Senin, 11 Feb 2019 19:06 WIB

Gara-gara Kecelakaan di Jalan, Wanita Ini 10 Tahun Tak Bisa Rasakan Orgasme

Rosmha Widiyani - detikHealth
Kecelakaan membuat Helen sempat kehilangan kemampuan untuk orgasme. (Foto ilustrasi :Andhika Akbaryansyah) Kecelakaan membuat Helen sempat kehilangan kemampuan untuk orgasme. (Foto ilustrasi :Andhika Akbaryansyah)
Jakarta - Seorang wanita, yang menyebut dirinya Helen, sempat tidak bisa merasakan kenikmatan seks selama 10 tahun. Hal ini berawal dari kecelakaan motor yang dialaminya saat berusia 18 tahun. Helen yang tidak mengalami luka luar perlahan mengalami mati rasa dan kesemutan di salah satu sisi tubuh.

"Saya merasa sakit dan tidak bisa menikmati hubungan seks. Hal ini selalu terjadi dengan partner seks saya yang lain. Saya sempat memberi seks toy demi merasakan orgasme namun tidak bisa membantu," kata Helen yang kini berusia 31 tahun dikutip dari Mirror.



Selain rasa sakit, Helen juga merasakan dampak lain usai kecelakaan motor. Helen mengalami paraesthesia kronis, yaitu sensasi seperti ditusuk jarum yang intens dan mati rasa. Selain itu, Helen selalu merasa ingin pipis namun tidak ada air seni yang keluar. Jika akhirnya berhasil pipis, Helen akan merasakan sensasi yang sama dalam 30-60 menit kemudian.

Helen yang sempat ke dokter mendiagnosa kondisi tersebut sebagai multiple sclerosis. Namun diagnosa tidak didukung hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang memadai. Helen sempat merasa dirinya mengalami hypochondriac, yaitu pasien yang merasa sedang sakit padahal dalam kondisi sehat. Helen awalnya tak menceritakan sensasi menyakitkan usai berhubungan seks.

Dokter awalnya tak menanggapi keluhan Helen dengan serius. Namun pada usia 26 tahun, Helen mulai mendapat pencerahan setelah berkonsultasi pada seorang urologis. Dokter menjelakan kondisi langka yang disebut Sindrom Fowler. Kondisi ini terjadi saat kandung kemih tidak bisa rileks yang mengakibatkan urin tertahan.



Helen dirujuk ke Departemen Uro-Neurology yang ada di University College Hospital, London. Setelah menunggu selama 2 tahun, Helen mendapat giliran periksa salah satunya dengan mendengarkan irama tubuh lewat microphone kecil. Sindrom Fowler ditandai ada suara seperti ikan paus berenang. Helen akhirnya terdiagnosa dengan kondisi tersebut, yang mungkin diakibatkan trauma usai kecelakaan motor. Dokter menyarankan Helen melakukan operasi pemasangan alat yang disebut InterStim. Alat tersebut masih dalam tahap pengembangan namun dalam beberapa kasus terbukti bisa bermanfaat.

InterStim adalah alat elektronik yang dipasang di pangkal leher. Alat ini merangsang kerja saraf yang berada di pinggul untuk memperbaiki kondisi yang terjadi pada Helen. InterStim tidak hanya mengatasi masalah kandung kemih tapi juga meningkatkan fungsi seksual. Akhirnya, Helen memutuskan memasang InterStim pada usia 28 tahun di 2015. Sejak saat itu Helen merasakan perbaikan pada tubuhnya.

Helen mulai merasakan orgasme meski tidak dengan intensitas layaknya pasangan yang berhubungan seks. Helen juga mulai bisa tidur dengan nyaman tanpa merasa ingin pipis sepanjang waktu. Dengan kondisi ini, Helen merasa bersyukur atas solusi mengatasi Sindrom Fowler.

(up/up)
News Feed