Selasa, 07 Sep 2021 00:00 WIB

Ini Saran Dokter untuk Penyintas COVID yang Keluhkan Nyeri Kepala

Advertorial - detikHealth
adv mayapada Foto: Shutterstock
Jakarta - Gejala berkelanjutan atau post covid syndrome dirasakan oleh sejumlah penyintas COVID-19. Salah satu gejala yang mendera beberapa penyintas usai dinyatakan sembuh dan negatif dari virus Corona, yakni nyeri kepala.

Dokter Spesialis Saraf Mayapada Hospital Jakarta Selatan Lebak Bulus dr Sheila Agustini, Sp.S menerangkan nyeri kepala pada penyintas COVID merupakan bentuk dari sindrom neurologi pasca-COVID atau disebut Post Covid Neurological Syndrome (PCNS). Selain nyeri kepala, masalah PCNS bisa juga menyebabkan kehilangan indra penciuman, atau nyeri otot yang berkepanjangan.

Dijabarkan dr Sheila, nyeri kepala yang masih dirasakan usai sembuh dari COVID-19 dapat disebabkan oleh banyak hal seperti faktor inflamasi atau peradangan yang terjadi sebagai efek menyeluruh dari infeksi COVID, efek virus yang menyerang langsung ke sistem saraf, kurang cairan (dehidrasi), kekurangan oksigen (hipoksia) serta dapat dipicu oleh stres psikologis di situasi pandemi.

"Selain itu, pasien-pasien yang mengalami gejala pasca infeksi COVID ini kadang sudah memiliki penyakit lain sebelum terinfeksi COVID. Contohnya ada riwayat migrain, sakit kepala jenis tension headache, gangguan saraf terjepit di leher dan lainnya. Nah, semua gejala-gejala sebelum COVID ini bisa saja diperberat dengan infeksi COVID dan masih berlanjut setelah terjadinya infeksi," terang dr Sheila kepada detikcom.

Ia menguraikan dalam perawatan pasien yang mengalami nyeri kepala pasca-COVID, dibutuhkan pemeriksaan komprehensif untuk mengetahui penyebab dari gejala tersebut. dr Sheila meluruskan, masalah nyeri kepala yang dirasakan usai sembuh dari COVID-19 tidak bisa langsung diartikan ada kerusakan organ saraf pada pasien.

Maka dari itu, sebaiknya penyintas COVID segera memeriksakan kondisinya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. dr Sheila mengatakan untuk menangani pasien yang mengalami nyeri kepala usai COVID-19, dokter harus menelusuri riwayat kesehatan orang tersebut agar dapat menentukan tindakan lanjutan.

"Dari situ (wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik) dokter baru bisa menentukan, apakah dia perlu pencitraan untuk melihat gambaran struktur sistem saraf lebih jelas dengan CT Scan atau MRI. Pemeriksaan laboratorium darah dapat dilakukan sesuai indikasi. Jadi antara satu pasien dengan pasien yang lain tidak bisa disamakan, tergantung hasil wawancara dan pemeriksaan fisik masing-masing pasien." papar dr Sheila.

Mayapada Hospital memiliki Post Covid Recovery & Rehabilitation Center (PCRR Center) yaitu layanan komprehensif dan multispesialisasi untuk penyintas COVID-19 yang masih memiliki gejala sisa. Untuk menggunakan layanan PCRR Center, pasien dapat melakukan appointment H-1 melalui call center Mayapada Hospital di 150770.

Diungkapkan dr Sheila layanan PCRR diberikan kepada para pasien yang kondisi kesehatannya masih belum kembali pulih seperti sediakala. Mereka akan mendapatkan perawatan untuk mengatasi gejala long COVID dari dokter spesialis sehingga bersifat multi-disipliner.

Para pasien yang mengalami masalah neurologis atau PCNS akan dirawat oleh dokter spesialis saraf. dr Sheila mengulas, untuk pasien dengan PCNS akan diberikan penanganan untuk masalah kognitif, non-kognitif, ataupun keduanya. Masalah kognitif yang dialami pasien COVID bisa berupa kesulitan berkonsentrasi, penurunan daya ingat, brain fog, dan sebagainya. Sementara itu, masalah non-kognitif meliputi nyeri kepala atau kehilangan indra penciuman dalam waktu lama.

"Kita akan berusaha mencari ada masalah apa, (dilakukan) screening masalah saraf pada penyintas COVID ini. Mungkin saja masalah pada pasien itu tidak hanya satu, pasien dapat memiliki beberapa masalah di bidang neurologi seperti vertigo, nyeri kepala maupun gangguan memori," kata dr Sheila.

"Karena PCNS ini juga suatu terminologi baru, memang belum banyak penelitian yang dikhususkan untuk ini. Tapi secara umum, terapi yang diberikan oleh tim saraf adalah bersifat suportif, apa keluhannya apa gejalanya kita akan berikan tatalaksana untuk gejala itu agar kualitas hidup pasien pasca infeksi COVID dapat menjadi optimal kembali. Kita juga akan berusaha memulihkan sistem sarafnya," imbuh dr Sheila.

Sementara itu, menyoal penyebab pasien COVID-19 yang telah sembuh mengalami gangguan kognitif yang cukup serius, dr. Sheila menjelaskan hal itu bisa disebabkan berbagai faktor, seperti berat ringannya infeksi COVID-19. Bisa juga karena faktor komorbiditas atau penyakit sebelumnya seperti hipertensi, diabetes, serta usia lanjut.

"Sebagai contoh misal ada lansia yang terkena COVID, meskipun mungkin gejala COVID yang diderita ringan, risiko terjadi gangguan kognitif jauh lebih besar disbanding pasien usia muda," sebut dr. Sheila.

Selain itu, Mayapada Hospital juga memiliki fasilitas telekonsultasi sebagai solusi layanan tanpa tatap muka.

Sebagai informasi, pada bulan Oktober 2021 Mayapada Hospital akan membuka cabang di Kota Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya di Jalan Mayjen Sungkono No 20, Surabaya Barat. Masyarakat Surabaya dapat mengunjungi rumah sakit tersebut untuk melakukan skrining rutin dan mengunjungi poli Post Covid Recovery and Rehabilitation Center (PCRR Center). (adv/adv)