Senin, 23 Des 2019 19:13 WIB

Cerita Penyintas Kanker: Uang Terkuras karena Pengobatan Alternatif

Widiya Wiyanti - detikHealth
Esther seorang penyintas kanker payudara. (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Jakarta - Di Indonesia pengobatan alternatif banyak sekali diminati masyarakat. Terutama untuk pasien dengan penyakit mematikan, layaknya kanker, kerap mencari pengobatan alternatif yang diklaim dapat menyembuhkan.

Soal pengobatan alternatif, Ester (60), pasien kanker payudara yang juga dari Komunitas Cancer Information and Support Center Association (CISC) berbagi pengalamannya. Ia memilih pengobatan alternatif untuk menyembuhkan benjolan di payudara kanannya, namun menjadi sia-sia.

Berawal dari tahun 1997, saat pertama kali ia menemukan adanya benjolan di payudara kanan, Ester tak segera mengunjungi dokter. Ia justru mendatangi praktik pengobatan alternatif herbal dan mengonsumsi semacam ramuan yang sudah diracik.

"Saya nggak tabu apa saja, ramuannya nggak tahu apa saja. Sama tusuk jarum di bagian yang benjol. Pada tahun 97, Rp 350 ribu per datang," ungkap Ester.


Namun karena disarankan untuk datang setiap hari, Ester memutuskan untuk pindah pengobatan alternatif. Ia menemukan pengobatan alternatif lain yang sama berupa ramuan herbal.

"Saya tanya dia bilang 'ini bukan kanker tenang saja' katanya gitu. 'Ibu jangan dioperasi bisa nyebar, ibu jangan dikemo nanti mati, jangan disinar bisa kanker kulit'. Saya orang yang lagi ketakutan digituin tambah ketakutan," cerita Ester.

Pada pengobatan yang kedua ini Ester lalui selama kurang lebih tiga tahun. Padahal keluarga dan teman-temannya menyarankan Ester untuk mengunjungi dokter, namun tetap ditolak mentah-mentah.

Sampai akhirnya pengobatan alternatif itu tak menunjukkan hasil membaik, justru benjolan di payudara kanannya semakin mengeras dan kencang serta timbul rasa sakit yang luar biasa.

Baca juga:

Namun hal itu belum membuat Ester kapok. Ia masih terus melanjutkan pencarian pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan sakitnya itu. Ester pun menemukan pengobatan alternatif sejenis refleksi.

"Dia bilang dijaga jangan sampai pecah (benjolannya). Dari situ saya mikir, kok bisa pecah? Gimana jaganya kan di dalam. Jadi benjolannya masuk ke dalam. Seperti dibetot ditarik sakit luar biasa. Karena sakit gitu baru mau cari dokter," tutur Ester.

Pencarian pun berakhir, harapan satu-satunya Ester adalah dokter. Ia pun melakukan serangkaian pemeriksaan hingga diagnosis mengatakan bahwa Ester mengidap kanker payudara stadium 2.

Beruntungnya, dengan operasi, kemoterapi, dan radiasi bisa mengangkat kanker yang ada di payudaranya. Kini, kondisi Ester sangat membaik dan hanya memerlukan pemeriksaan dalam satu tahun sekali.

Ia pun membagikan pesat kepada seluruh pasien kanker agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya.

"Janganlah ke pengobatan alternatif, dia itu akan membuat penyakit tambah parah. Uang habis terkuras. Salah-salah nyawa kita bablas. Karena banyak teman-teman yang nyawanya tidak tertolong," tandasnya.



Simak Video "Seperti Feby Febiola, Ini Penyebab Rambut Rontok saat Kemoterapi"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)