Rabu, 26 Sep 2018 13:48 WIB

True Story

Bahagianya Febi Lepas dari Derita Punggung Melengkung 100 Derajat

Aditya Mardiastuti - detikHealth
Kelengkungan tulang belakang yang dialami Febi mencapai 100 derajat hingga menyentuh paru-paru. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth) Kelengkungan tulang belakang yang dialami Febi mencapai 100 derajat hingga menyentuh paru-paru. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth)
Denpasar - Luh Putu Febi Sriandari (23) kini sudah bisa tersenyum semringah. Pascaoperasi skoliosis langka dirinya kini sudah bisa kembali beraktivitas dan berjalan tegak.

"Sudah mandiri, bisa jalan dan ke toilet sendiri. Perubahannya lebih balance," kata Febi saat ditemui di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Selasa (25/9/2018).

Febi tak hentinya menyunggingkan senyum semringah, meski sesekali napasnya masih terlihat tersengal-sengal ketika berbincang. Dia mengaku berani menjalani operasi setelah mengikuti seminar tentang skoliosis yang digelar dr I Gusti Lanang Artha Wiguna Sp OT(K).

"Karena sudah lama dulu kan 40 derajat, kontrol terus 2016 saya ikut seminar dokter Lanang, 'Dok skoliosisnya saya sudah parah ternyata (saat diperiksa) sudah 90 derajat. Terus saya ikut banyak forum, ternyata 45 derajat harus operasi sementara skoliosis saya progresif, makin tua makin parah. Orang tua aja yang nggak skoliosis aja nyeri apalagi saya. Jadi motivasinya pengin hidup yang lebih baik," terangnya.

Tak hanya itu, Febi menambahkan dukungan dari keluarga dan orang terdekat menjadi pemantik semangatnya untuk menjalani operasi. Sebab, dia juga sadar konsekuensi fatal dari operasi skoliosis yakni cacat seumur hidup bahkan meninggal.

"Perasaan sebulan ini naik turun, semangat lagi, down lagi, lihat hasil operasinya dari 100 derajat paling bisa berkurang 10-20 derajat. Ya syukur bisa sampai 40 derajat. Dari orang tua, pacar juga kebetulan dukung, sama dokter Lanang juga banyak diajak konsultasi 8 bulan ini, dicarikan second opinion beruntung dokter mau ambil saya jadi nggak harus keluar kota, jadi senang sekali," ujarnya.



Febi menyadari punggungnya melengkung karena skoliosis sejak duduk di bangku SMP.Febi menyadari punggungnya melengkung karena skoliosis sejak duduk di bangku SMP. Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth


Febi bercerita dia mulanya tak menyadari jika menderita skoliosis. Saat remaja, tepatnya saat SMP, orang tuanya malah yang menyadari ada kelainan di tubuhnya.

"(Sadarnya) Dari SMP kelas tiga, usia 15 tahun, ibu lihat payudara kok besar sebelah. Saat itu masih 40 derajat itu kecil, paling kalau nyeri nggak sampai minum obat tiduran aja. Waktu SMP itu biasa aja, (mulai terasa) berat itu umur 20 itu sudah nyeri banget," terangnya.

Beranjak dewasa dia mulai rutin berkonsultasi ke dokter dan mantap melakukan operasi. Dia mengaku rutin berolahraga untuk melemaskan otot dada dan jantung.

"Olah raga renang, pilates, yoga biar gampang operasinya, buat nglatih otot. Saya sudah nyiapin (operasi sejak) 2016 karena antreannya panjang dan dipilih. Tapi biasanya kalau operasi dan fix 3 bulan traksi pake brace dicoba dilurusin, renang dari awal sudah renang biar kuat otot dadanya. Pokoknya stretching, biasa 6 bulan tapi saya (rutin olah raga) 3 bulan," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan ibunda Febi, Nyoman Suartini. Dia juga mengaku lega putri sulungnya berhasil dioperasi.

"Seneng saya bersyukur dokternya bisa berhasil operasinya seperti yang kita inginkan. Karena kan dia sering capek dikit-dikit ngos-ngosan, kayak nyeri kan kasihan. Segala resikonya dijelaskan kita beranilah percayakan sama dokternya untuk operasi. Saya siap, karena anak saya yang siap, kita kan sebagai orang tua harus dukung biar mentalnya nggak down," ujar Suartini.

(ams/up)
News Feed