Kamis, 23 Sep 2021 00:00 WIB

Ini Kata Dokter soal Naiknya Kadar Gula Darah pada Penyintas COVID-19

Advertorial - detikHealth
adv mayapada Foto: Shutterstock
Jakarta - Virus Corona diketahui tak hanya menyerang sistem pernapasan. Beberapa literatur dan penelitian menunjukkan efek dari infeksi virus ini juga mempengaruhi kondisi kesehatan organ penting lain dalam tubuh, salah satunya menyerang pankreas sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah setelah terinfeksi COVID-19.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin-Metabolik-Diabetes Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Herry Nursetiyanto, SpPD, KEMD menjelaskan bahwa telah ditemukan kasus-kasus baru dengan adanya pasien yang mengalami kenaikan gula darah pasca terinfeksi COVID-19. Padahal, pasien tersebut tidak memiliki riwayat diabetes maupun faktor risiko diabetes sebelumnya.

Ia mengatakan ada beberapa hal yang menyebabkan kadar gula darah naik pasca terinfeksi COVID-19. Pertama, virus Sars-CoV-2 tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga bisa menyerang berbagai organ penting lain dalam tubuh, seperti otak, paru, ginjal, hati, jantung, bahkan di organ pencernaan dan lain-lain.

Dalam kasus penyakit diabetes, salah satu teori menyatakan bahwa virus COVID-19 yang menginfeksi tubuh manusia dapat menimbulkan peradangan atau inflamasi yang menyebabkan resistensi insulin sehingga kerja insulin menjadi terhambat/terganggu .

"Resistensi insulin itu adalah suatu kondisi di mana insulin tidak bisa bekerja secara optimal untuk menurunkan kadar gula darah walaupun jumlahnya relatif cukup. Kerja insulin menurunkan kadar gula darah melalui suatu proses. Proses ini terhambat oleh terjadinya peradangan akibat infeksi virus COVID-19. Sederhananya, proses peradangan karena virus COVID-19 menyebabkan kerja insulin tidak baik sehingga gula darah tidak bisa turun menuju normal," papar dr Herry kepada detikcom.

Kadar gula darah yang meningkat juga bisa disebabkan oleh salah satu obat yang diberikan pada saat perawatan pasien yang terinfeksi COVID-19 untuk menghentikan proses peradangan yang terjadi.

dr Herry mengatakan bahwa pada saat perawatan, pasien mendapatkan obat kortikosteroid untuk mengatasi proses peradangan akibat infeksi virus COVID-19. Obat ini memiliki efek samping yang menyebabkan kadar gula darah meningkat. Akan tetapi, jika cadangan insulin pada tubuh dalam keadaan baik, kadar gula bisa kembali menurun setelah pengobatan dengan kortikosteroid berakhir.

Selanjutnya, dari salah satu penelitian, pada pankreas pasien yang meninggal karena corona virus menunjukkan bahwa virus dapat menginfeksi sel Beta pankreas yang memproduksi insulin dan menyebabkan kematian sel Beta atau mengubah cara kerjanya. Sehingga perubahan kenaikan kadar gula darah pada penyintas COVID-19 juga bisa terjadi karena adanya kerusakan pankreas akibat infeksi.

dr Herry menambahkan meski terdapat bukti adanya hubungan antara virus corona dengan munculnya kasus baru diabetes pasca infeksi COVID-19 terus berkembang, masih banyak hal yang belum diketahui. Menurutnya, belum bisa diyakini apakah infeksi virus corona secara langsung menyebabkan diabetes itu sendiri atau kah ada faktor lain yang dapat menjelaskan hubungan tersebut.

Terakhir, kenaikan kadar gula darah bisa dipicu oleh pola makan dan gaya hidup yang kurang baik selama pandemi pada orang dengan status pre-diabetes (kadar gula darahnya sedikit meningkat namun belum termasuk kriteria diabetes). Sehingga saat terserang infeksi virus COVID-19 akan lebih mudah mengalami kenaikan kadar gula darah dalam tubuh yang menetap .

Ia menerangkan bahwa gejala peningkatan kadar gula darah hampir tidak dirasakan oleh sebagian besar orang, kecuali dengan pemeriksaan kadar gula darah. Sementara, peningkatan gula darah pada penyintas COVID-19 terjadi dalam waktu yang relatif cepat, tak seperti pada penderita diabetes yang biasanya merasakan adanya gejala 3P (Polidipsia, Poliuria, Polifagia) yaitu banyak minum, banyak buang air kecil dan banyak makan yang muncul secara perlahan .

