Rabu, 19 Nov 2014 12:02 WIB

Kontroversi Rokok Elektrik

Pendapat Vaper: Rokok Elektrik Bukan untuk Non-perokok!

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Pendapat-pendapat miring tentang rokok elektrik membuat sebagian pemakainya, yang biasa dijuluki vaper, merasa tersudutkan. Meski tetap ada dampak buruk bagi kesehatan, bahaya rokok elektrik diyakini tidak sebesar rokok tembakau.

Januar, seorang pembaca detikHealth mengaku kurang setuju dengan pendapat-pendapat miring tentang vaping. Berkat rokok elektrik, Januar sudah 4 tahun sukses meninggalkan kebiasaan mengisap rokok tembakau. Sebelumnya, ia sudah kecanduan rokok selama 8 tahun.

Memang tidak benar-benar membuat orang berhenti merokok, tapi rokok elektrik menurut Januar bisa mengalihkan perokok tembakau aktif menjadi perokok uap. Ia sendiri memilih produk rokok elektrik yang tidak mengandung nikotin agar terhindari dari Throat Hit atau rasa 'nyegrak' di tenggorokan.

"Orang-orang yang memang tidak merokok lebih baik jangan. Jangan karena lagi booming sekarang ini, jadinya ikut-ikutan nyoba vaping," kata Januar melalui email kepada detikHealth, Rabu (19/11/2014).

Yos, seorang penjual sekaligus pengguna rokok elektrik setuju bahwa produk ini perlu dibuatkan peraturan. Bukan dilarang sama sekali, tetapi perlu ada standar yang mengatur keamanan serta dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satunya, terkait kandungan nikotin di dalamnya.

"Jadi aturan ini kalau bisa larang yang ada nikotinnya, bikin semua isinya non-nikotin. Percuma kita berhenti merokok tapi kemudian kita ketergantungan vaping," kata Yos.

Sejak diperkenalkan di China sekitar tahun 2003, rokok elektrik menjadi perdebatan di kalangan praktisi kesehatan. Di satu sisi dianggap bisa mengatasi ketergantungan terhadap rokok tembakau, di sisi lain bisa menjadi pintu masuk untuk mulai berkenalan dengan rokok betulan.

(up/vit)
News Feed