Kamis, 14 Jan 2016 19:45 WIB

Good Sleep Setting

Ketahuan Kurang Tidur, Harus Kemana Sih?

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Topik Hangat Good Sleep Setting
Jakarta - Meski dikatakan sebagai kebutuhan, nyatanya tidur belum menjadi prioritas. Ketika akhirnya mengalami gangguan tidur, tak ada yang tahu. Tahu-tahu penyakit yang dipicu gangguan tidur terlanjur menghampiri.

dr Andreas Prasadja, RPSGT dari RS Mitra Kemayoran mengungkapkan ada beragam jenis gangguan tidur. Ada yang kurang tidur, susah tidur atau insomnia, tapi ada juga yang sering terbangun saat tidur.

Namun dari sekian banyak jenis gangguan tidur, kurang tidur bisa jadi yang paling banyak terjadi sekaligus paling sering tidak disadari.

Ciri-ciri orang yang kurang tidur menurut dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT dari RS Medistra adalah cenderung emosi, cepat letih dan sering terlihat mengantuk di siang hari padahal tidak begadang.

Baca juga: Sering Begadang karena Kerja Shift? Pola Tidurnya Bisa Disiasati Seperti Ini

Tapi jika ingin memastikan apakah seseorang kurang tidur atau tidak, dokter bisa saja dilakukan sleep test (tes tidur). Akan tetapi di Indonesia, baru ada beberapa rumah sakit saja yang memiliki klinik dan laboratorium tidur, itupun di ibukota.

dr Rima mengatakan dalam tes ini, pasien diajak ke laboratorium dan kebiasaan tidurnya dipantau selama beberapa jam oleh dokter. "Di RS Medistra biayanya sekitar Rp 3,7 juta. Waktu tesnya sekitar 5 jam," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Jika masih meragukan, tes serupa juga bisa dilakukan di rumah karena kadang-kadang perbedaan suasana antara di kamar sendiri dengan di laboratorium bisa mempengaruhi hasil tes. Untuk tes di rumah, tekniknya adalah skrining kadar oksigen dalam darah dengan alat seharga sekitar Rp 100-159 ribu.

Baca juga: Tidur Nyenyak Selepas Bercinta, Bisakah Diresepkan pada si Insomnia?

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pola tidur? "Pertama, kurang lebih prioritaskan tidur. Luangkan waktu untuk itu. Sebab kebanyakan bukan nggak bisa tidur tapi waktu untuk tidurnya nggak ada," tegas dr Andreas atau akrab disapa dr Ade ini.

Orang yang mengalaminya punya segudang alasan untuk 'ngeles' sehingga tidak memenuhi kebutuhan tidurnya, semisal lembur atau lebih memilih bermain video game.

Konsumsi obat tidur juga tidak direkomendasikan, meski jika kasus kurang tidurnya masih tergolong ringan. "Kalau sudah parah ya ke dokter," saran dr Ade. (lll/up)
Topik Hangat Good Sleep Setting
News Feed