Senin, 28 Okt 2019 00:00 WIB

Kolesterol Tak Punya Gejala Khas, Yuk Rutin Check Up

Advertorial - detikHealth
Foto: Shutterstock
Jakarta - Seseorang yang merasa dirinya sehat bisa saja menderita penyumbatan pembuluh darah karena kolesterol tinggi. Pasalnya menurut beberapa penelitian, mereka yang memiliki kolesterol tinggi bisa saja tidak sadar dengan penyakit yang dideritanya.

Apalagi kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh tidak memiliki gejala-gejala yang khas. Kondisi ini sering juga disebut sebagai silent killer. Selain itu, kolesterol sendiri menjadi perantara menuju penyakit mematikan berbahaya selanjutnya, yaitu jantung koroner atau kardiovaskular.

Data WHO tahun 2012 menunjukkan lebih dari 17 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Selain itu, lebih dari tiga seperempat kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah dan sedang.

Di Indonesia saja, pembiayaan BPJS untuk penyakit jantung pada tahun 2015 sebesar Rp 6,9 triliun (48,25%) dan meningkat pada tahun 2016 sebesar Rp 7,4 triliun (50,7%).

Setiap orang seharusnya sudah mewanti-wanti terkait kesehatan dirinya sendiri, terutama yang berhubungan dengan kolesterol. Cara pertama yaitu dengan melakukan tes darah. Lalu untuk waktunya?

Lembaga American Heart Association (AHA) menyarankan setiap orang yang berusia di atas 20 tahun untuk melakukan pengecekan kolesterol setiap 4 sampai 6 tahun sekali.

Jika kadar kolesterol sebelumnya diketahui normal, maka kamu disarankan untuk melakukan pengecekan setiap 5 tahun sekali. Namun, jika kadar kolesterol sudah melebihi ambang batas, tentunya kamu harus lebih ketat dalam menjadwalkan pengecekan.

Adapun kadar kolesterol diukur dengan cara menghitung kadar lemak di dalam darah. Hal yang perlu diwaspadai adalah angka LDL (low-density lipoprotein) sebagai tolok ukur normal atau tidaknya kesehatan kardiovaskular-mu.

Menurut Healthline.com, kadar LDL yang diperbolehkan adalah 100 mg/dL ke bawah dan yang termasuk tinggi adalah 160 mg/dL ke atas. Jika angka LDL tinggi, kamu perlu mengawasi kadar trigliserida agar tidak melebihi 200 mg/dL karena artinya risiko penyakit jantungmu semakin tinggi.

Lalu ada juga angka HDL (high-density lipoprotein) yang menunjukkan tipe kolesterol 'baik'. Tipe ini bisa membantu membuang kolesterol berlebih dalam darah yang biasanya jadi penyebab penyumbatan.

Adapun kadar HDL ideal adalah 60 mg/dL dan dikatakan rendah jika angkanya di bawah 40 mg/dL. Kamu mungkin akan diminta untuk berpuasa dari makan dan minum selama 8 jam sebelum tes darah dilakukan demi mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Selain rutin melakukan pengecekan kolesterol, kamu juga bisa mencegah penyakit yang berbahaya ini dengan rutin meminum hemaviton Cardio. Pasalnya hemaviton Cardio merupakan suplemen kesehatan pertama di Indonesia yang mengandung phytosterol.

Phytosterol merupakan bahan alami yang dapat melakukan pencegahan dini sebelum kolesterol masuk ke dalam darah. hemaviton Cardio mengandung phytosterol 500 mg dan diperkaya dengan suplementasi vitamin dan mineral antioksidan seperti vitamin C, E, B3, Zinc dan Selenium untuk memelihara kesehatan tubuh.

Kolesterol Tak Punya Gejala Khas, Yuk Rutin Check Up

Dengan mengonsumsi hemaviton Cardio secara teratur maka kolesterol dalam darah khususnya kolesterol total dan kolesterol LDL akan menurun. Dari beberapa penelitian, kurang lebih 1500 mg adalah dosis efektif per hari agar phytosterol efektif mampu menurunkan kolesterol.

Bila perlu, hemaviton Cardio bisa dikonsumsi secara rutin, 3 kali sehari setiap saat makan. Untuk hasil efektif, penggunaan produk harus disertai dengan diet rendah lemak dan olahraga teratur.

Kamu juga harus melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap kolesterol darah secara berkala. Kemudian, seimbangkan juga gaya hidup dan pola makan agar tubuh tetap sehat. (adv/adv)