Kontroversi 'Bunuh Pelan-pelan'

POGI dan Menkes Sama-sama Upayakan dr Ayu Keluar dari Penjara

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Minggu, 17/11/2013 15:07 WIB
Broadcast tentang Menkes 'bunuh pelan-pelan' (dok: Twitter)
Jakarta, Gara-gara komentarnya yang kontroversial, Menteri Kesehatan dianggap tidak mendukung perjuangan dokter dalam menentang kriminalisasi dokter kandungan di Manado. Bagaimana sebenarnya Kementerian Kesehatan menyikapi kasus ini?

"Jelas kita harus bantu mereka para dokter," kata Menkes Nafsiah Mboi saat ditemui detikHealth usai menghadiri Hari Kesehatan Nasional ke-49 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (17/11/2013).

Begitu mendengar kasus penangkapan dr Dewa Ayu Sasiary Prawan, SpOG di Balikpapan atas tuduhan malpraktik, Menkes mengaku langsung berkonsultasi dengan biro hukum Kementerian Kesehatan. Tak tanggung-tanggung, Menkes juga meminta Jaksa Agung untuk turun tangan.

Menkes mengatakan, pihaknya berharap bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas keputusan Mahkamah Agung yang memutus bersalah dr Ayu kemudian menahannya. Selama PK belum keluar, akan diupayakan agar dr Ayu tidak ditahan sehingga tetap bisa bekerja.

"Sambil menunggu PK, jangan ditahan. Biarkan (dr Ayu) bekerja di Rumah Sakit pemerintah, di bawah pengawasan kita sendiri," jelas Menkes.

Senada dengan Menkes, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) juga tengah mengupayakan PK atas penahanan dr Ayu. Aksi Keprihatinan juga akan dilakukan di Manado pada Senin (18/11/2013), dan tidak menutup kemungkinan akan dilanjutkan dengan Aksi Nasional bila setelah itu tidak ada respons positif.

"Kita fokus di Manado dulu. Minimal kita mengajukan tahanan luar untuk dr Ayu, sampai keluar PK," kata Ketua Umum POGI, Dr Nurdadi Saleh, SpOG, saat dihubungi detikHealth.

Dr Nurdadi mengaku prihatin dengan penahanan dr Ayu, sebab sebelumnya Pengadilan Negeri (PN) Manado telah memutus bebas murni. Namun dalam kasasi di Mahkamah Agung (MA), dr Ayu dinyatakan bersalah dan akhirnya ditangkap di Balikpapan, lalu ditahan.

"Kalau hari ini dokter dipenjara karena tidak bisa mencegah kematian, padahal pasien sudah dalam kondisi yang tidak bisa dicegah, bukan mustahil suatu saat dokter akan dipenjara karena tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal," sindir Dr Nurdadi prihatin.


(up/vit)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit