Selasa, 28 Sep 2021 00:00 WIB

Orang Obesitas Tak Dianjurkan Olahraga Melompat & Lari, Ini Alasannya

Advertorial - detikHealth
adv mayapada Foto: Shutterstock
Jakarta - Bukan menjadi rahasia umum jika olahraga teratur bisa membantu menyukseskan program penurunan berat badan. Namun, bagi orang yang obesitas, olahraga jenis apa yang dianjurkan?

Menurut World Health Organization (WHO), obesitas dalam istilah medis dapat diartikan sebagai penumpukan lemak secara kronis atau berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi masuk dan energi keluar dalam waktu lama.

Obesitas juga tidak melulu soal kelebihan berat badan. Orang yang terlihat biasa saja juga dapat mengidap obesitas. Badannya terlihat seperti biasa atau dalam istilah medis disebut skinny fat atau normal weight obesity. Artinya, dari Indeks Masa Tubuh (IMT) terlihat normal, berat badan terlihat normal, namun ternyata setelah ditimbang dengan timbangan yang ada fat percentage atau persen lemaknya, ternyata cukup tinggi.

Menurut dokter spesialis olahraga Rumah Sakit Mayapada, dr. Grace Joselini Corlesa, MMRS., Sp. KO, orang dengan obesitas sangat diwajibkan untuk berolahraga. Namun dengan catatan olahraga yang sudah disesuaikan atau dimodifikasi.

"Jadi harus terdapat exercise prescription atau resep yang akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu, usianya, hingga kondisi anatomi yang dalam hal ini berat badannya. Anatomi ini juga dilihat dari bentuk kaki, posturnya, dan lain sebagainya," ujar dr. Grace kepada detikcom, Rabu (22/9/2021).

Namun menurut dr. Grace, secara umum olahraga atau latihan yang dianjurkan biasanya adalah semua komponen latihan. Artinya, ada komponen kardio, latihan beban atau resistance menggunakan dumbbells untuk pembakaran lemak, dan latihan fleksibilitas seperti stretching.

"Nah pada latihan kardionya itu nanti kita pilihkan, misalnya yang secara umum, tidak boleh latihan yang meliputi melompat-lompat atau berlari, karena dalam olahraga tersebut lutut kita akan menahan berat badan kita 2 hingga 5 kali lipat dari berat badan kita. Jadi kebayangkan bagaimana orang dengan obesitas melompat berapa beban yang harus ditanggung oleh lututnya," ujar dr. Grace.

dr. Grace menambahkan, untuk pilihan dalam olahraga kardio, ada olahraga sepeda atau elliptical, berenang, dan jalan cepat. Namun, menurutnya bukan olahraga yang menjadi tujuan awal, melainkan untuk membiasakan agar aktif terlebih dahulu.

Lebih lanjut, mengenai durasi olahraga, dr. Grace menyarankan untuk kardio minimal di 30 menit, dan juga tetap mengikuti rekomendasi latihan secara umum yakni 150 menit per minggu, supaya tercapai target lemaknya.

"Mulainya boleh bertahap, boleh dari intensitas ringan dulu, kemudian ditingkatkan sampai intensitas sedang secara bertahap," tambah dr. Grace.

Lebih lanjut, menurut dr. Grace, olahraga juga harus berpasangan dengan diet, tidak boleh hanya dengan olahraga saja namun makanannya tidak dijaga, begitupun sebaliknya. Jadi, hal ini menjadi timbangan antara energi masuk (makanan) dan energi keluar (olahraga).

dr. Grace juga menjelaskan hal-hal yang harus dijaga selain olahraga, yang pertama, tidak boleh stress. Sebab, jika ada hormon stres, tubuh menjadi tidak fit sehingga menimbulkan imun yang lemah.

"Karena pada pasien obesitas, kita juga akan sesuaikan dengan usianya, dengan aktivitasnya, yang bisa kita tentukan pasien ini nanti akan mulai olahraga dan latihannya darimana," kata dr. Grace.

Kedua, overtrain atau olahraga berlebih hingga terlalu lelah dan tidak periksa ke dokter. Hal tersebut dapat menimbulkan risiko terkena serangan jantung karena denyut nadinya yang tidak diperhatikan.

"Tetapi yang jangan sampai lupa adalah istirahat supaya tidak jadi overtrain atau olahraga berlebih. Kadang orang melihat olahraga hanya dari masalah cedera, namun jika itu berlebihan juga tidak baik. Istirahat itu merupakan program dari olahraga itu sendiri," pungkas dr. Grace.

Untuk mendukung penderita obesitas berolahraga, Mayapada Hospital Jakarta Selatan memiliki fasilitas Sport & Exercise Medicine Centre. Pusat kesehatan olahraga ini tidak hanya memberikan penanganan secara kuratif, tetapi juga preventif dan rehabilitatif.

Selain itu, sarana Sport & Exercise Medicine Centre ini didukung oleh para ahli berbagai disiplin ilmu, yakni spesialis kesehatan olahraga, ortopedi, dan gizi. Integrasi ini dilakukan agar pasien dapat melakukan latihan fisik dengan baik dan benar, tanpa melupakan pengawasan asupan gizi yang seimbang.

Guna menunjang kebutuhan rehabilitasi pasien, manajemen Mayapada juga menghadirkan treadmill anti gravitasi AlterG, sebagai solusi pasien untuk berolahraga dengan aman dan tanpa rasa sakit. Alat buatan Amerika Serikat ini merupakan treadmill anti gravitasi pertama di Indonesia. Teknologi ini diadaptasi dari teknologi NASA yang sudah dipatenkan.

Alat tersebut bekerja dengan cara mengangkat hingga 80% berat badan seseorang. Pasien dengan kasus cedera mulai dari muskuloskeletal, kasus obesitas, hingga masalah persendian yang sering terjadi pada lansia (lanjut usia) dapat memanfaatkan alat ini.

Sebagai informasi,Mayapada Hospital juga membuka layanan telekonsul terkait penyakit apa pun. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, untuk lebih lengkapnya dapat menghubungi call center 150770.

Selain itu, Mayapada Hospital juga memiliki fasilitas telekonsul dan di kuartal IV 2021 ini, Mayapada Hospital akan membuka cabang baru di Surabaya untuk memberi layanan kesehatan di wilayah tersebut. (adv/adv)