Selasa, 26 Jun 2018 15:03 WIB

Cerita Wanita Bergaya Hidup Sehat yang Terkena Stroke di Usia 41 Tahun

Widiya Wiyanti - detikHealth
Sudah menerapkan gaya hidup sehat, wanita ini terkena stroke. Foto: Thinkstock Sudah menerapkan gaya hidup sehat, wanita ini terkena stroke. Foto: Thinkstock
Jakarta - Tak pernah menyangka dalam hidup Dina Piersawl akan mengalami salah satu penyakit yang bisa mematikan, yaitu stroke. Terlebih lagi, wanita dari Chicago, Amerika Serikat ini selalu menerapkan gaya hidup sehat.

Ceritanya dimulai saat libur natal dan tahun baru. Ia merasa pusing dan merasa berat di bagian dadanya. Dina akhirnya dibawa ke unit gawat darurat (UGD) dan mendapati bahwa tekanan darahnya meningkat.

Hingga 48 jam berikutnya, rasa sakit di dadanya tidak berhenti, kepalanya sakit, dan Dina tidak bisa tidur. Untuk kedua kalinya ia dilarikan ke UGD.

"Jadi saya kembali ke UGD. Sekali lagi, saya diberi tahu bahwa saya mengalami peningkatan tekanan darah. Kali ini staf melakukan serangkaian tes dan dokter mendiagnosis bahwa saya mengalami stroke," ujarnya seperti dikutip dari Health.


Seketika Dina merasa sangat terkejut, diagnosis itu tepat dua minggu setelah ulang tahunnya yang ke 41. Ia hampir tak percaya, seorang yang pernah menjadi atlet di perguruan tinggi, seorang pelari, seorang pelatih bersertifikat, seorang yang tidak pernah sakit, dan selalu menerapkan hidup sehat kini mengalami stroke.

"Dokter menunjukkan X-ray otak saya dan menunjuk ke tempat gelap di mana pembuluh darah telah pecah. Itu nyata," tutur Dina.

Stroke yang diidapnya merupakan akibat langsung dari hipertensi yang tidak terdiagnosis. Hipertensi adalah 'silent killer', yaitu pembunuh secara diam-diam jika tidak disadari sejak awal.

"Saya makan sehat, dan berolahraga secara teratur. Tetapi saya memiliki riwayat keluarga hipertensi. Baik ibu dan ayah saya memiliki tekanan darah tinggi," ungkap Dina.

Kerusakan yang diidap Dina di otak menyebabkan kelemahan di bagian kiri tubuhnya, terutama lengan dan kaki. Ia menjalani empat minggu terapi fisik dan satu bulan terapi rawat jalan. Ia juga melakukan terapi bicara selama satu bulan.


Dina mengaku mendapatkan pengalaman mendekati kematian yang membuatnya merasa selalu takut. Selama berbulan-bulan ia merasa khawatir setiap ada perubahan dalam dirinya.

"Secara keseluruhan, pemulihan saya memakan waktu sekitar satu tahun. Saya tahu bahwa saya sangat beruntung dapat bertahan hidup. Seandainya saya tidak kembali ke UGD, saya tidak akan hidup hari ini," katanya.

Beruntungnya, saat ini sudah 13 tahun berlalu. Dina menjalani hari-harinya dengan makan sehat dan berolahraga. Dan yang terpenting adalah menyesuaikan diri dengan tekanan darah. Memonitor tekanan darah setiap hari sangat membantu dirinya untuk mencegah stroke datang kembali.

"Saya menggunakan monitor tekanan darah di rumah untuk melakukan pembacaan setidaknya tiga kali seminggu," imbuhnya.

Tidak ingin orang lain seperti dirinya, Dina ingin orang lain tahu tentang kisahnya. Penyakit jantung, stroke, ataupun serangan jantung bisa terjadi pada siapa saja bahkan pada mereka yang memiliki gaya hidup sehat.



Ini juga video tentang Hari Moekti Terkena Stroke

[Gambas:Video 20detik]



(wdw/up)
News Feed