Memiliki Satu Tangan, Fasa Tetap Aktif di Berbagai Organisasi

ADVERTISEMENT

Semangat dalam Keterbatasan

Memiliki Satu Tangan, Fasa Tetap Aktif di Berbagai Organisasi

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Selasa, 28 Jun 2016 20:01 WIB
Foto: Martha Heriniazwi Dianthi
Jakarta - Hanya memiliki satu tangan bukan menjadi halangan bagi Mahmud Fasa (51) untuk tetap aktif dalam berbagai organisasi. Apa saja organisasi yang digeluti Fasa?

Kini dia dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI)."Kebetulan saya dipercaya untuk menjabat. Itu semua kan amanah yang diberikan kepada saya," tutur Fasa saat ditemui detikHealth beberapa waktu lalu.

Selain itu, dia juga bergabung dengan lembaga kerohanian penyandang cacat Fathul Ulum, Federasi Penyandang Cacat Tubuh, serta Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca).

Menurut Fasa, tujuan bergabung dengan organisasi adalah untuk memberikan manfaat keilmuan yang dimiliki olehnya kepada penyandang disabilitas di Indonesia. Terlebih, PPDI sendiri telah memiliki cabang di provinsi dan telah menangani seluruh ragam serta isu seputar disabilitas.

Baca juga: Meski Berkaki Satu, Firdaus Gesit Mengendarai Sepeda Motor

"Melalui PPDI ini, saya dapat mewakafkan tenaga dan ilmu yang saya miliki untuk organisasi dan penyandang disabilitas. Terlebih prinsip saya yaitu sebaik-baiknya orang adalah mereka yang memberi manfaat untuk orang lain," lanjut bapak empat anak ini.

Fasa kehilangan sebelah tangannya karena kecelakaan. Peristiwa itu dialaminya saat sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah mengalami kecelakaan tersebut, Fasa pindah dan masuk ke pondok pesantren Asyahadatain Panguragan, Cirebon.

"Pondok pesantren kan berbeda dengan pendidikan biasa. Jadi sekolah lebih menganut ke kiai, sehingga bila kiai bilang 'Jangan kasian dia nggak punya tangan,' di situ saya merasa ada keistimewaan. Waktu itu saya malah merasa dimanjakan saat di pesantren," kata Fasa.

Baca juga: Ini Eka, Penyandang Tunanetra yang Serba Bisa

Setelah lulus dari pondok pesantren, Fasa malah mendapat diskriminasi oleh lingkungan. Mulai dari kurangnya diterima di lingkungan seitar hingga sempat tidak direstui oleh keluarga pasangan saat hendak menikah.

"Waktu itu mertua tidak merestui pernikahan saya dan istri sama sekali. Bahkan saat pernikahan, orang tua istri saya tidak hadir," lanjut Fasa yang saat ini juga memiliki usaha kelontong.

Menurut Fasa, kondisi tersebut karena masih banyak yang berpikir orang disabilitas tidak mampu mandiri untuk menafkahi keluarga. Setelah tiga tahun berjuang, akhirnya keluarga istri Fasa mulai merestui.

"Makanya kalau ada teman-teman disabilitas yang memiliki pasangan saya sarankan untuk memastikan pasangannya benar-benar mencintainya. Kalau setengah-setengah, nanti saat persiapan pernikahan akan kecewa karena ditolak oleh keluarga pasangan," lanjut Fasa.

"Tapi kalau pasangannya sudah benar-benar yakin dengan kamu, silakan maju ke jenjang pernikahan. Ini modal-modal saya, alhamdullilah banyak teman-teman yang berhasil melakukannya dalam menjalani hidup berkeluarga," tutup Fasa. (vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT