Yayasan Kartika Destarata Didik Penyandang Tunanetra Agar Bisa Hidup Mandiri

ADVERTISEMENT

Semangat dalam Keterbatasan

Yayasan Kartika Destarata Didik Penyandang Tunanetra Agar Bisa Hidup Mandiri

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Senin, 11 Jul 2016 09:04 WIB
Foto: Martha HD/ detikhealth
Jakarta - Mengalami keterbatasan ternyata tidak menjadi halangan untuk tetap belajar dan berusaha untuk hidup mandiri. Hal tersebut ditunjukkan oleh para siswa-siswi dari Yayasan kartika Destarata, Kembangan, Jakarta Barat.

"Yayasan ini dibentuk untuk mereka yang mengalami tunanetra agar mereka bisa menghadapi kehidupan sehari-hari. Kami juga sejak dulu berusaha agar bisa menyejahterakan hidup mereka," ujar Ietje Muis Lubis, Ketua Yayasan Kartika Destarata saat ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Furqon, Penyandang Tunanetra yang Aktif Berdakwah di Jalan Islam

Para siswa-siswi yang datang dari berbagai daerah tersebut diajarkan untuk hidup mandiri selayaknya orang nomal. Tidak hanya itu saja, para siswa-siswi tersebut mendapatkan pendidikan ekstra seperti menggunakan komputer dan memainkan alat musik.

Chumaria, siswi asal Brebes, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Yayasan Kartika Destarata memang berbeda dengan sekolah kebanyakan. Sifatnya lebih seperti seperti kursus dengan masa pembelajaran selama 6 bulan.

Ia juga mengaku mendapatkan banyak mendapatkan menarik selama mengikuti pelatihan di sekolah tersebut. Salah satu yang dirasakan olehnya yaitu dapat bersosialisasi dengan berbagai macam orang.

"Jadi disini kita menjalani asrama selama 6 bulan masa pelatihan sehingga dalam kurun waktu tersebut saya dapat mempelajari watak-watak teman-teman lainnya. Selain itu juga, saya juga merasakan senang, susah, dan kebersamaannya selama pendidikan," ujarnya.

Sebagian siswa yang memiliki minat selain komputer dan musik diarahkan untuk mempelajari teknik memijat. Tidak sembarangan, teknik memijat yang diajarkan merupakan teknik khusus yang hanya bisa dilakukan oleh tunanetra.

"Dari itu semua yang paling berkesan adalah ilmu pengobatannya karena disini saat kita belajar memijat. Tidak asal-asalan karena ada standar terapinya yang luar biasa," ujar Muhammad Yunus, salah satu siswa yang menjalani pendidikan memijat.

Setelah mendapatkan pendidikan selama enam bulan Yunus memiliki harapan untuk hidup normal. Terlebih saat ini Yunus juga telah diterima bekerja sebagai terapis didaerah Pasar Rebo, Jakarta Timur.

"Dengan mendapat pelatihan ini kita dapat ilmu memijat dan meningkatkan kualitas kita dalam pengobatan serta mampu hidup mandiri layaknya orang lain," ungkapnya.

Baca juga: Surya Sahetapy Sampai Amerika Serikat Demi Memajukan Tunarungu


(mrs/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT