Rabu, 25 Feb 2015 17:11 WIB

Diet Golongan Darah

Masih Kontroversial, Begini Plus Minus Diet Golongan Darah

Firli Isnaeni, Diza Liane Syahputri - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Berawal dari Amerika, diet golongan darah boleh jadi sudah populer di berbagai belahan dunia. Bahkan masyarakat Indonesia juga mulai ikut keranjingan. Konon manfaatnya beragam, mulai dari menurunkan berat badan hingga mencegah gangguan pencernaan.

Mengapa bisa begitu? Dalam bukunya 'Eat Right 4 Your Type', Dr Peter J D'Adamo menjelaskan bahwa golongan darah berpengaruh besar terhadap kesehatan seseorang, sebab dari situ dapat dilihat asupan makanan seperti apa yang cocok untuknya.

"Kebanyakan pasien saya mendapat hasil baik dua minggu setelah melakukan diet. Berat badan berkurang, energi bertambah dan berkurangnya masalah pencernaan merupakan efek positif yang sering saya dengar," ungkap Dr D'Adamo.

Lewat program Diet Experience yang diadakan detikHealth juga beberapa kali didapati kisah tentang orang-orang yang sukses menurunkan berat badannya dengan diet golongan darah. Salah satunya Widianto H Didiet (38). Pria yang tinggal di Kemang, Jakarta ini mengaku bobotnya turun sebanyak 31 kg dalam jangka 5 bulan karena diet populer tersebut.

"Dari browsing d internet, saya tahu bahwa dengan golongan darah O maka sebaiknya saya utamakan konsumsi daging merah seperti daging sapi. Saya kemudian juga menghilangkan nasi dari menu makanan saya. Pokoknya saya hanya makan daging merah setiap hari," tuturnya.

Diakui Didiet, diet ini sangat menguras kantong. Bahkan bila Didiet sedang bokek, ia hanya mengganti menu makanannya dengan singkong. Yang pasti dalam lima bulan, ia sama sekali tidak mengonsumsi nasi. Namun usaha itu tak sia-sia, dalam kurun waktu tersebut, berat badannya turun menjadi 75 kg, dari yang semula 106 kg.

"Waktu saya coba mulai makan nasi lagi, justru terjadi efek yoyo di mana berat badan saya naik turun antara 75-85 kg. Kini berat saya stabil di 78 kg," tambahnya. Di samping Didiet, ada juga Avis Reza Pahlevi, remaja 18 tahun asal Situbondo yang juga merasakan manfaat diet golongan darah. Bedanya, Avis mengkombinasikan diet golongan darah dengan Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) yang juga sama-sama tengah digandrungi.

"Saya memiliki golongan darah B yang disebutkan pantang mengonsumsi daging ayam selama diet. Saya mengambil jam makan sehari sekali dan mengganti nasi dengan kentang rebus. Saya juga menghindari lauk gorengan yang banyak minyaknya. Sebaliknya, saya memperbanyak makan lauk tahu dan telur rebus, serta sayur-sayuran segar maupun rebus," tutur Avis.

Alhasil, bobot Avis yang semula 105 kg menurun drastis hingga tinggal 64 kg dalam enam bulan saja.

Baca juga: Dengan Metode Diet Golongan Darah, Bobot Roce Turun 30 Kg

Manfaat yang dirasakan Didiet maupun Avis mungkin bisa disamakan dengan hasil riset Dr D'Adamo yang dilakukan beberapa waktu lalu terhadap 6.617 partisipan yang juga pasiennya. 78 persen dari mereka mengaku tubuhnya terasa lebih sehat. Selain itu, keluhan seperti gangguan pencernaan dan stres mulai berkurang.

"Makan makanan yang tak sesuai dengan jenis darah akan menimbulkan masalah yang menyebabkan peradangan, masalah berat badan dan penyakit lainnya," ujarnya.

Kendati demikian, dr Nurul Ratna Manikam, SpGK dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo menegaskan bahwa ia tidak menganjurkan siapapun untuk menerapkan diet golongan darah ini.

"Saya belum pernah mendengar diet goldar ini teruji klinis. Mungkin berat badan turun, tapi gizi dan nutrisinya juga ikut turun. Dikhawatirkan ini justru akan melenyapkan beberapa bahan makanan yang sebenarnya baik untuk tubuh," paparnya kepada detikHealth dan ditulis Rabu (25/2/2015).

Risikonya, lanjut dr Nurul, orang yang bersangkutan akan mengalami defisiensi atau kekurangan nutrisi. Bahkan tidak menutup kemungkinan sampai kekurangan gizi. Hal senada dikemukakan dr Stella E Bella, MGizi, SpGK dari RSIA Tambak, Jakarta.

"Plusnya tidak ada. Minusnya, tubuh menjadi defisiensi mikro dan makronutrien. Tubuh akan kekurangan zat gizi. Bisa menyebabkan anemia juga," pungkasnya.

Baca juga: Pasien Diabetes Setop Konsumsi Nasi, Kadar Gula Darah Justru Makin Tinggi

(lil/up)