"Gigi berlubang masih sering ditemui di Indonesia. Meski sudah ada program-program yang selama ini terus digiatkan. Tapi tentu harus didukung dengan attitude dan kebiasaan yang dapat mencegah gigi berlubang," ujarnya.
Drg. Angky menjelaskan sebenarnya gigi berlubang memiliki sebab yang sangat kompleks. Bisa disebabkan oleh bakteri kariogenik (penyebab gigi berlubang) yang berkaitan dengan kebersihan oral, pola makan dan juga kondisi tubuh. Khusus untuk soal kebersihan oral, harus diakui kesadaran mengenai hal ini di Indonesia masih minim.
"Kita sebenarnya punya sistem pertahanan sendiri dari dalam diri. Setelah makan, flora dalam mulut biasanya berubah. PH dalam mulut akan menurun hingga ketahap kritis karena adanya zat asam dari pencernaan makanan dalam mulut. Tunggu beberapa menit, saliva atau air liur kita akan menetralkannya lagi. Namun, tetap tidak boleh malas membersihkan gigi dan mulut," ujar dosen Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia tersebut.
Ia menjelaskan membersihkan gigi dan rongga mulut secara mekanik, menggunakan sikat gigi juga harus tetap dilakukan. Ini karena sisa makanan yang menempel di gigi akan beresiko terfermentasi menjadi zat asam dan membuat bakteri di dalam mulut menjadi kariogenik. Ketika enamel gigi terpapar zat asam tersebut, akan terjadi demineralisasi. Gigi jadi mudah karies atau berlubang.
"Apalagi pada orang-orang yang doyan ngemil. Frekuensi makan lebih sering sehingga tidak ada kesempatan buat saliva menetralkan kembali kondisi flora. Bakteri terakumulasi, tingkat keasaman di mulut terus tinggi. PH akan terus berada pada tahap kritis, atau rentan gigi berlubang," lanjutnya.
Untuk itu sebagai pencegahan gigi berlubang disarankan setidaknya menyikat gigi dua kali sehari secara rutin. Lama menyikat gigi biasanya minimal 1-2 menit tergantung kebutuhan, sehingga sangat mudah sebenarnya untuk dilakukan.
Sementara untuk memaksimalkan pencegahan, membersihkan gigi menggunakan dental floss atau sikat gigi interdental dan berkumur juga disarankan. Dental floss atau sikat gigi interdental dapat menjangkau bagian-bagian tersulit.
Sikat gigi biasa tidak bisa menjangkau sela-sela gigi. Karena itu drg. Angky mengatakan menyikat gigi hanya dapat membersihkan 25% dari seluruh bagian mulut. Sementara berkumur dapat membantu mengurangi jumlah bakteri buruk dalam mulut.
Dulu kita berpikir berkumur dengan air atau air garam saja cukup. Tapi ternyata tidak. Sekarang ada macam-macam cairan kumur atau yang dikenal dengan mouthwash. Ada yang dengan fluoride yang akan melekat pada gigi dan memberikan perlindungan pada enamel, ada yang mengandung antiseptik. Kalau tujuannya mengurangi kuman di mulut, yang mengandung antiseptik dapat membantu.
Saat ini sangat mudah menemukan cairan kumur dengan kemasan praktis dan varian rasa segar. Seperti salah satunya adalah LISTERINE®, mouthwash yang sudah dipercaya membantu perawatan gigi dan mulut sehari-hari.
LISTERINE® memiliki kandungan berupa minyak essential atau dikenal dengan minyak atsiri seperti thymol, eucalyptol, menthol dan methyl salicilate sebagai antiseptiknya. Keempat minyak essential tersebut jika bekerja bersama-sama dapat membantu mengurangi kuman dalam mulut.
Ada beragam varian rasa yang dapat memberi sensasi bersih dan aroma segar pada mulut. Beberapa di antaranya adalah Cool Mint, Fresh Burst, Original, dan Fresh Citrus. Sementara bagi yang tidak suka rasa mint tapi ingin mulut tetap bersih dan segar dapat mencoba LISTERINE® Natural Green Tea.
LISTERINE® diformulasikan dengan sodium fluoride untuk mengurangi resiko gigi berlubang dengan cara membantu menjaga kekuatan enamel gigi. Berkumurlah dengan LISTERINE® secara rutin, dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur. Setiap habis menyikat gigi, flossing atau menggunakan sikat gigi interdental kumur dengan 20 ml LISTERINE® selama 30 detik. Jangan lupa kunjungi dokter gigi setiap enam bulan sekali. (Adv)
Tentang Dokter:
Drg. Sri Angky Soekanto, DDS, PhD
![]() |
Praktisi kesehatan gigi dan pakar biologi oral Universitas Indonesia. Aktif sebagai dosen Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Menyelesaikan jenjang pendidikan S3 dan meraih gelar PhD dari Faculty of Dentistry, Tokyo Medical and Dental University. Selain mengajar, hingga saat ini aktif melakukan sejumlah penelitian di bidang biologi oral, juga aktif menerbitkan jurnal kesehatan gigi berkolaborasi dengan sejumlah pakar dari dalam dan luar negeri. (adv/adv)












































