Rabu, 03 Agu 2016 09:04 WIB

Serba-serbi Donor ASI

Catat! Ini Pentingnya Skrining Sebelum Ibu Mendonorkan ASI

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI
Jakarta - Tak ada salahnya mendonorkan ASI (Air Susu Ibu) kepada mereka yang membutuhkan. Akan tetapi proses mendonorkan ASI ternyata tidak bisa sembarangan lho.

Dijelaskan dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA dari RS Bunda Jakarta, setiap orang harus memahami bahwa di saat mendonorkan dan menerima sumbangan ASI dari orang lain tidak bisa asal.

"Jadi kalau mau aman harus diskrining seperti donor darah, karena ASI sifatnya seperti darah hanya saja minus sel darah merah," paparnya saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

Namun ia menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang hal ini. Hanya karena tren memberikan ASI sedang naik daun, banyak yang mengabaikan pentingnya proses ini.

Baca juga: Menyoal Praktik Donor ASI di Indonesia

Memangnya apa yang bisa terjadi jika seorang ibu tidak pilih-pilih ASI donor? Dokter anak yang akrab disapa dr Tiwi itu kemudian mengisahkan pengalaman pribadinya ketika menghadapi kasus yang berkaitan dengan donor ASI.

"Ada ibu yang anak pertamanya diberi ASI eksklusif. Terus anak keduanya diberi ASI tapi separuh-separuh dengan susu formula, lalu saya bantu ibu itu dengan full ASI dan berhasil. Namun kemudian pada anak kedua terjadi jamuran dan rupanya si bapak mengalami HIV, anak keduanya tertular, sedangkan si ibu tidak tahu kalau suaminya HIV," urainya.

Kasus kedua juga hampir senada, di mana seorang ibu melahirkan anak dari suami orang asing. Sayangnya, ibu ini tidak memproduksi banyak ASI sehingga bayinya disusui oleh bibinya sendiri.

"Setelah 2-3 minggu, anaknya mengalami diare dan jamuran, setelah dicek ternyata positif HIV. Kita pikir suaminya (sang ayah, red) yang mengidap HIV, tapi ternyata suami adik ibunya, mereka adalah pasangan HIV yang sama-sama tidak mengetahui," lanjutnya.

dr Tiwi menegaskan, penularan lebih mudah terjadi sebab bayi tadi disusui oleh orang lain. Bilamana sang ibu yang terkena HIV dan menyusui anaknya sendiri, anti-HIV masih bisa keluar melalui ASI dan melindungi tubuh si bayi. Akan tetapi perlu diingat, ibu dan bayinya juga harus tetap diberi ARV (antiretrovirus) sebagai metode pengobatan utama.

Baca juga: Tips Ibu Muda dengan ASI Berlimpah Soal Stres dan Gagal Menyusui

Dokter yang aktif lewat akun Twitter @drTiwi itu menambahkan, dalam kondisi apapun, ASI jauh lebih baik daripada susu formula, bahkan untuk bayi prematur dan bayi yang sakit sekalipun. "Pada ibu yang melahirkan bayi sakit atau terpaksa terpisah dari bayinya karena prematur misalkan, pasti produksi susunya menurun, sehingga dibutuhkan donor ASI ini," tegasnya.

Justru bila bayi prematur atau memiliki berat lahir rendah dan ususnya belum terbentuk sempurna tetapi diberi susu formula, maka dikhawatirkan akan terjadi NEC (necrotizing enterocolitis), peradangan usus akut pada bayi prematur.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, dr Tiwi juga menyarankan agar selalu menghangatkan ASI dari donor terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Suhunya dipastikan setidaknya sama seperti temperatur tubuh bayi.

(lll/vit)
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI