Rabu, 19 Nov 2014 17:15 WIB

Kontroversi Rokok Elektrik

Bakal Ada Aturan Rokok Elektrik, Yuk Dengar Unek-unek Para Vaper

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Peraturan tentang rokok elektrik tengah disiapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Beragam reaksi muncul di kalangan vaper atau pengguna rokok elektrik. Banyak juga lho yang setuju ada aturan tentang vaping!

Dalam ulasan khas kali ini, detikHealth sengaja mengundang pembaca untuk menyampaikan pendapat tentang regulasi rokok elektrik. Sebagian di antaranya adalah mantan perokok aktif tembakau yang beralih ke rokok elektrik karena menganggapnya lebih aman.

Sugandi (43) misalnya, sudah setahun menggunakan rokok elektrik. Sebelumnya, ia mengaku aktif merokok tembakau sejak tahun 1990. Soal rencana akan adanya aturan tentang rokok elektrik, ia mengaku tidak keberatan.

"Memang rokok elektronik perlu diatur oleh undang-undang sehingga ada standar kesehatan minimumnya," kata Sugandi melalui email untuk detikHealth, Rabu (19/11/2014).

Pendapat senada disampaikan oleh Andi, vaper yang sudah 6 bulan menggunakan rokok elektrik. Menurutnya, standar kualitas untuk bahan-bahan yang digunakan dalam rokok elektrik, khususnya liquid, memang perlu diatur.

"Banyak sekali beredar di pasaran untuk liquid-liquid yang harganya murah, yang tidak memiliki merek, sehingga tidak jelas apa isi dari campuran tersebut," tutur Andi.

Sementara itu, Januar yang sudah menggunakan rokok elektrik selama 4 tahun setelah sebelumnya merokok tembakau selama 10 tahun akan mendukung regulasi jika dibuat sebijak mungkin. Ia berharap, aturan tersebut bisa fair membandingkan rokok elektrik dengan rokok tembakau.

"Dengan catatan, jangan sampai menyudutkan vapers atau vaping, alias men-judge alat dan pengguna. Kalau sampai vape ini dilarang peredarannya, sama aja rokok tembakau pun harusnya dilarang peredarannya," kata Januar.

Sama seperti Januar, Sugandi juga keberatan jika nantinya aturan BPOM melarang sama sekali penggunaan rokok elektrik. Selama tidak dipromosikan penggunaannya di kalangan non-perokok, rokok elektrik dinilainya cukup membantu upaya berhenti merokok. Dengan catatan, bahan yang digunakan tidak mengandung nikotin.

"Untuk melarang sama sekali adalah salah besar. Karena dengan melarang, kita menjerumuskan orang untuk terus merokok konvensional (tembakau) yang sudah jelas memang berbahaya dan menyebabkan kematian," kata Sugandi.

Soal penggunaan bahan yang mengandung nikotin, seorang vaper bernama Yos (30) sepakat hal itu perlu diatur. Selama masih menggunakan nikotin, maka risikonya bagi kesehatan tidak akan ada bedanya dengan rokok tembakau.

"Jadi aturan ini kalau bisa larang yang ada nikotinnya, bikin semua isinya non-nikotin. Percuma kita berhenti merokok tapi kemudian kita ketergantungan vaping," kata Yos.

(up/vit)