AI dan Teknologi Time-Lapse Dukung Seleksi Embrio pada Program IVF

AI dan Teknologi Time-Lapse Dukung Seleksi Embrio pada Program IVF

sls - detikHealth
Rabu, 02 Sep 2026 19:09 WIB
AI dan Teknologi Time-Lapse Dukung Seleksi Embrio pada Program IVF
Dok: Getty Images/iStockphoto/Antonio_Diaz
Jakarta -

Perjalanan mendapatkan buah hati bagi pasangan dengan masalah kesuburan membutuhkan berbagai pertimbangan, mulai dari kondisi medis hingga pemilihan strategi terapi yang tepat. Seiring perkembangan teknologi kesehatan, program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) kini semakin didukung oleh inovasi yang membantu dokter mengambil keputusan secara lebih akurat.

Salah satu perkembangan yang hadir dalam layanan fertilitas adalah pemanfaatan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu proses seleksi embrio. Teknologi ini digunakan untuk menganalisis data perkembangan embrio sehingga dokter dapat menentukan prioritas embrio yang berpotensi lebih baik untuk ditransfer.

Head of Blastula IVF Siloam Sriwijaya, dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG, Subsp. FER, MIGS, mengatakan penggunaan AI dapat membantu proses pemilihan embrio melalui analisis perkembangan embrio selama berada di laboratorium.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan menggunakan AI, kami dapat memprioritaskan embrio mana yang terbaik untuk ditransfer pertama sehingga nantinya dapat meningkatkan angka keberhasilan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).

Blastula IVF Siloam Sriwijaya mengembangkan layanan fertilitas dengan menggabungkan teknologi, kualitas laboratorium, serta pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Berdasarkan data klinis yang dimiliki, layanan ini mencatat clinical pregnancy rate mencapai 64 persen, melampaui global benchmark sebesar 35 persen. Sejak 2021 hingga saat ini, Klinik Blastula IVF telah membantu proses kelahiran sekitar 600 bayi.

ADVERTISEMENT

AI dan Teknologi Time-Lapse Bantu Pantau Perkembangan Embrio

Dalam proses IVF, pemilihan embrio menjadi salah satu tahapan penting sebelum dilakukan transfer. Selama ini, penilaian embrio umumnya dilakukan berdasarkan morfologi, yaitu melalui pengamatan bentuk dan tingkat perkembangan embrio menggunakan sistem grading. Namun, metode tersebut belum selalu dapat menggambarkan seluruh potensi perkembangan embrio.

Melalui teknologi time-lapse incubator, perkembangan embrio dapat dipantau secara langsung (live) selama proses kultur. Data mengenai pola perkembangan dan perubahan waktu perkembangan embrio atau morfokinetik kemudian dapat dianalisis dengan bantuan AI untuk mendukung proses seleksi.

"Dengan AI itu akan muncul scoring system. Jadi akan muncul suatu prediksi dari AI berdasarkan morfokinetik dan juga morfologi selama perkembangan embrio di dalam time-lapse incubator, score yang kemungkinan besar akan menjadi implant dan bakal jadi baby," jelasnya.

Tidak Hanya Teknologi, Keamanan Proses IVF Juga Jadi Perhatian

Selain membantu seleksi embrio, Blastula IVF Siloam Sriwijaya juga menerapkan sistem electronic witnessing untuk mendukung keamanan proses laboratorium IVF. Sistem ini menggunakan MIRI Evidence, identifikasi berbasis RFID, serta kode data matriks untuk membantu verifikasi identitas dan pencatatan perjalanan embrio.

Sistem tersebut diterapkan mulai dari proses fertilisasi, kultur dan seleksi embrio, kriopreservasi, pencairan embrio, hingga transfer embrio. Dengan adanya sistem ini, proses identifikasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sekaligus membantu meminimalkan risiko kesalahan identifikasi.

"Setiap tahapan IVF harus dapat ditelusuri dengan baik. Dengan sistem ini, proses identifikasi dan pencatatan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Jika terjadi ketidaksesuaian, sistem dapat memberikan peringatan sehingga risiko kesalahan identifikasi dapat diminimalkan," katanya.

Pendekatan Personal Tetap Menjadi Bagian Penting Program IVF

Meski teknologi semakin berkembang, setiap pasien tetap memiliki kondisi yang berbeda. Faktor seperti usia ibu, jumlah dan kualitas sel telur, cadangan ovarium, serta kondisi klinis lainnya menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi terapi.

Karena itu, pendekatan personal menjadi bagian penting dalam perjalanan IVF. Menurut dr. Chakra, teknologi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan program bayi tabung, melainkan perlu didukung kualitas laboratorium, quality control, pengalaman tim medis, serta strategi yang sesuai dengan kondisi pasien.

"Yang paling penting adalah transparansi. Kita (dokter) harus dapat menjelaskan kepada pasien sejak awal mengenai peluang mereka dan bagaimana strategi terapi yang dapat dilakukan. Dengan begitu, pasien memahami bahwa perjalanan IVF mungkin tidak selalu selesai dalam satu kali percobaan," ungkapnya.

Blastula IVF Siloam Sriwijaya melihat teknologi sebagai bagian dari ekosistem layanan IVF yang lebih luas. Melalui kombinasi inovasi teknologi, sistem keamanan laboratorium, serta layanan yang dipersonalisasi, pasien dapat memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan dalam menjalani program kehamilan.

Layanan IVF tersedia di Siloam International Hospitals. Pasangan yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kandungan) Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi untuk menentukan rencana program kehamilan yang tepat.

(Siloam Hospital/sls)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads