Senin, 28 Jul 2014 08:12 WIB

Stop Bertanya Kapan Kawin

Ragam Cara Menghadapi Pertanyaan Jayus 'Kapan Kawin?'

Firstrianisa Gustiawati - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Momen kebersamaan saat kumpul bersama hari lebaran bisa rusak oleh pertanyaan-pertanyaan sensitif seputar pilihan hidup. Meski ada yang menganggapnya biasa saja, sebagian orang mengalami teror mental saat ditanyai 'kapan kawin?'

Tidak jarang pertanyaan seperti ini membuat orang yang ditanya menjadi stres bahkan takut untuk bertemu dengan keluarga yang jarang ditemui. Tidak semua orang nyaman untuk terbuka menyampaikan alasannya, misalnya karena belum mempunyai pasangan atau memang terpikir untuk menikah.

Memang ada sebagian orang yang menganggap pertanyaan ini sebagai basa-basi untuk membuka topik pembicaraan di antara kerabat yang sudah lama tidak bertemu. Biasanya orang tersebut berasal dari kelompok usia di bawah 25 tahun, yang merasa belum ada keharusan untuk menikah.

Feni (22) misalnya, seorang mahasiswi Antropologi Universitas Indonesia kerap mendapatkan pertanyaan seperti itu dari om atau tantenya. Walaupun begitu, Feni tidak merasa sungkan untuk tetap menemui mereka pada lebaran tahun ini meski pasti akan menjumpai lagi pertanyaan yang sama.

"Saya merasa masih muda dan belum mendesak untuk menikah. Masih menikmati status single, jadi biasanya saya jawab sambil bercanda saja," kata Feni kepada detikHealth, seperti ditulis Senin (28/7/2014).

Begitu pula dengan Diko (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia yang juga mengapat pertanyaan serupa dari om atau tantenya. Dia bahkan sampai hafal dengan template pertanyaan yang akan dimulai dengan "Jadi, sekarang pacarnya siapa?" lalu berlanjut dengan pertanyaan "Jadi kapan kawin?"

Diakui Diko, pertanyaan seperti itu kadang membuatnya malas untuk berkumpul saat silaturahmi. Namun Diko tak mau menanggapi serius pertanyaan ini. Sama seperti Feni, Diko pun lebih memilih menjawab pertanyaan tersebut dengan candaan santai.

"Gue balikin saja pertanyaan dia sambil ngeles," ujar Diko. Sayang, ia tak menjelaskan bagaimana caranya ngeles tanpa membuat orang yang bertanya tersinggung.

Kondisinya tentu agak berbeda ketika pertanyaan seperti ini disampaikan pada kelompok usia 30 tahun ke atas. Oleh kebanyakan masyarakat, belum menikah di usia ini masih dianggap sebagai hal yang memalukan. Pertanyaan 'kapan kawin' pun kerap disertai dengan tawaran-tawaran untuk menjodohkan.

"Pertanyaan seperti itu sulit untuk dijawab karena ada hal privasi yang orang lain tidak perlu tahu," kata seorang perempuan lajang dengan karir matang di Jakarta, sebut saja Nia (30).

Menanggapi pertanyaan tentang jodoh, Nia mengaku lebih suka diam. Hal yang sama, menurutnya juga dilakukan teman-teman seusianya yang merasa tersinggung dengan pertanyaan semacam itu. Meski tak banyak, ada pula yang menjawabnya dengan serius tentang faktor apa saja yang membuat mereka telat menikah.

Ulasan khas edisi spesial Lebaran akan membahas urusan jodoh yang cukup sensitif ini. Akan ada pandangan dari psikolog tentang teror mental yang dialami kaum 'lajang berumur', juga pendapat para dokter tentang usia ideal untuk menikah dan punya anak.

Selamat menikmati, dan jika punya pengalaman menarik seputar pertanyaan 'kapan kawin' silakan kirim ke redaksi@detikHealth.com.



(up/up)