran kita bahwa ada sesuatu dan kita punya hak untuk membicarakannya. Jika satu dokter tak mendengarkanmu, carilah orang lain. Kita harus menghentikan kesunyian di sekitar endometriosis. Sebagai wanita, kita harus berjuang bersama dan membagi pengalaman kita. Kita harus mampu untuk membicarakannya."

[Gambas:Instagram]


(frp/up)