ADVERTISEMENT

Rabu, 19 Des 2012 14:04 WIB

Ulasan Khas Autisme

Saat Puber, Perubahan Mood Beberapa Anak Autis Lebih Dahsyat

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Layaknya anak normal, seiring dengan bertambahnya usia anak-anak autis juga akan memasuki masa puber. Hal ini tentu diikuti dengan perubahan fisik dan psikologis. Lalu bagaimana anak autis menghadapi pubertas?

Sebenarnya masa pubertas anak autis sama dengan anak-anak lainnya, yang disertai dengan perubahan fisik, hormon, psikologis. Mereka juga mulai tertarik dengan lawan jenis dan juga perubahan mood khas anak-anak remaja.

Namun pada beberapa anak autis yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi atau autis non verbal, perubahan mood akan terjadi lebih dahsyat.

"Perubahan mood pada anak autis non-verbal biasanya lebih dahsyat. Kalau anak puber kan biasanya memang sering berubah mood, tapi kalau mereka (anak autis yang puber) jadi lebih-lebih, lebih gampang tersinggung, marah, sedih, cemas," tutur Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S, psikolog sekaligus pendiri sekolah khusus anak autis 'Mandiga', saat dihubungi detikHealth, Rabu (19/12/2012).

Adriana yang juga merupakan dosen psikologi di Universitas Indonesia ini mengakui bahwa konflik yang dihadapi saat anak autis beranjak remaja bisa lebih pelik karena memiliki hambatan dalam mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya.

Ketika remaja, banyak hal yang berubah dalam diri anak autis. Perkembangan kognitifnya sebenarnya juga berkembang dan sudah memiliki kemampuan berpikir logis yang baik.

Namun satu hal yang tidak berubah adalah egosentrisnya, anak autis masih melihat segala sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri. Ketika anak autis memiliki kegelisahan dan tidak dapat mengungkapkannya, maka ia cenderung menjadi marah, sedih dan frustasi.

Banyak dijumpai kasus anak autis yang sudah mendapat terapi saat anak-anak dan bisa bersikap tenang kemudian berubah menjadi suka memberontak ketika memasuki masa remaja. Beberapa faktor penyebabnya adalah karena mulai menyukai lawan jenis dan muncul dorongan seksual, tapi tidak tahu cara menyampaikan atau mengatasinya.

"Yang menjadi masalah, karena mulai muncul kebutuhan seksual, masalah masturbasi, tertarik lawan jenis tapi responsnya tidak tepat. Misal, naksir cewek tapi diikutin ke mana-mana, melihat anak-anak perempuan di mal terus nempel-nempel, sampai akhirnya yang ditaksir merasa risih," lanjut Adriana.

Nah, disinilah peran orang tua diperlukan. Orang tua perlu menjelaskan perubahan apa saja yang akan terjadi di tubuh anak, seperti tumbuhnya rambut pubis, kebutuhan masturbasi dan lainnya, serta bagaimana merawat atau melakukannya.

"Pada perempuan harus dipersiapkan lebih, karena mereka akan mengalami menstruasi. Jadi harus dijelaskan agar bisa mengerti, bisa dijelaskan dengan kata-kata atau gambar untuk anak autis non verbal. Pendidikan seksual seperti pengenalan alat reproduksi juga perlu diberikan," jelas Adriana.

(mer/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT