Rabu, 19 Nov 2014 14:10 WIB

Kontroversi Rokok Elektrik

Belum Ada Aturan, Begini Trik Vaper Kurangi Dampak Rokok Elektrik

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sedang menyiapkan peraturan tentang rokok elektrik. Selagi belum diatur, para vaper atau pemakai rokok elektrik menyiasati dampak buruknya sesuai cara dan keyakinan masing-masing.

Fajar, pembaca detikHealth yang memakai rokok elektrik menyadari adanya dampak buruk bagi kesehatan. Oleh karenanya, meski meyakini bahayanya tidak sebesar rokok tembakau, pria yang mengaku pernah belasan tahun merokok ini tidak mau berlebihan menggunakan rokok elektrik.

"Jadi pengguna harus pintar. Rata-rata sabatang rokok itu adalah sebanyak 15-20 isapan, agar sama diterapkan pada saat vaping," tutur Fajar yang sudah dua bulan beralih ke rokok elektrik, dalam email yang dikirimnya kepada detikHealth, Rabu (19/111/2014).

Lain halnya dengan Andi, pembaca detikHealth yang mengaku sudah enam bulan beralih dari rokok tembakau ke rokok elektrik. Untuk mengurangi dampak buruk rokok elektrik, ia memilih cairan pengisi yang tidak mengandung nikotin. Selama tidak ada nikotin, ia menilai rokok elektrik masih bisa diterima.

"Kandungan nikotin di dalam liquid vaping itu paling kecil adalah 6 mg. Bandingkan dengan rokok (tembakau) yang di kemasannya tertulis kandungan nikotinnya kurang dari 1 mg," kata Andi.

Sepakat dengan Andi, Riki seorang penjual rokok elektrik juga berharap aturan tentang rokok elektrik cukup mengatur kandungan nikotinnya saja. Melarang sama sekali penggunaan rokok elektrik, menurutnya memberatkan bagi perokok yang ingin beralih dari rokok tembakau.

"Kalau menurut aku sih nikotinnya saja, ada standarisasi. Maksimal nikotin 6 mg karena di atas itu kan sudah berbahaya," tutur Andi.

Pakar kesehatan dari Kementerian Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K) seperti diberitakan detikHealth sebelumnya mengatakan bahwa nikotin bukan satu-satunya bahaya yang terkandung dalam rokok elektrik. Sebagaimana diungkap FDA dan German Cancer Research Center, berikut ini kandungan berbahaya yang mungkin ada dalam rokok elektrik:

- Konsentrasi tinggi propylene glycol (zat penyebab iritasi jika dihirup)
- Beberapa produk mengandung diethylene glycol, zat kimia yg pernah digunakan untuk meracuni (hasil tes oleh FDA)
- Zat beracun terhadap sel tubuh dengan kadar menengah hingga tinggi dari zat pemberi rasa atau 'flavor'
- Nitrosamin (penyebab kanker)
- Logam beracun (cadmium, nickel, dan timbal)
- Karbonil: formaldehyde, acetaldehyde dan acrolein (penyebab kanker)
- Komponen organik yang mudah menguap dan rusak di suhu ruang: toluene dan 'm, p-xylene' (bersifat racun).


(up/vit)
News Feed