Rabu, 30 Sep 2015 10:02 WIB

Ulasan Khas Mata Juling

Beda Juling ke Dalam atau Luar dan Tipe Mata Juling Lainnya

Jeems Suryadi Gani - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Kondisi yang terlihat antara pasien mata juling yang satu dengan lainnya ternyata tidaklah selalu sama. Masing-masing dari mereka memiliki ciri khasnya sendiri.

dr Utami Noor Syabaniyah, SpM dari Ciputra SMG Eye Clinic menerangkan penderita mata juling terdiri atas dua macam, yaitu yang julingnya bersifat 'phoria' maupun 'tropia'. Lantas apa bedanya?

"Kalau phoria itu julingnya harus dipicu atau di-trigger baru muncul, jadi sehari-hari kita nggak melihatnya. Sedangkan tropia itu sudah manifest, jadi kelihatan jelas dia juling," terangnya kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (30/9/2015).

Seperti dikutip dari Healthcare, pada pasien mata juling phoria, mata julingnya memang cenderung tersembunyi, dan baru terlihat saat yang bersangkutan sedang stres, kelelahan atau sakit. Sebaliknya mereka yang mata juling-nya tergolong tropia, julingnya akan tetap terlihat meskipun ia berada dalam keadaan baik-baik saja.

Baca juga: Bukan Tak Bisa Lihat Apa-apa, Begini Kondisi Penglihatan si Juling

Tropia sendiri masih dibagi menjadi empat macam, yaitu esotropia, eksotropia, hipertropia, dan hipotropia.

"Kalau dalam keadaan mata atau bagian hitamnya normal itu namanya ortotropia, maka esotropia dia juling ke dalam, kalau eksotropia itu dia juling ke luar, hipertropia dia juling ke atas atau satu mata tampak lebih tinggi dari mata lainnya, dan hipotropia juling ke bawah," urainya.

Menurut dr Surya Utama, SpM dari Eka Hospital Pekanbaru, dengan mengamati arah pergerakan mata juling pasien, dokter dapat mengetahui otot mata pasien yang mana yang lemah sehingga memicu kondisi tersebut.

"(Sebab) keempat hal tersebut memang dapat dibedakan dari letak otot mata mana yang lemah," timpalnya.

Akan tetapi di antara keempat kondisi tersebut, esotropia (convergent squint) dan eksotropia (divergent squint) merupakan tipe mata juling yang paling banyak ditemukan. Sisanya, hipertropia dan hipotropia (vertical squint) lebih jarang terjadi.

dr Utami juga menegaskan tak ada salah satu dari keempat kondisi itu yang terlihat lebih parah. Hal ini semata karena pembedaannya hanya didasarkan pada posisi julingnya saja.

Kendati demikian, perlu dipahami bahwa tak semua mata juling merupakan bawaan lahir (congenital/infantile squint), walaupun sebagian besar kasus mata juling diakibatkan oleh hal ini.

Nyatanya ada beberapa anak yang baru mengalami mata juling beberapa saat setelah lahir (acquired squint) karena faktor-faktor tertentu, di antaranya rabun jauh atau rabun dekat yang dialaminya, maupun sebagai bentuk kompensasi terhadap penggunaan kacamata.

Baca juga: Mata Juling, Saat Bola Mata Bergerak Tak Terkendali


(lll/up)