Jumat, 15 Mei 2020 00:00 WIB

Potensi Jamur Cordyceps Militaris untuk Proteksi Awal COVID-19

Advertorial - detikHealth
adv kalbe
Jakarta -

Dunia terus mencari solusi untuk mencegah dan mengatasi pandemi virus Corona (COVID-19). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menemukan obat yang tepat bagi virus jenis baru tersebut.

Di Indonesia, obat tradisional merupakan salah satu alternatif yang banyak dipertimbangkan dan terbukti dari semakin langkanya bahan-bahan baku obat tradisional yang memiliki potensi untuk mencegah serangan virus.

Berbagai informasi beredar dimasyarakat tentang khasiat obat-obatan traditional yang disinyalir dapat meningkatkan sistem imun untuk menangkal corona. Namun, semua herbal belum tentu memiliki kemampuan menghambat penggandaan virus secara langsung dan sekaligus memiliki kemampuan sebagai antiinflamasi untuk mengatur keseimbangan reaksi sistem imun.

Guru Besar Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., melakukan suatu kajian menarik mengenai salah satu bahan baku obat tradisional, yaitu jamur cordyceps militaris yang disinyalir memiliki potensi sebagai penangkal serangan virus dalam tubuh kita.

Apa Itu Jamur Cordyceps?

Jamur Cordyceps telah lama dikenal sebagai obat tradisional di Asia Timur dan merupakan salah satu komponen utama dalam obat traditional China karena kemampuannya untuk mengobati berbagai penyakit seperti kanker, tonik, dan berbagai jenis penyakit lainnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, salah satu jamur cordyceps, yaitu cordyceps militaris sudah dapat diperbanyak dengan menggunakan kultur jaringan.

Jamur ini mengandung beberapa senyawa aktif yang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan yaitu :

  • Adenosine, senyawa yang berpotensi sebagai antivirus.
  • Cordycepin, senyawa yang memiliki sifat sebagai antiinflamasi dan antivirus.
  • Polisakarida yaitu senyawa yang memiliki aktivitas imunomodulator, antioksidan, anti-tumor dan anti-aging.
  • Asam amino dan Asam lemak

Fungsi Antivirus pada Jamur Cordyceps militaris

Berdasarkan kajian Prof. Widodo, kandungan dua senyawa aktif, adenosin dan cordycepin pada jamur cordyceps militaris, memiliki struktur yang mirip dengan obat virus Galidesivir, antivirus yang disinyalir cocok untuk virus Corona (Gambar 1).

Berdasarkan informasi dari perusahan pengembang Galidesivir,BioCryst, menyampaikan bahwa obat ini dikembangkan untuk terapi penyakit Marburg virus dan Yellow Fever dan sudah dinyatakan aman setelah uji klinis fase 1.

Galidesivir juga memperlihatkan efektif untuk terapi lebih dari 20 jenis virus RNA, seperti filovirus, togavirus, bunyavirus, arenavirus, paramyxovirus, coronavirus and flavivirus pada uji laboratorium. Namun masih memerlukan uji klinis lanjutan untuk mengetahui manfaatnya pada manusia. Berdasarkan prediksi menggunakan analisis bioinformatik menunjukkan bahwa adenosin dan cordycepin memiliki potensi sebagai antivirus, berinteraksi dengan protein reseptor G, ion chanel modulator, kinase inhibitor dan enzyme inhibitor (Gambar 2).

Hal yang sangat menarik adalah sifat dari adenosin, salah satu senyawa aktifnya memiliki fungsi sebagai vasodilator, baik hasil prediksi bioinformatik dan ulasan beberapa referensi ilmiah. Sifat fungsional dari senyawa aktifnya ini memberikan petunjuk bahwa jamur ini merupakan herbal yang memiliki kemampuan yang bekerja secara sistemik melalui multi mekanisme didalam sel.

adv h2

Berbagai Manfaat Lain Jamur Cordyceps

Selain sebagai antivirus, jamur ini memiliki potensi kesehatan melalui beberapa mekanisme kerja, seperti:

  • Mengurangi gejala sesak atau ganguan pernapasan

Beberapa referensi menerangkan bahwa adenosin yang bekerja pada reseptor ADORA berperan mengontrol sistem imun, sirkulasi dan respirasi di dalam sel tubuh manusia, sehingga cordyceps militaris memiliki potensi untuk mengurangi gejala sesak atau ganguan pernafasan, seperti asma dan akibat infeksi virus.

  • Imunoregulator dan Antioksidan

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa polisakarida dari Jamur ini dapat membantu melawan penyakit karena dapat meregulasi kerja sistem imun tubuh atau disebutkan imunoregulator.

