Rabu, 03 Agu 2016 10:06 WIB

Serba-serbi Donor ASI

Penyakit Ini Belum Bisa Terdeteksi Saat Melakukan Skrining Donor ASI

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI
Jakarta - Skrining sebelum ibu mendonorkan ASI penting. Tujuannya, supaya bayi tidak tertular penyakit misalnya saja HIV, hepatitis B atau C, dan sifilis. Meskipun, ada penyakit yang tidak bisa diskrining.

"Ada penyakit yang tidak bisa diskrining yaitu Human T Lymphosyte Virus 2 (HTLV2), virus yang kelak dapat menyebabkan penyakit leukemia," kata dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

HTLV2, lanjut wanita yang akrab disapa dr Tiwi ini, sulit didiagnosis dengan pemeriksaan laboratorium. Di Indonesia pun belum ada pemeriksaan laboratorium untuk skrining penyakit ini. Namun, di RS Cipto Mangunkusumo misalnya, ada cara yang digunakan untuk mematikan virus ini.

Adalah dr Rosalina D Roeslani SpA(K) yang menggunakan sebuah kulkas khusus dengan suhu mencapai minus 20 derajat celcius untuk mematikan virus ini, demikian disampaikan dr Tiwi. Nah, harga kulkas ini cukup mahal, berkisar RP 100 juta. Sehingga, HTLV2 belum bisa dideteksi meskipun dalam persyaratan donor ASI memang seharusnya dilakukan pengecekan terhadap penyakit itu.

Baca juga: Catat! Ini Pentingnya Skrining Sebelum Ibu Mendonorkan ASI

"Nah proses pasteurisasi sendiri dapat mematikan kuman HIV, tapi virus HTLV2 ini sebetulnya yang sulit dihindari, walau insiden orang yang mengidap HTLV2 ini cukup rendah," lanjut dr Tiwi.

Ia menekankan, semua risiko penularan penyakit tersebut sebaiknya diketahui oleh ibu penerima donor ASI supaya mereka memahami mengapa menerima donor ASI tak boleh sembarangan. Menurut pengalaman dr Tiwi, ada beberapa orang pasien yang mendonorkan ASI dan diminta melakukan skrining ulang, mereka bersedia.

"Karena kita mengajarkan orang untuk mendermakan ASInya namun jangan menularkan penyakit. Kita akan berterima kasih (mendapat ASI donor), namun jangan sampai donor ini berbahaya untuk bayi-bayi, dan kita arahkan agar tidak berbahaya. Walaupun hanya menyumbang, pengalaman saya saat orang-orang mau mendonor pasti itu karena (ASInya) berlebihan. Sehingga kita bilang agar aman ASInya diberi ke bayi-bayi kecil, ibunya yang mendonorkan ASI mesti dicek," papar pemilik akun instagram @drtiwi ini.

Baca juga: Menyoal Praktik Donor ASI di Indonesia

(rdn/vit)
Topik Hangat Serba-serbi Donor ASI