Selasa, 23 Okt 2018 10:00 WIB

True Story

Sus Konda, Saksi Perjuangan Para Penyintas Kanker Anak RS Prof Kandou Manado

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Ns Konda Tawalujan, SKM, SKep, MKes, Kepala Ruangan Pusat Kanker Estella RS Prof Kandou Malalayang (Foto: Aisyah/detikHealth) Ns Konda Tawalujan, SKM, SKep, MKes, Kepala Ruangan Pusat Kanker Estella RS Prof Kandou Malalayang (Foto: Aisyah/detikHealth)
Jakarta - Kala itu detikHealth tiba di Klinik Kanker Anak Estella dan Guest House RSUP Prof Kandow Manado. Di tengah Roadshow Goes to Manado Cancer Buster Community (CBC), nampak salah satu suster yang sangat ceria menghibur pasien anak-anak yang memeluk mainan di dada mereka.

Ialah Ns Konda Tawalujan, SKM, SKep, MKes, Kepala Ruangan Pusat Kanker Estella RS Prof Kandou Malalayang, Sulawesi Utara, atau yang akrab disapa Sus Konda (50). Sejak berusia 20 tahunan, ia mengabdikan diri berkecimpung di dunia kesehatan anak.

"Menangani kanker sudah 26 tahun, pasien-pasien kita ada yang sudah menikah, sudah memiliki anak yang sarjana udah sekitar 6 orang," kisahnya.

Saat itu, ia mengaku tidak menyangka takdir membawanya menjadi pendamping anak-anak penyintas kanker. Akan tetapi, melihat orang-orang di Manado masih kurang mengetahui kanker dan memprediksi kanker itu mematikan hingga membuat anak-anak berhenti melakukan pengobatan, ia tergerak.

"Melihat anak-anak itu, aku ingin mereka ini survive. Duapuluh tahun lalu tuh tidak seperti sekarang, dulu saja enggak punya mobil, kita home visit, jemput mereka, biar tidak drop out obatnya, tapi sekarang lumayan, tapi kami memang kesulitan di transportasi karena sudah lebih tua, nyetir sendiri ke rumah pasien capek memang," akunya sambil tersenyum tipis.

Melihat anak-anak itu, aku ingin mereka ini surviveNs Konda Tawalujan, SKM, SKep, MKes, Kepala Ruangan Pusat Kanker Estella RS Prof Kandou Malalayang




Ada tantangan tersendiri ketika memutuskan untuk berkecimpung di dunia perawatan pasien kanker anak. Apalagi untuk usia praremaja yang sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Karena itu, menjadi seorang suster juga mengharuskannya bisa menjadi 'psikolog' untuk menumbuhkan semangat anak-anak.

"Anak-anak kanker paling sulit untuk (menghadapi) anak-anak usia praremaja, ada yang sampai bunuh diri. Psikolog kita di Manado masih kurang, belum tercover di sini. Kita di sini yang jadi psikolog juga. Jadi sangat sulit, ada yang sampai mengunci diri di kamar mandi. Orangtuanya telepon kita meluncur ke sana, kalau perawatnya didengar (anak-anak mau menurut). Itu yang sulit bagi pasien praremaja karena mereka tidak bisa menerima," ujarnya.

Suster Konda mengaku banyak belajar dari pengalamannya menjadi suster di sana, terutama belajar untuk menghadapi kehidupan dari anak-anak pasien kanker. Keceriaan serta upaya mereka untuk mencapai kesembuhan membuat Suster Konda salut. Terkadang, para suster sampai mengajak anak-anak ke mal untuk bermain atau makan bersama. Intinya kegiatan apapun yang bisa membuat senyuman hadir dari wajah mereka.



"Tetapi yang sangat menyulitkan ketika kita harus melakukan perawatan paliatif (perawatan stadium akhir) lalu anaknya bilang 'tolong suster tolong doain, kita ingin hidup' itu yang membuat kita bingung. Kalau kita tahu paliatif, giliran sudah kritis kita harus tanyain, kita bantu, kita siapin. Kalau giliran dia mau baju tentara, dia mau meninggal, kita harus cari. Di mana pun tokonya," kisahnya sambil menahan air mata.

Ya, begitulah suka duka yang dialami oleh Suster Konda dan 16 perawat lainnya di Klinik Kanker Anak Estella. Meski begitu, ia bertekad akan terus membantu semua pasien kanker anak untuk mendapatkan kesembuhan.

"Tetap semangat, apapun itu, kami akan berjuang supaya mereka semangat. Mereka harus mengalami derita dengan rintihan, kami tetap bersama mereka, tetap mendampingi mereka sampai kapanpun," pungkasnya.





Tonton juga 'Kanker Tak Halangi Mereka untuk Berkarya':

[Gambas:Video 20detik]

(ask/up)
News Feed