Selain itu, penelitian lain juga menyebutkan, polisakarida pada cordyceps militaris juga mengandung aktivitas antioksidan yang baik untuk kesehatan karena dapat menangkal radikal bebas.

  • Antiinflamasi atau anti peradangan

Inflamasi merupakan salah satu upaya tubuh untuk melawan berbagai agen penyebab infeksi, seperti bakteri, jamur, dan virus. Akan tetapi, dalam beberapa kondisi, proses inflamasi terjadi secara kronis (lama) dan berlebihan sehingga justru buruk bagi tubuh karena dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker. Cordyceps diketahui dapat mengurangi proses inflamasi berlebihan di dalam tubuh sehingga membuat jamur ini dikenal sebagai suplemen antiinflamasi.

Benarkah Cordyceps Militaris Berpotensi Tangkal COVID-19?

Virus COVID-19 diduga menyerang reseptor Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang banyak terdapat pada saluran pernapasan manusia. Setelah masuk kedalam sel, virus ini kemudian membajak sistem di dalam sel untuk memperbanyak diri, kemudian merusak sel di sekitarnya yang berdampak pada penurunan fungsi paru-paru. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, maka dapat berlanjut menjadi gagal napas yang dapat mengakibatkan kematian.

Proses infeksi virus ini akan direspons oleh sistem imun tubuh dengan memproduksi sitokin untuk membunuh virus. Namun,produksi sitokin ini kadang berlebihan dan disinyalir meningkatkan tingkat keparahan COVID-19.

Oleh karena itu, dua potensi terapi untuk mencegah infeksi dan perburukan penyakit COVID-19 ini dilakukan, baik dari perlawanan terhadap virus, maupun upaya menekan aktivitas berlebihan dari sistem imun.

Kabar baiknya, kedua sifat itu ada pada jamur cordyceps militaris. Jamur ini berpotensi menghambat perkembangan virus Corona di dalam tubuh sekaligus dapat berperan sebagai antiinflamasi dan imunomodulator (Gambar 3). Walaupun masih diperlukan berbagai penelitian lanjutan dan belum sampai pada uji klinis, C. militaris memiliki potensi yang sangat baik untuk membantu menangkal virus..

(Gambar 3)(Gambar 3)

----------pustaka-----

2https://en.wikipedia.org/wiki/Cordyceps_militaris. 3Park, J. G. et al. e8474703 (2017). 4Paterson, R. R. M. Phytochemistry 69, 1469-1495 (2008). 5Yu, R. et al. Fitoterapia al. Fitoterapia 75, 662-666 (2004). 6Hur, H. Mycobiology 36, 233-235 (2008). 7Zhang, J. et al. Int. J. Biol. Macromol. 132, 906-914 (2019). 8BioCryst Pharmaceuticals. 9Singh, S. & McKintosh, Adenosine. in StatPearls(2020). 10Lee, J. S. & Hong, E. K. Int. Immunopharmacol. 11, 1226-1233 (2011). 11Lee, J. S. et al. Carbohydr. Polym. 120, 29-37 (2015). 12Han, J. Y. et al. J. Ethnopharmacol. 127, 55-61 (2010). 13Yu, R. et al. Carbohydr. Polym. 70, 430-436 (2007). 14Zhang, Y. et al. Carbohydr. Polym. 235, 115969 (2020). 15Nan, J.-X. et al. Arch. Pharm. Res. 24, 327 (2001). 16Masuda, M. et al. J. Biosci. Bioeng. 108, S140 (2009). 17Wang, M. et al. Int. J. Biol. Macromol. 59, 178-183 (2013). 18Won, S.-Y. & Park, E. J. Ethnopharmacol. 96, 555-561 (2005). 19Kim, H. G. et al. Eur. J. Pharmacol. 545, 192-199 (2006). 20Reis, F. S. et al. Food Chem. Toxicol. 62, 91-98 (2013). 21Sun, Y. et al. J. Food Drug Anal. 22, 463-467 (2014). 22Chu, H.-L. et al. Food Chem. 129, 871-876 (2011). 23Hashimoto, K. & Simizu, B. Arch. Virol. 52, 341-345 (1976). 24Becker, Y. Pharmacol. Ther. 10, 119-159 (1980). 25Mahy, B. W. J. et al. Nature. New Biol. 243, 172-174 (1973). 26Ueda, Y. et al. Biochem. Biophys. Res. Commun. 447, 341-345 (2014). 27Ohta, Y. et al. J. Agric. Food Chem. 55, 10194-10199 (2007). 28Guo, Y.-R. et al. Mil. Med. Res. 7, 11 (2020).

(Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc./-)