Rabu, 21 Nov 2012 18:28 WIB

Ulasan Khas Pubertas Dini

Apa yang Perlu Dipersiapkan Orang Tua Jelang Masa Puber Anak?

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Masa puber layaknya gerbang yang menyambut anak-anak menuju tahap kehidupan yang lebih tinggi, yaitu masa remaja. Dengan problematika yang lebih kompleks, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan orang tua dan tenaga pendidik bagi anak-anak yang menjelang puber.

Yang paling perlu diperhatikan saat puber adalah perkembangan organ reproduksi yang semakin matang. Artinya, mulai muncul dorongan yang cukup besar untuk melakukan hubungan seks. Padahal remaja sebenarnya belum siap secara mental dan fisik.

"Salah satu hal yang paling penting bagi anak-anak untuk menghadapi pubertas adalah pendidikan seks. Penelitian menemukan bahwa remaja cenderung mau melakukan hubungan seks berisiko karena tak tahu apa konsekuensinya," kata Dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And spesialis andrologi dari RS Fatmawati kepada detikHealth seperti ditulis pada Rabu (21/11/2012).

Mengenalkan konsekuensi hubungan seks berisiko seperti kehamilan tak diinginkan serta penularan infeksi menular seksual akan mencegah remaja terjerumus. Selain itu, mengajarkan tanggung jawab juga akan membuat remaja berpikir ulang jika hendak melakukan hubungan seks pra nikah.

Dr Nugroho menjelaskan bahwa pendidikan seks sebaiknya dimulai sejak dini, bahkan idealnya sejak anak-anak sudah belajar berbicara. Pada tahap awal, pendidikan dapat dilakukan dengan cara mengenalkan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Materinya semakin ditingkatkan seiring pertumbuhan anak.

"Menjelang puber, anak-anak sebaiknya mulai diberitahu bahwa nanti dia akan mengalami mimpi basah kalau pria dan keluar darah menstruasi pada wanita. Penelitian menemukan bahwa hanya 10 persen laki-laki yang mendapat informasi ini dari orang tuanya, sedangkan pada perempuan lebih banyak, yaitu 90 persen," kata dr Nugroho.

Banyaknya gadis muda yang mendapat pendidikan seks ini nampaknya merupakan pertanda bahwa orang tua lebih menaruh perhatian besar kepada anak gadisnya. Mungkin karena menstruasi seringkali menimbulkan kepanikan saat pertama kali dialami. Namun seharusnya anak laki-laki juga perlu mendapat porsi yang sama.

Pada anak-anak remaja, yang perlu diajarkan adalah kesehatan reproduksi dan fungsi organ-organ reproduksi. Apabila tidak diberi pendidikan seks, remaja memilki kecenderungan untuk mencari jawaban sendiri atas rasa penasarannya. Yang berbahaya adalah apabila remaja mencari jawaban dari orang atau media yang salah, misalnya dari film biru atau pornografi.

Informasi yang keliru ini justru membuat anak melakukan tindakan seksual tanpa menyadari konsekuensinya. Apalagi untuk anak yang mengalami puber terlalu cepat, kematangan seksualnya kurang diimbangi dengan perkembangan kedewasaan. Akibatnya ia jadi lebih rentan terjerumus dalam perilaku seksual berisiko.

Untuk membuat anak-anak mendapat informasi yang benar, orang tua harus selalu jujur dan terbuka kepada anak. Komunikasi yang lancar dengan anak adalah faktor kunci yang membentengi anak mencari informasi dari sumber lain selain orang tua. Di sekolah, guru juga sebaiknya mulai mengajarkan pendidikan seks secara proporsional.

"Apabila ada pertanyaan dari anak yang sekiranya vulgar atau sensitif, jangan dijawab di depan anak-anak lain sehingga membuat anak-anak lain terusik penasarannya. Berikan penjelasan yang jelas kepada anak sesuai dengan usianya secara pribadi atau terpisah dari teman lainnya, misalnya anak tersebut dipanggil ke ruang guru," terang dr Nugroho.



(pah/vit)