Rabu, 03 Agu 2016 08:03 WIB

Serba-serbi Donor ASI

Menyoal Praktik Donor ASI di Indonesia

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI
Jakarta - Donor ASI menjadi alternatif pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi, jika bayi tak bisa mendapat ASI dari ibu kandungnya. Misalnya, si ibu meninggal, tidak bisa memproduksi, atau tak bisa memberi ASI karena kondisi tertentu. Di Indonesia sendiri, bagaimana praktik donor ASI berjalan?

Diungkapkan dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA, sampai saat ini belum ada badan khusus yang mengelola donor ASI. Hanya saja, di rumah sakit besar seperti RS Cipto Mangunkusumo yang sudah terakreditasi internasional, persyaratan donor ASI lebih ketat. Sebab, di RSCM biasanya diperlukan donor ASI untuk bayi-bayi sakit atau prematur yang harus dirawat terpisah dengan ibunya.

"Pemisahan ini sering kali akan menurunkan produksi ASI di samping mereka yang melahirkan prematur produksi ASI-nya juga terhambat karena belum waktunya ASI keluar pada kehamilan yang belum cukup bulan," kata wanita yang akrab disapa dr Tiwi ini saat berbincang dengan detikHealth.

Jika membandingkan dengan negara lain seperti Amerika, dr Tiwi mengatakan di sana hanya ada satu sampai dua badan yang khusus yang mengelola donor ASI. Selain itu, peraturannya pun lebih ketat dan dikelola khusus dengan biaya yang besar karena pengelolaan donor ASI memerlukan beberapa teknologi.

Baca juga: Pria yang Berjuang Cari Donor ASI untuk Bayinya Demi Wujudkan 'Wasiat' Istri

Tujuannya, supaya ASI yang diberi aman dan bermanfaat untuk bayi-bayi di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang dibantu. Lantas, bagaimana dengan peraturan soal donor ASI di Indonesia?

"Salah satunya adalah ASI tidak boleh diperjual belikan dan sesuai indikasi dalam diskusi itu saya kebetulan hadir dan memaparkan bahwa donor ASI harus dilakukan seketat donor darah karena potensial menularkan penyakit seperti HIV, hepatitis B atau C, serta beberapa penyakit lain seperti HTLV2 yang sulit dideteksi dengan pemeriksaan lab rutin biasa," terang dokter yang praktik di RS Bunda Jakarta ini.

Dalam PP No 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif, di bagian ketiga tentang Donor Air Susu Ibu, disebutkan:

Pasal 11(1)
Dalam hal ibu kandung tidak dapat memberikan ASI eksklusif bagi bayinya sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan oleh pendonor ASI.

Pasal 11(2)
Pemberian ASI eksklusif oleh pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan persyaratan:
a. Permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan;
b. Identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI;
c. Persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI;
d. Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 7; dan
e. ASI tidak diperjualbelikan

Baca juga: Mana Lebih Baik Menurut Dokter, Perah ASI dengan Tangan Atau Breastpump

(rdn/vit)
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI