Basmi TB dengan Obat Terjangkau

Basmi TB dengan Obat Terjangkau

- detikHealth
Senin, 29 Jun 2009 12:17 WIB
Basmi TB dengan Obat Terjangkau
Jakarta - Penyakit Tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menempati urutan ke-3 di dunia dalam jumlah kasus setelah India dan China. Obat TB dengan harga terjangkau menjadi tuntutan utama untuk membasmi penyakit saluran pernafasan ini.

TB atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit TBC merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Sepertiga penduduk dunia kini telah terinfeksi TB.

Dari data tersebut, 8 juta jiwa terdeteksi sebagai penderita baru dan 3 juta penderita meninggal setiap tahunnya. Tidak ada satu pun negara di dunia yang bebas dari penyakit tuberkulosis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walaupun secara prosentase angka penderita TBC di Indonesia sudah menurun, namun setiap tahun penderita TBC bertambah sekitar 9 juta. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru dan sekitar 140.000 kematian akibat TB.

Seiring dengan visi perusahaan untuk selalu berkontribusi dalam upaya penanganan kesehatan masyarakat, PT Indofarma Tbk terpanggil untuk mempersembahkan produk unggulan dengan menyediakan Obat Anti Tubercolosis (OAT) dengan sistem Kombinasi Dosis Tetap (FDC: Fixed Dose Combination) yang berkualitas.

Pengobatan tuberkulosis berlangsung dalam waktu cukup lama 6-9 bulan dan standar produk yang digunakan harus melakukan uji kesetaraan kualitas dengan produk inovator.

PT Indofarma Tbk juga telah menandatangani MoU dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) pada 5 Juni 2008 bertempat di Hotel Aston, Jakarta. PT Indofarma Tbk diwakili oleh Direktur Pemasaran Muhammad Munawaroh dan PDPI diwakili Prof Dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K).

MoU ini mencakup kerjasama ilmiah dalam rangka pemasaran produk anti Tuberkulosis (TB) yang direkomendasikan oleh PDPI di Indonesia.

Bersamaan dengan penandatanganan nota kesepakatan juga diluncurkan produk baru Indofarma dengan nama dagang Rifazid yang memiliki zat aktif rifampisin dan INH, dan Rifastar dengan zat aktif rifampicin, INH, pyrazinamide dan Ethambutol. Dengan peluncuran dua produk tersebut pasien akan sangat diuntungkan mengingat harganya yang lebih terjangkau.

Indofarma menargetkan penjualan sekitar Rp 6 miliar di tahun pertama. Sebagai informasi, total pasar obat antituberkulosis di tahun 2007 sekitar Rp 215 miliar. Adapun target pasar dari kedua produk baru Indofarma tersebut adalah rumah sakit swasta maupun pemerintah serta dokter praktek swasta yang menanggani pasien TBC.

Direktur Pemasaran Indofarma M. Munawaroh optimistis dua produk baru Rifazid dan Rifastar ini dapat eksis di pasar. Mengingat Indofarma telah melakukan uji bioavaibility dan bioequivalen (uji ketersediaan hayati dan uji kesetaraan hayati) di laboratorium ternama untuk kedua produk tersebut dengan hasil memuaskan yaitu efek terapi produk Indofarma tersebut setara kualitasnya dengan produk inovator.

Rifazid dan Rifastar juga telah diformulasi sesuai dengan pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis dari Departemen Kesehatan tahun 2007. Selain diformulasikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dan dalam dosis tepat sesuai katergori pengobatan, Rifazid dan Rifastar ini merupakan obat Kombinasi Dosis Tetap (FDC).

Hal ini akan lebih menguntungkan bagi pasien karena hanya minum 1 obat (tidak perlu lebih dari 1 obat) sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien karena mampu mengurangi timbulnya resistensi obat yang sering timbul bila diberikan secara monoterapi. (Advetorial Indofarma)

Rekomendasi Obat


(adv/adv)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads