
-
Selasa 22/05/2012 20:10 WIB
Plus Minus Melakukan Phone Sex dengan Pasangan -
Selasa 22/05/2012 19:33 WIB
Latihan untuk Pria Agar Bisa Orgasme Berkali-kali -
Selasa 22/05/2012 19:07 WIB
Serangan Stroke Tak Bisa Ditangani Sendiri, Segera ke Rumah Sakit -
Selasa 22/05/2012 18:27 WIB
Istri Keluarkan Banyak Cairan Saat Bercinta, Wajarkah? -
Selasa 22/05/2012 18:32 WIB
Aksi CSR Rokok Hanya untuk Cari Muka - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 2,790.000
-
Rp 471.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
6 Makanan Peletup Gairah Seks
Jangan heran jika ada yang mengatakan bila makanan adalah salah satu rahasia cinta. Berikut ini enam makanan yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual
-
Cara mengobati penyakit Maag dengan tepung kanji
Sekarang saya akan jelas kan bagaimana mengobati sakit maag dengan cara tradisional dan lumayan cukup manjur
» Thread Pilihan

Selasa, 22/05/2012 12:01 WIB
Pasca Operasi, Dokter Pakai Semen untuk Menambal Dada Pasien
Posted : matsukoArtikel terkait :
- Pengumuman WHO Flu Babi Masih Pandemi Dinilai Terburu-buru
- Flu Singapura Tak Seganas Flu Burung, Rentan Serang Anak-anak
- Virus Flu Baru Lebih Berbahaya
- WHO: Pandemi Flu Babi Menurun
- Flu Babi
Info Penyakit :
- Aspirin
- Cetirizine 10 mg
- Aliskiren
Info Obat :
WHO Cabut Status Pandemi Flu Babi
Irna Gustia - detikHealth
Ilustrasi (Foto: abc.net.au)
Pernyataan pencabutan status pandemi flu babi itu disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan dalam pernyataannya 10 Agustus 2010 seperti dilansir dari Reuters, Rabu (11/8/2010).
Meski pandemi flu babi dinyatakan berakhir namun WHO mengingatkan agar dunia tetap selalu waspada. "Kita sekarang bergeser ke periode pasca-pandemi. Virus baru H1N1 sebagian besar sudah tertangani," kata Chan.
Chan membantah anggapan yang mengatakan WHO terlalu berlebihan menetapkan status pandemi karena korban flu babi kenyataannya tak sebanyak flu burung di Asia.
"Itu sudah keputusan yang benar," kata Chan yang membela keputusan status pandemi yang diumumkan Juni tahun lalu itu.
Menurut Chan, pencabutan status pandemi flu babi ini didasarkan pada rekomendasi oleh para ahli influenza setelah dilakukan pengkajian dan penelitian yang mendalam.
"Di beberapa negara ancaman global virus H1N1 sudah jauh lebih rendah dan berbeda dibanding setahun yang lalu," kata Keiji Fukuda, pakar Flu WHO.
Ahli kesehatan di Hong Kong juga mengatakan dunia telah beruntung virus H1N1 belum bermutasi menjadi virus yang lebih mematikan karena vaksin yang dibuat berjalan efektif terhadap virus itu.
Namun tetap diingatkan virus flu babi masih akan terus bersirkulasi sebagai bagian dari flu musiman di tahun-tahun mendatang, sehingga tetap diperlukan kewaspadaan semua pihak. Kelompok yang berisiko tinggi terkena flu babi seperti ibu hamil disarankan tetap harus mendapatkan vaksinasi.
Virus H1N1 yang mewabah itu pertama kali muncul di Meksiko dan Amerika pada tahun 2009 yang menyebarcepat dalam 6 minggu. Kondisi itu membuat WHO mengeluarkan status pandemi pada Juni 2009.
Pengumuman status pandemi itu membuat beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa menyetok vaksin flu yang berlebihan hingga terbuang percuma karena kedaluwarsa.
Namun belakangan motivasi WHO yang mengumumkan pandemi flu babi dinilai berlebihan karena membuat banyak negara paranoid. Bahkan WHO terus mengumumkan status pandemi dan berbahaya untuk flu babi hingga Juni 2010, meski sudah banyak ditentang pakar kesehatan.
Para kritikus mempertanyakan motivasi dari beberapa penasihat WHO yang memiliki hubungan dengan industri farmasi, dengan menyatakan flu babi sebagai pandemi atau epidemi global.
Puluhan perusahaan membuat vaksin flu seperti Sanofi-Aventis, GlaxoSmithKline, Novartis, AstraZeneca, CSL dan Roche yang membuat antivirus oseltamivir yang dipasarkan sebagai Tamiflu.
Kritikus menuding kecemasan yang ada terlalu dibesar-besarkan dan akhirnya banyak membuang uang. Padahal kenyataannya, flu burung dan SARS yang menyerang Asia lebih berbahaya.
Terbukti negara seperti Amerika harus membuang sekitar 40 juta dosis vaksin flu babi (HINI) senilai US$ 260 juta atau Rp 2,34 triliun, yang semula akan digunakan untuk melindungi masyarakat AS dari flu babi terbuang sia-sia kare
(ir/up)
BACA JUGA :