Untuk itu, penting sekali bagi penyintas COVID-19, baik yang pernah dirawat di rumah sakit maupun yang melakukan isolasi mandiri di rumah, untuk memeriksakan kadar gula darahnya pasca terinfeksi COVID-19. Selain memeriksa kadar gula darah, pasien juga bisa memeriksa kadar HbA1c (Hemoglobin A1c) yang akan menunjukkan rekam jejak rata-rata gula darah dalam 3 bulan terakhir. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mengetahui apakah peningkatan kadar gula darah terjadi karena infeksi COVID-19 atau sudah ada sebelumnya.

Ia mengatakan pemeriksaan ini sangat penting untuk meminimalisir akibat dari diabetes, yakni munculnya risiko komplikasi pada organ tubuh dengan segera mengendalikan kadar gula darah bila ditemukan adanya diabetes.

"Kalau orang dengan kadar gula menetap di atas 200 dalam waktu yang lama itu dan tidak terdeteksi, terjadi yang namanya disfungsi endotel atau kerusakan dinding pembuluh darah karena kadar gula yang tinggi dan terus menerus. Kerusakan dinding pembuluh darah ini dapat merupakan kondisi awal terjadinya aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Ini yang nantinya bisa menjadi dasar terjadinya gangguan pada pembuluh darah. Kalau ada lemak yang menempel di sekitar dinding pembuluh darah dan terlepas, kemudian menyumbat aliran darah, maka akibatnya akan terjadi serangan jantung dan stroke, inilah yang kita sebut salah satu komplikasi diabetes," jelasnya.

Menurut dr Herry, ketika seseorang sudah melakukan deteksi dini penyakit diabetes, barulah dapat dilakukan penanganan yang tepat untuk menekan risiko komplikasi ini. Biasanya pada 1-3 bulan pertama, dokter akan menganjurkan pasien untuk mengubah gaya hidup (lifestyle modification), seperti mengatur diet dan pola makan, menurunkan berat badan, serta berolahraga. Jika langkah ini belum berhasil, dokter akan memberikan treatment berupa pemberian obat sampai ke suntikan insulin.

"Tapi semuanya harus jalan bareng, baik perubahan gaya hidup sehat dan pengobatan yang diberikan. Yang penting adalah konsep berpikir pasien. Jangan berpikir bahwa kalau sudah minum obat, makan gula jadi bebas. Tidak begitu, karena diabetes adalah penyakit kronik. Jadi begitu terdiagnosis dia akan ada terus menerus . Cuma statusnya yang beda, terkontrol atau tidak yang berpengaruh pada risiko komplikasi di masa datang," terangnya.

Untuk pengobatan, dr Herry juga menekankan pengobatan diabetes harus disesuaikan dengan kondisi klinis dari masing masing pasien dan tidak boleh sembarang dilakukan oleh masing-masing orang.

"Karena walaupun sama-sama menyandang diabetes, bisa terjadi adanya perbedaan usia, lama diabetesnya berbeda, komplikasi yang dialami juga berbeda. Yang tahu adalah dokter untuk menentukan obat yang sesuai bagi pasien. Obat diabetes itu macamnya banyak, inilah peran dokter untuk memberikan obat berdasarkan data yang ditemukan saat pemeriksaan pasien," tegasnya.

"Untuk penyintas COVID-19, risiko diabetes ada terutama untuk orang yang punya riwayat diabetes di keluarga dan faktor risiko diabetes. Pasca COVID-19 ada baiknya ke dokter untuk melakukan pemeriksaan gula darah agar bisa ditangani dengan cepat apabila diketahui ada peningkatan," pungkasnya.

Sebagai informasi, Mayapada Hospital memiliki Post COVID Recovery & Rehabilitation Center (PCRR Center). Fasilitas ini akan memberikan layanan komprehensif dan multispesialisasi untuk penyintas COVID-19 yang masih memiliki gejala sisa. Untuk menggunakan layanan PCRR Center, pasien dapat melakukan appointment H-1 melalui Call Center Mayapada Hospital di 150770.

Selain itu, Mayapada Hospital juga memiliki fasilitas telekonsul dan di kuartal IV 2021 ini, Mayapada Hospital akan membuka cabang baru di Surabaya untuk memberi layanan kesehatan di wilayah tersebut. (adv/adv)