Rabu, 16 Des 2015 09:01 WIB

Medsos dan Kesehatan Jiwa

Alasan Narsis di Medsos: Merasa Insecure Hingga Butuh Pengakuan

Radian Nyi Sukmasari, Sharon Natalia - detikHealth
Foto: smartphone
Jakarta - Mengunggah beberapa foto atau update ketika melakukan suatu kegiatan boleh saja dilakukan sesekali. Tapi yang bisa bikin orang lain 'gerah', ketika seseorang terlalu sering memposting fotonya bahkan update kegiatan yang dilakukan.

Menanggapi hal ini, pengasuh rubrik konsultasi detikHealth, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd mengatakan seseorang yang hobi mengunggah foto atau info terbaru soal kegiatannya, biasanya dia merasa insecure. Mungkin juga dia merasa tiap orang mempunyai pandangan sendiri terhadap kata sukses,

"Mungkin buat dia sukses itu adalah kalau dia ada di mana-mana. Nah, cara dia membuktikan itu dengan check-in di media sosial dia ada di mana, kalau nggak bagaimana orang bisa tahu dia ada di mana kalo dia nggak posting di media sosialnya," terang Diana, begitu ia akrab disapa saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini dan ditulis pada Rabu (16/12/2015).

Baca juga: Bisakah Mengenali Gangguan Kejiwaan dari Perilaku di Medsos?

Atau mungkin, lanjut Diana, pencapaian orang tersebut yakni terlihat cantik. Sehingga, dia harus selfie supaya orang melihat dia cantik. Apakah kebiasaan memposting terlalu banyak foto dianggap sebagai gangguan jiwa?

Diana mengatakan hal itu belum dianggap sebagai gangguan kejiwaan. Tapi kalau ada yang terganggu, sebaiknya putus pertemanan dengan orang tersebut di media sosial. Sebab, pengguna media sosial harus tahu etika dan harus sadar bahwa bukan hanya dia yang punya media sosial, jadi dia tidak bisa mengatur.

"Jadi mesti ada pengertian, dengan kecanggihan gadget zaman sekarang ya di-mute aja account-nya. Jadi mau yang memposting atau yang baca, dua belah pihak harus ada pengertian bahwa media sosial kan buat siapa saja," lanjut Diana.

Dihubungi terpisah, dr Azimatul Karimah SpKJ dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan salah satu alasan seseorang ingin selalu mengupdate segala info tentang dirinya dan sering mengunggah foto di media sosial karena ia butuh diakui. Sehingga, dia menampilkan eksistensinya dalam bentuk update-an di media sosial dan foto terutama.

"Kalau sampai ada keluhan dari lingkungan berarti hubungan relasinya kan kurang baik, jadi ini bisa dikategorikan mengalami gangguan kejiwaan. Jadi, harus konfirmasi tidak hanya ke orangnya saja, tapi ke beberapa orang yang pernah bersosialisasi dengan dia. Apakah dia konsisten melakukan hal itu atau tidak," terang wanita yang biasa disapa dr Uci ini.

Baca juga: Studi: Selain Narsis, Pria yang Hobi Selfie Cenderung Antisosial (rdn/up)